Ratusan pemuda Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan yang tergabung dalam Komunitas Bisa Terbiasa (KBT) menunjukkan komitmennya memerangi sampah plastik, khususnya dalam menyukseskan Karya Agung Pengurip Gumi (KAPG).
Ratusan pemuda Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan yang tergabung dalam Komunitas Bisa Terbiasa (KBT) menunjukkan komitmennya memerangi sampah plastik, khususnya dalam menyukseskan Karya Agung Pengurip Gumi (KAPG).

TABANAN, balipuspanas.com – Ratusan pemuda Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan yang tergabung dalam Komunitas Bisa Terbiasa (KBT) menunjukkan komitmennya memerangi sampah plastik, khususnya dalam menyukseskan Karya Agung Pengurip Gumi (KAPG).

Hal tersebut terlihat saat anggota KBT ngayah mareresik saat Ida Bethara Nini, Ida Bethara Muncaksari dan Tambowaras lunga ke Luhur Batukaru nyanggra prosesi pemelastian KAPG.

Juru bicara Komunitas Bisa Terbiasa Nengah Tresnajaya atau yang akrab disapa Sengkun, Minggu (26/1) mengatakan, ratusan pemuda yang tergabung pada Komunitas Bisa Terbiasa bersama dengan pemuda Desa Wongaya Gede dan sekehe teruna Desa Adat Tengkudak, ikut berperan serta prosesi upacara ngiringang Bhatara Nini ke Pura Luhur Batukau. Prosesi ini serangkaian dengan pelaksanaan KAPG.

Disebutkannya, peran sertanya tersebut diawali dengan pemasangan kampil sebagai tempat sampah dari Pura Puseh Wongaya Gede hingga Pura Luhur Batukau. Selanjutnya mengambil posisi paling belakang pada iring-iringan tadi untuk melakukan aksi sapu bersih sampah, khususnya plastik.

Pantauan awak media ini melihat tidak ada raut muka malu apalagi lelah, saat para pemuda-pemuda tersebut memungut sampah yang tercecer. Mereka justru tampak gembira, bahu membahu dengan sesama tim memunguti dan mengambil kampil-kampil berisi sampah untuk selanjutnya di naikkan ke motor pengangkut sampah.

Sengkun kembali menjelaskan, aktifitas yang dilakukan KBT ini merupakan murni panggilan hati untuk menjaga keasrian alam desa Wongaya Gede, terutama menjaga dari kepungan sampah plastik. Terlebih ketika disadari Desa Wongaya Gede merupakan desa paling terakhir atau paling atas dan langsung berhubungan dengan hutan, gunung dan Pura Luhur Batukaru.

“Logikanya jika kita buang sampah sembarangan dan sampah tidak dikelola dengan baik, maka sampah-sampah kami ini akan mengotori desa-desa dibawah kami. Atas dasar itulah kami berkumpul dan membentuk komunitas ini,” ungkapnya.

Dijelaskannya, KBT tidak terbentuk karena ada Karya Agung Pangurip Gumi, tetapi telah lahir jauh sebelum karya agung berlangsung. Hanya saja, dengan momen KAPG ini pihaknya semakin menunjukkan komitmen kelahirannya yakni berperan dalam mengelola sampah.

“Tujuan komunitas ini salah satunya ikut ambil bagian dalam KAPG karena kami ingin mengimplementasikan secara nyata arti dari karya tersebut, yakni mengembalikan alam sebagaimana fungsi alam itu sendiri,” jelasnya.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa sampah plastik adalah sampah kita sehingga kita sendiri yang harus membereskan. Disebutkannya juga alam tidak menciptakan plastik jadi alam tidak bisa mengelola plastik.

“Kegiatan ini merupakan murni wujud bakti kami sebagai panjak panembahan Luhur Batukau dan kepada bumi pertiwi dimana kami mendapatkan hak untuk hidup,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, serangkaian prosesi melasti KAPG yang berlangsung dari tanggal 29 Januari hingga 1Februari 2020, pihaknya akan ngayah ngareresik memerangi sampah plastik dengan route Luhur Batukau-Tanah Lot-Luhur Batukau. Timnya ini akan mengambil posisi paling belakang dari iring-iringan pemelastian.

“Kami nanti juga akan dibantu oleh para sekehe teruna desa yang dilewati dan dibantu komunitas lainnya. Kami mengajak masyarakat yang dilewati jalur pemelastian untuk bisa menyediakan kampil atau tempat sampah didepan rumah masing-masing selain juga mengajak para pemedek untuk bisa membuang sampah pada tempatnya selama pemelastian,” tutupnya. (rah/BPN/tim)