Photo ilustrasi (Ist).
sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com —  Kasus uang palsu (upal) yang diterima salah satu nasabah Bank BRI Unit Seririt, beberapa waktu lalu, cukup menyita perhatian publik. Mencuat spekulasi dugaan keterlibatan oknum di internal bank maupun adanya dugaan rekayasa terkait laporan soal upal itu.

Menghindari adanya kesimpangsiuran, Polres Buleleng mengambil alih penanganan kasus itu dari Polsek Seririt. Hal itu disampaikan Kasubbag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, Jumat (12/7).

Menurut Sumarjaya, kasus laporan upal yang sebelumnya ditangani Polsek Seririt telah diambil alih oleh Satuan Reserse dan Kriminal Polres Buleleng lantaran kasus tersebut bersentuhan dengan instansi lain.

“Karena ini menyangkut upal dan instansi lain maka yang tadinya ditangani Polsek Seririt, kita alihkan penanganan ke Polres Buleleng,” kata Iptu Sumarjaya.

Sejak dilaporkan Senin (8/7) lalu, kasus dugaan upal itu masih dalam tahap proses penyelidikan. Dalam tahap ini sedang dilakukan pendalaman untuk memastikan uang yang dilaporkan palsu memang benar-benar palsu. Selanjutnya, tim penyidik akan fokus pada asal usul upal hingga bisa berproses dalam transaksi di BRI Unit Seririt.

“Kita sedang pendalaman, mencari benar-benar tempat dimana dapat uang ini termasuk waktunya kapan upal itu diperoleh. Itu memerlukan keterangan dari saksi-saksi,” terangnya.

Imbuh Iptu Sumarjaya, terkait jumlah lembaran upal yang dilaporkan, sesuai laporan dari terlapor yang diidentifikasi bernama Ketut Selamet, warga Seririt, sebanyak 28 lembar pecahan Rp 100 ribu-an yang terselip dalam bendelan uang yang diterima dari teller bank.

“Tapi ini belum dipastikan uang palsu, baru diduga. Nanti yang menentukan asli atau palsu adalah ahli dari laboratorium forensik. Pihak penyelidik akan mengambil tindakan itu untuk memastikan kebenarannya,” jelasnya.

Menariknya, dalam keterangan disebutkan, pelapor melakukan pencairan sebesar Rp 50 juta pada Rabu (26/6) di BRI Unit Seririt. Setelah itu, pelapor sempat keluar dari bank untuk membeli BBM  disalah satu SPBU dengan mengunakan uang yang diterima dari teller bank. Hanya saja, uang tersebut ditolak oleh pihak SPBU sehingga yang bersangkutan kembali ke bank untuk menukar dengan yang asli.

“Pihak bank menerima dan mengganti kembali uang yang diduga palsu itu,” imbuhnya.

Setiba dirumah oleh pelapor kembali di cek lembaran yang diterima dan bermaksud menukar kembali ke bank namun ditolak karena telah melebihi batas waktu.

“Ditolak bank karena limit waktu telah lewat. Berkas sudah diterima Sat Reskrim Polres Buleleng dan semua bukti laporan berupa dugaan 28 lembar upal akan diperiksa oleh pihak labfor,” tandasnya.