Kasat Reakrim Polres Klungkung, AKP Mirza Gunawan
Kasat Reakrim Polres Klungkung, AKP Mirza Gunawan

SEMARAPURA, balipuspanews.com – Satreskrim Polres Klungkung, Kamis (1/8) lalu telah merampungkan dan menyerahkan berkas tiga tersangka kasus kekerasan terhadap Ni Ketut APP (15). Kasus ini terus diproses kepolisian, setelah upaya diversi yang dilakukan dengan mempertemukan keluarga korban dan pelaku  tidak menemui kesepakatan damai.

“Kasusnya terus kami proses, berkasnya sudah saya tanda tangani. Serta sudah kami serahkan ke Kejari Klungkung untuk diteliti oleh jaksa,” ungkap Kasat Reakrim Polres Klungkung, AKP Mirza Gunawan, Sabtu(3/8).

Perwira asal Aceh ini menjelaskan, jika berkas sudah dinyatakan lengkap, akan dilakukan penyerahan ketiga tersangka yang masih dibawah umur termasuk barang buktinya. Nantinya pihak kejaksaan wajib melakukan upaya diversi terhadap kedua pihak.

“Walau dikepolisian diversi gagal, nanti di Kejaksaan juga wajib diversi. Jika kembali gagal, diversi akan dilakukan oleh pihak pengadilan. Jika kembali upaya diversi ini gagal, barulah kasus disidangkan,” jelas Mirza Gunawan.

Saat ini, ketiga tersangka yakni Komang P (16), P (16) dan Kadek KD (16) masih harus menjalani wajib kapor di Satreskrim Polres Klungkung setiap hari Senin dan Kamis. Ketiganya tidak ditahan, mengingat usianya yang masih belia sehingga dilakukan upaya diversi.

“Kadang ketiganya datang untuk wajib lapor sendiri, kadang juga diantar orang tua mereka,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polres Klungkung mengamankan tiga tersangka dalam kasus kekerasan terhadap Ni Ketut APP (15), antara lain Komang P (16), P (16) dan Kadek KD (16). Ketiganya diganjar dengan pasal 80 jo Pasal 76 UU 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak dengan ancaman kurungan penjara selama 3 tahun. Namun karena pelaku masih dibawah umur, penyelesaian kasus ini diupayakan diversi. Proses diversi sudah dilakukan kepolisian, Jumat (12/7) lalu dengan mempertemukan pihak korban dan pelaku. Namun pihak korban ingin kasus ini lanjut hingga ke pengadilan, karena video kekerasan yang dialami korban sampai viral di media sosial. (Roni/bpn/tim)