Ir. Lanang Aryawan, MMA.
Ir. Lanang Aryawan, MMA.
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR TIMUR, balipuspanews.com- Kakao Jembrana bak “Putri Cantik Dunia”, yang diburu buyer dunia karena keunggulan kualitasnya. Para petani di Melaya memang sudah melakukan fermentasi, sehingga kualitas kakao dan harga jualnya paling tinggi di Indonesia.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Propinsi Bali, Ir. Lanang Aryawan, MMA., memaparkan Harganya di pasaran lokal berkisaran sekitar Rp 25.000 perkilogramnya untuk non fermentasi dan Rp 31.000 hingga Rp 34.000 untuk fermentasi. Tetapi untuk kakao fermentasi dari Jembrana harganya jauh lebih mahal yaitu mencapai Rp 62.000 perkilogramnya.

Mahalnya kakao asal Jembarana ini kata Lanang karena biji kakao yang dihasilkan besar-besar. Itu artinya kandungan lemak coklatnya banyak. Dalam kakao, lemak coklat inilah yang dicari dan harganya memang mahal. Semakin banyak kandungan lemak coklatnya, semakin mahal harga jualnya. “Dalam penentuan kualitas biji kakao ada yang namanya bean count atau penghitungan biji. Untuk kakao fermentasi, standar bean countnya adalah tidak lebih dari 86 biji untuk berat 100 gram,” ungkapnya. Sementara kakao asal Jembrana bean countnya hanya 77 biji per 100 gram yang artinya bijinya besar dan kandungan lemaknya banyak.

Keberhasilan petani kakao di Jembrana, diharapkan bisa dilakukan oleh petani kakao lain di Bali. Sayangnya, petani kakao di Bali kebanyakan masih mengolah biji kakaonya secara non fermentasi dan lebih banyak tidak melakukan perawatan tanaman bsik pemupukan dan pemangkasan secara rutin.

Akibatnya biji kakao yang dihasilkan sangat kecil dan jauh dibawah standar bean count. Sehingga harga jual jauh lebih rendah dari kakao Jembrana, meski dilakukan fermentasi.

Menjawab persoalan tersebut petani kakao harus melakukan peremajaan tanaman kakaonya. Menurut Lanang, usia tanaman kakao di Bali rata-rata sudah berusia 40-50 tahun. Sementara produksi yang baik untuk tanaman kakao maksimal pada usia 30 tahun dan lebih dari itu memerlukan peremajaan. Sayangnya, masih banyak petani kakao di Bali yang enggan melakukan peremajaan dengan mengaku sayang terhadap tanaman kakao yang lama. ”Tidak disalahkan juga kalau petani menjadi enggan meremajakan tanamannya. Karena mereka tergantung dari hasil penjualan kakao. Jika diremajakan, mereka tidak bisa panen paling tidak dua tahun,” jelas Lanang

Namun bila petani ingin menikmati harga tinggi seperti petani di Melaya, mereka memang harus melakukan peremajaan, perawatan dan fermentasi. Apalagi bila melihat peluang pasar kakao dunia yang begitu besar.

“Serapan komoditi kakao di pasar dunia mencapai 3,2 juta ton per tahunnya. Indonesia sendiri merupakan negara ke-3 penghasil kakao namun hanya bisa memenuhi sekitar 11 persen hingga 13 persen dari kebutuhan tersebut. Hal ini dikarenakan kualitas kakao Indonesia dianggap paling buruk dari semua negara penghasil kakao. Buruknya kualitas kakao di Indonesia karena petaninya jarang ada yang mau mengolah biji kakaonya secara fermentasi. (bud/bpn/tim).