Komunitas Biasa Terbiasa (KBT) yang didalamnya terdiri dari para remaja Desa Wongaya Gede, Penebel Tabanan akan melakukan aksi sapu bersih terhadap sampah plastik
Komunitas Biasa Terbiasa (KBT) yang didalamnya terdiri dari para remaja Desa Wongaya Gede, Penebel Tabanan akan melakukan aksi sapu bersih terhadap sampah plastik

TABANAN, balipuspanews.com – Komunitas Biasa Terbiasa (KBT) yang didalamnya terdiri dari para remaja Desa Wongaya Gede, Penebel Tabanan akan melakukan aksi sapu bersih terhadap sampah plastik dalam prosesi pemelastian serangkaian Karya Agung Pangurip Gumi (KAPG) di Pura Luhur Batukaru. Hal tersebut diungkapkan Joka Andika, salah satu aktivis Bisa Terbiasa, Selasa (21/1).

Kepada awak media ini Joka Andika menjelaskan KBT merupakan sebuah komunitas yang terbentuk sekitar setahun lalu di desa Wongaya Gede, Penebel Tabanan. Komunitas ini beranggotakan para pemuda dari desa setempat.

“Komunitas ini terbentuk karena keresahan kami yang melihat belum adanya pengelolaan sampah yang baik di desa kami. Sungai, abing dan tegalan penuh plastik,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, dimulai dengan hanya beberapa orang dan dengan kemampuan yang ada, KBT memulai aktivitasnya memungut sampah plastik sepanjang jalan Desa Wongaya Gede. Komunitas ini juga sempat membuat oven untuk membakar sampah plastik. Menariknya, oven itu dibuat setelah mereka menonton dari media youtube dan dibuat dengan alat seadanya yang ditemuinya disekitar desa setempat.

Diakuinya, alat tersebut tidak berhasil karena kurangnya pengetahuan dan adanya kekurangan alat-alat yang mendukung oven sampah ini. Kemudian pihaknya juga mengajak masyarakat Desa Wongaya Gede untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan. Tidak hanya ajakan, komunitas ini juga memberi contoh dengan memasang kampil disetiap jalan keluar rumah warga.

“Selanjutnya setiap hari minggu pagi sampah-sampah ini kami angkut, kemudian kami pilah. Plastik yang bernilai diambil oleh bank sampah yang ada di Wanasari dan plastik yang tidak bernilai diambil oleh DLH Kabupaten Tabanan yang selanjutnya dibuang ke TPA Mandung,” terangnya.

Joka Andika menambahkan, karena keterbatasan operasional dari DLH Tabanan, pengambilan sampah juga tidak lancar. Meski demikian KBT tidak patah semangat dan tetap melakukan upaya pelestarian alam khususnya menjaga alam dari sampah plastik.

Lebih jauh Joka Andika mengatakan, serangkaian dengan Karya Agung Pengurip Gumi di Pura Luhur Batukau, selaku pengemponnya KBT terpanggil dan menjadi keharusan serta tanggung jawabnya untuk ikut mensukseskan karya agung tersebut. Adapun perannya, mengambil peran yakni dengan melakukan aksi bersih-bersih disekitar pura dan Desa Wongaya Gede. Termasuk juga dengan menyediakan tong sampah berupa drum-drum bekas yang didapatnya dari para donatur. Tong sampah tersebut disediakan disekitar parkir bawah Pura Luhur Batukau.

“Tujuan kami agar masyarakat atau pemedek bisa membuang sampah ditempatnya. Untuk lebih mensosialisasikan buang sampah pada tempatnya, kami jugq memasang spanduk dan baliho yang kami dapat dari teman-teman asal tabanan dan yang ada kaitan dengan Tabanan, yang bergerak diindustri kreatif,” ujarnya.

Sekaligus pula mengklarifikasi berita terkait bertebarnya pemasangan spanduk di pohon pada jalur pemelastian Ida Bethara Batukau yang dimuat media ini pada Senin (20/1) Joka Andika menyebutkan pihaknya memang memasang spanduk kecil dengan ajakan untuk tidak buang sampah sembarangan disepanjang jalur pemelastian dari Pura Luhur Batukau hingga segara Tanah Lot.Spanduk itu dibagikannya kesetiap desa adat yang dilalui dan dipasang oleh desa setempat.

“Kami juga meminta memasang tempat sampah atau kantong sampah didepan rumah atau sepanjang jalur pemelastian. Tujuan kami hanya satu, ikut berkontribusi dalam KAPG dan kami ingin melakukan implementasi nyata dari karya agung tersebut. Apabila dalam perjalanannya ada hal yang membuat pihak lain merasa terganggu, kami mohon maaf dan kami juga mohon dibimbing agar hal kecil yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi pelestarian alam,” imbuhnya.

Disebutkannya juga prosesi pemelastian yang akan berlangsung mulai tgl 29/1 selama tiga hari dengan cara berjalan kaki dari Luhur Batukau – Tanah Lot – Luhur Batukau, akan melibatkan puluhan ribu umat. Kemungkinannya, tentu ini akan mendatangkan sampah plastik. Terhadap kemungkinan tersebut Joka Andika dan anggota Komunitas Bisa Terbiasa serta para pemerhati lingkungan lainnya akan menjadi tim sapu bersih sampah plastik.

“Ya, dalam prosesi tersebut kami akan mengambil posisi paling belakang untuk memungut sampah-sampah plastik,” tutupnya. (Rah/BPN/tim)