Ilustrasi penggelapan dana pengadaan rumbing. Foto Google

JEMBRANA,balipuspanews.com- Kasus dugaan korupsi pengadaan rumbing atau perhiasan dari kepala kerbau di Jembrana memasuki babak baru. Dua rekanan masing- masing CV Biru Laut dan Cahaya Dewata yang dijadikan patner oleh dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana untuk merealisasikan bantuan dana hibah dari Pemkab Badung tahun 2018 itu mengaku tidak tahu menahu soal bantuan tersebut. Pihak perusahan berdalih nama perusahan hanya dipinjam.

Direktur  CV Cahaya Dewata, I Made Wardani saat dikonfirmasi Rabu (15/5/2019) menjelaskan, perihal runutan proyek pengadaan rumbing senilai Rp 150 juta untuk 60 pasang kerbau di ijogading Barat. Bahkan disebukan pihaknya sama sekali tidak tahu menahu secara pasti.

sewa motor matic murah dibali

“ Yang saya tahunya CV saya dipinjam aja pak. Yang tau persis masalah ini Dinas Pariwisata dan Kebuayaan Jembrana dan Sekaa karena mereka yang langsung menerima uangnya. Kabid Juga tahu persis pak masalah ini. Saya tidak membuat administrasi apa. Saya hanya selaku pembantu hanya memberikan pinjam CV saja dengan menerima sewa uang Rp 6 juta,” katanyan

Dilain pihak CV Laut Biru lewat  I Ketut Wardana saat dikonfirmasi mengatakan, memang untuk pengadaan rumbing  diambil oleh perusahanya. Namun perusahaannya itu hanya dipinjam untuk transit uang Penunjukan Langsung (PL) oleh sekaa, lantaran ketua sekaa makepung blok ijogading timur merupakan teman baiknya. Begitu juga dengan administrasinya juga dibuat oleh pihak sekaa yang meminjam ijinnya.

“ Sebenarnya kami berniat baik meminjamkan CV ini untuk pengadaan 60 pasang rumbing dengan dana sebesar Rp 150 juta yang hanya untuk transit uang saja selebihnya diatur oleh sekaa. Namun nyatanya seperti ini yang terjadi. Kami juga tidak pernah meminta uang miskipun ijin CV kami yang digunakan,” kilahnya

Sementara disisi lain, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana I Nengah Alit mengatakan, sebelum adanya permasalah pengadaan rumbing  makepung ini, berawal dari sekaa makepung yang memohon langsung ke Pemkab Badung pada tahun 2017 namun karena tidak bisa dilaksanakan karena mendesak sehingga dilaksanakan di tahun 2018. Jika dilihat dari tahapan-tahapannya mulai dari pengadaan bagaiana contoh rumbing dan tempat pembuatanya hingga tahapan akhir tidak ada masalah. Bahkan, karena harga rumbing itu mahal dan jumlah sekaa itu banyak sehingga dalam pemberian rumbing diberikan bertahap dengan menunjuk dua CV yakni Biru Laut dan Cahaya Dewata. Setiap tahap baik blok barat maupun blok timur mendapat masing-masing rumbing sebanyak 60 pasang dengan anggaran 150. Jika itu dibagi 60 maka masing masing sekaa atau pemilik kerbau mendapat uang 2,5 juta untuk pembelian rumbing.

“ Karena tidak ada masalah dari tahapan tersebut lantaran saat penyerahan rumbing dan barangnya memang ada. Namun meskipun demikian, kita tetap tunggu dulu hasil pemeriksaan yang dilakukan pihak kepolisian. Saya siap mengikuti semua proses yang ada,” pungkasnya.

Seperti diketahui kasus pengadaan rumbing itu dalam proses penyeldikan Tipikor Polres Jembrana. Pihak kepolisian sedang melakukan pendalaman atas dugaan korupsi tersebut. ( tim/bpn)

 

 

Tinggalkan Komentar...