Minggu, Juli 21, 2024
BerandaJembranaKasus Saling Tantang Dua Kakek Diselesaikan dengan RJ

Kasus Saling Tantang Dua Kakek Diselesaikan dengan RJ

JEMBRANA, balipuspanews.com– Setelah pada mediasi awal, belum ada kesepakatan damai, akhirnya kasus pengancaman yang berawal dari saling tantang duel antara IGA,71, dan IMA,58, diselesaikan dengan metode Keadilan Restoratif Justice (RJ).

Pertemuan yang digelar di Aula Polsek Melaya itu dipimpin Kapolsek Melaya, AKP I Komang Muliyadi, Perbekel Desa Tukadaya, I Made Budi Utama, Bendesa Adat Tukadaya, I Made Ardana dan Kelian Adat Banjar Berawantangi Taman, I Nengah Sudina serta tokoh masyarakat lainya dan kedua belah pihak.

Setelah penyidik memaparkan perkara pengancaman itu dan tanggapan dari masing-masing peserta gelar maka kesimpulan yang dihasilkan, disarankan bahwa penyelesaian perkara pidana ini dapat dilakukan dengan metode Restorative Justice.

Syarat materiil dan formil telah terpenuhi sesuai dengan ketentuan Perpol nomor 8 tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Adapun bukti pendukung dalam penyelesaian perkara berdasarkan keadilan Restoratif adalah antara pihak korban dan tersangka telah berdamai dengan membuat surat pernyataan damai. Kedua belah pihak telah saling memaafkan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

BACA :  PPN Pengambengan Bakal Menjadi Destinasi Wisata Perikanan

“Bukti pendukung dalam penyelesaian perkara yang telah diberkas lengkap oleh penyidik Polsek Melaya, antara lain adalah surat pernyataan perdamaian antara IMA dan IGA serta kesepakatan keduanya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Dengan demikian, syarat materiil dan formil penanganan tindak pidana berdasarkan Keadilan Restoratif telah terpenuhi,” ujar Kapolsek Melaya AKP, I Komang Muliyadi.

Kasus yang melibatkan kedua warga Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya ini bermula saat IGA dan istrinya mencari daun asam lemo di kebun dekat rumah Adnyana pada Selasa (10/10/2023). Saat IGA tak sengaja dilihat oleh IMA, yang menyebutnya “Pak Dalang”.

Kata tersebut memicu kemarahan Adhiyasa, dan ia mencoba mencari benda untuk melempar IMA. Namun, ia hanya menemukan kelapa busuk. Setelah insiden itu, keduanya pulang ke rumah masing-masing, tetapi Adhiyasa masih marah karena dihina dengan sebutan “Pak Dalang.”

Akhirnya, IGA mendatangi rumah IMA dan mengancamnya dengan sebilah kapak. IMA, merasa terancam, mengambil sebilah pedang dan kembali mendatangi IGA. Saat itu nyaris berakhir dalam perkelahian, tetapi IMA dicegah oleh keluarganya dan beberapa warga yang ada di lokasi, sehingga pertarungan bisa dihindari.

BACA :  Tak Kuat Nanjak,Truk Bermuatan Pasir Terjun ke Jurang

Setelah insiden ini, IGA melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Melaya, dan polisi mulai menindaklanjuti.
Awalnya polisi berupaya memediasi, namun IGA tetap ngotot untuk tidak berdamai, sedangkan IMA bersedia meminta maaf dan IMA ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan.

Selanjutnya, penyidik mengumpulkan bukti lebih lanjut, termasuk rekaman CCTV, sehingga IGA, yang juga mantan anggota DPRD Jembrana, ditetapkan sebagai tersangka kedua dan ditahan.

“Semoga penyelesaian perkara ini dapat memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak dan masyarakat sekitar, agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan dan melawan hukum,” harap Muliyadi.

Penulis: Anom
Editor: Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular