Rabu, Oktober 21, 2020
Beranda Bali Buleleng Kayehan Dedari di Desa Nagasepeha, Mata Air Suci Untuk Malukat dan Pengobatan

Kayehan Dedari di Desa Nagasepeha, Mata Air Suci Untuk Malukat dan Pengobatan

BULELENG, balipuspanews.com – Wisata spiritual memang tak pernah habisnya jika ditelusuri, bahkan hampir disetiap desa di Bali ada saja tempat unik dan memiliki aura magis yang tidak bisa dijelaskan dengan kasat mata. Kali ini satu tempat pemandian yang berada di Desa Nagasepeha dipercaya memiliki manfaat untuk pengobatan penyakit sekaligus tempat malukat atau pembersihan diri bagi mereka yang yakin dengan hal hal berbau spiritual.

Sebelum mencapai lokasi Kayehan Dedari di Desa Nagesepaha pengunjung bisa memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dari pusat Kota Singaraja. Selama melakukan perjalanan tersebut memasuki desa pengunjung akan disambut sejuknya tiupan angin yang berasal dari pepohonan disepanjang jalan menuju lokasi mata air.

Untuk Lokasi sumber air berada didasar jurang dengan kedalaman sekitar 15 meter yang secara administrasi masuk kewilayah Banjar Dinas Delod Margi Desa Nagasepeha, Kecamatan Buleleng. Dengan sudut kemiringan hampir 70 derajat dan menuruni sekitar 30 anak tangga yang terbuat dari besi untuk mencapai lokasi mata air.

Perbekel Desa Nagasepeha I Wayan Sumeken menuturkan bahwa sebuah mata air suci yang disebut Kayehan Dedari adalah mata air yang dipercaya bisa dipergunakan untuk melukat sekaligus sebagai pengobatan yang muncul dari bawah pohon jelema. Hal ini merupakan sebuah mata air yang disucikan oleh masyarakat sekitar.

Kayehan Dedari tersebut terbilang unik sebab mata air yang muncul dari bawah pohon Kayu Jelema, masyarakat menyebut Kayu Jelema, dikarena getahnya berwarna merah mirip darah, dan kulitnya  dipercaya bisa dijadikan obat.

Selain itu menurut penuturan masyarakat sekitar nama Kayehan Dedari sebetul merupakan sebuah kiasan kata yang berasal dari kata kayeh yang berarti mandi, dan daar yang berarti minum, dimana dari dahulu fungsi sumber air ini adalah untuk keperluan mandi dan air minum masyarakat sekitar yang lambat laun penyebutannya menjadi Kayehan Dedari.

Mata air ini juga tak pernah habis meski digunakan secara terus menerus oleh masyarakat baik untuk diminum bahkan keperluan lainnya. Bahkan tak hanya itu saat ini bagi sebagian masyarakat yang memiliki keyakinan spiritual sering datang untuk melukat ditempat yang dipercaya sebagai mata air yang bisa dijadikan pengobatan.

“Sumber air ini juga bisa dipakai pengobatan dan itu diyakini oleh masyarakat selain warga di Desa Nagesepeha yang datang tidak hanya sekali dua kali ke tempat ini,” jelasnya beberapa hari yang lalu.

Selain dipergunakan untuk keperluan minum, Air di Kayehan Dedari juga dipergunakan untuk melakukan ritual pelukatan dihari-hari tertentu seperti menjelang hari purnama tidak hanya dari warga setempat melainkan warga dari desa lain yang percaya mampu menyembuhkan berbagai keluhan penyakit.

Warga yang memang meyakini hal ini bahkan tidak hanya datang sekali dua kali, untuk melakukan proses melukat sesuai keyakinan mereka, akan tetapi ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar ditempat tersebut yaitu bagi wanita yang masih kotor atau datang bulan tidak disarankan mengunjungi tempat tersebut, selain itu bagi warga atau pemedek yang akan melaksanakan kegiatan apapun disarankan agar tak melepas pakaian.

“Berdasarkan keyakinan makanya yang yakin tentang spiritual bahwa manfaat dari sumber air ini bisa dijadikan pengobatan tersendiri. Banyak juga masyarakat yang luar desa kami untuk ke Kayehan Dedari tidak hanya sekali dua kali tetapi berkelanjutan,” lanjutnya.

Sementara itu kedepan pengembangan Kayehan Dedari akan terus dilakukan salah satunya dengan menata untuk dijadikan sebuah destinasi wisata spiritual, dan berharap dukungan dari masyarakat untuk ikut menata potensi Desa Nagasepeha demi kemajuan bersama.

“Rencana saya kedepan akan mentata sebaik mungkin untuk tempat melukat dan permandian umum akan saya pisahkan,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

- Advertisement -

Kakek Gantung Diri di Gubuk Ditemukan Oleh Cucunya

ABIANSEMAL, balipuspanews.com -Seorang cucu, Putu Darmiati, 23, tidak menyangka menemukan kakeknya, Ketut Sumerta, 65, tewas gantung diri di gubuk sawah di Pondok Subak Munduk...

Kasus Dugaan Pemerkosaan Pelajar, Diduga Terjadi di Lima Tempat Berbeda Oleh 10 Pelaku

BULELENG, balipuspanews.com - Penyelidikan terhadap kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur terus berlanjut. Kasus yang korbannya dibawah umur ini dari hasil penyelidikan sementara...
Member of