Kelian Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Wayan Wissara saat diundang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng bersama Polres Buleleng didampingi Kepala Desa Sangsit, Putu Arya Suyasa dan Ketua Panitia Ogoh-Ogoh, Komang Sudarma, di Kantor Camat Sawan
Kelian Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Wayan Wissara saat diundang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng bersama Polres Buleleng didampingi Kepala Desa Sangsit, Putu Arya Suyasa dan Ketua Panitia Ogoh-Ogoh, Komang Sudarma, di Kantor Camat Sawan

SINGARAJA, balipuspanews.com – Bayar kaul naik menjadi kelihan adat menjadi alasan Kelian Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Wayan Wissara bersikukuh mengusung ogoh -ogoh, namun kaul itu ditunda dengan “Ngaturang guru Piduka” pasca intruksi pelarangan keramaian dari Gubernur Bali, Wayan Koster.

“Tadi pagi pak Gubernur nelpon, saya langsung jelaskan masalahnya. Bukan soal saya memengkung, tetapi ada hal yang mendasar kenapa kita tetap akan melaksanakan pawai ogoh-ogoh. Karena ada semacam sesangi/kaul saat saya naik jadi kelian adat. Nah, untuk membatalkan kan perlu ngaturang guru piduka. Itu duduk persoalannya,” ungkap Kelian Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Wayan Wissara saat diundang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng bersama Polres Buleleng didampingi Kepala Desa Sangsit, Putu Arya Suyasa dan Ketua Panitia Ogoh-Ogoh, Komang Sudarma, di Kantor Camat Sawan, untuk menanyakan soal rencana Desa Adat Sangsit Dauh Yeh melakukan parade ogoh-ogoh seiring terbitnya surat edaran (SE) Gubernur Bali, Wayan Koster untuk meniadakan pengarakan ogoh-ogoh di seluruh Bali.

Meski begitu, Kelian Wissara dengan berbagai pertimbangan, akhirnya sepakat untuk mengikuti SE Gubernur Bali untuk meniadakan pawai ogoh-ogoh dengan syarat tidak ada intimidasi dari berbagai pihak, baik kepolisian ataupun dari pihak pemerintah.

Kelian Wissara pun menghimbau kepada  krama atau sekeha teruna-teruni untuk mematuhi kesepakatan yang sudah diputuskan bersamam

“Kekecewaan pasti ada, namun sudah saya sampaikan agar kekecewaan itu tidak lagi ditunjukkan via medsos atau apapun. Mari kita sepakati bersama hasil keputusan bersama ini,” harapnya.

Sementara sampai saat ini,
tiga Desa Adat di Kabupaten Buleleng, yakni Desa Adat Sangsit Dauh, Yeh Kecamatan Sawan, Desa Adat Poh Bergong dan Desa Adat Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, sepakat untuk membatalkan parade ogoh-ogoh serangkaian Hari Raya Nyepi Saka 1942 di tahun 2020.

Rencananya, Ogoh-ogoh akan diarak di lingkungan desa masing-masing saat pengrupukan pada Selasa (24/3) sore.

Nah, dalam perkembangannya, pada hari Senin (23/3) pagi, pihak

Sementara, Kabag Ops Polres Buleleng Anak Agung Wiranata Kusuma mengapresiasi keputusan pihak Desa Adat Sangsit Dauh Yeh untuk meniadakan pengarakan ogoh-ogoh serabgkaian Hari Raya Nyepi Saka 1942. Pun begitu Desa Adat Jinengdalem dan Desa Adat Poh Bergong sebelumnya sempat bersikukuh bakal melakukan parade ogoh-ogoh.

“Dari hasil kordinasi, dipastikan tiga desa adat di Buleleng, yakni Desa Adat Sangsit Dauh Yeh, Desa Adat Jinengdalem dan Desa Adat Poh Bergong sudah sepakat meniadakan parade atau pengarakan ogoh-ogoh. Ya, semuanya clear tidak ada pengarakan ogoh-ogoh,” terangnya.

Kabag Ops Wiranata meminta masyarakat agar memahami situasi dan kondisi saat ini, dimana pemerintah beserta aparat gencar melakukan upaya pencegahan penyebaran virus Korona yang semakin meluas.

“Saat ini kita sedang menghadapi situasi darurat bencana akibat penyebaran virus corona. Situasi darurat bencana ini berada satu level dibawah darurat militer. Artinya, apapun kepentingan negara untuk masyarakat itu diutamakan dan otomatis hukum diatas segalanya. Ya, posisi hukum menjaga keselamatan masyarakat. Kami harapkan masyarakat paham dan mengerti, dan kami selaku aparat hukum memastikan selalu menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat,” tandasnya. (Nug/BPN/tim)