Minggu, Oktober 25, 2020
Beranda Bali Denpasar Kegiatan Keagamaan di Desa Adat Peguyangan Tetap Berjalan dengan Penerapan Prokes Covid-19

Kegiatan Keagamaan di Desa Adat Peguyangan Tetap Berjalan dengan Penerapan Prokes Covid-19

DENPASAR, balipuspanews.com – Pelaksanaan upacara agama di Desa Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Denpasar, tetap digelar sesuai jadwal dengan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan (3M).

Hal itu disampaikan Bendesa Adat Desa Peguyangan I Ketut Sutama saat dihubungi balipuspanews.com, Minggu (17/10/2020).

Ketut Sutama mengungkapkan, pelaksanaan upacara agama atau adat di Desa Peguyangan tetap digelar sebagaimana biasanya. Namun, di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ada beberapa ketentuan yang patut diikuti oleh masyarakat.

Ketentuan tersebut terkait adanya imbauan dari pemerintah, baik dari Walikota Denpasar berupa Perwali, maupun Surat Edaran (SE) hasil keputusan rapat dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) maupun Majelis Desa Adat, yang isi surat tersebut ditujukan kepada seluruh Bandesa/Kelihan Desa Adat dan Krama Desa Adat di seluruh Bali agar seluruh masyarakat melaksanakan dan mentaati Pararem Desa Adat tentang Pengaturan Pencegahan dan Pengendalian Gering Agung Covid-19 di Wewidangan Desa Adat masing-masing dengan penuh kesadaran, disiplin, dan tanggung jawab.

Merujuk dari peraturan dimaksud seperti Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 48 tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (Covid-19) dalam Tatanan Kehidupan Era Baru.

“Begitu pula yang diterapkan di Desa Adat Peguyangan. Kami tidak melarang masyarakat menggelar upacara agama, yang penting tetap memperhatikan protokol kesehatan. Disamping juga melarang untuk menggunakan gamelan gong selama pandemi,” jelasnya.

Untuk piodalan di Pura Desa misalnya, upacara tetap digelar, namun saat upacara hanya dilaksanakan oleh prajuru, pemangku, sarati, dan masyarakat yang membantu hanya beberapa tidak lebih dari dari 25 orang.

Upacara seperti ini dilaksanakan dengan sistem ngubeng, masyarakat dihimbau untuk sembahyang dari rumah masing-masing. Ini dilaksanakan untuk mengikuti imbauan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Denpasar khususnya, dan di Bali pada umumnya.

Kendatipun ada masyarakat yang datang ke pura untuk melakukan sembahyang, pihak prajuru mengatur waktu dan menetapkan protokol kesehatan dengan ketat.

“Selama ini masyarakat kami di Peguyangan taat mengikuti imbauan dari pemerintah dan protokol kesehatan,” imbuh Bendesa yang sudah menjabat sejak 2014 lalu.

Ia berharap dengan kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan, semoga gering Agung atau Covid-19 ini segera berakhir. Dan masyarakat kembali seperti semula dengan aktivitasnya masing-masing.

Seperti diketahui, Desa Peguyangan ini terdiri dari 22 banjar adat dan 2 banjar suka-duka.

“Kami mohon kesadaran masyarakat, mari bersama-sama dukung pemerintah memutus rantai penyebaran Covid-19. Mari lindungi diri sendiri, lindungi keluarga, dan lindungi masyarakat di sekitar kita,” pungkasnya mengakhiri.

PENULIS : Tim Liputan Covid 

EDITOR : Oka Suryawan

- Advertisement -

Warga Temukan Orok di Parit Areal Jogging Track Sanur Kauh

SANUR, balipuspanews.com - Penemuan orok membusuk berlangsung di pinggir parit areal jongging track di Jalan Prapat Baris, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Jumat (23/10/2020) sekitar...

Tak Hiraukan Teguran, Pabrik Penyulingan Daun Cengkeh Akhirnya Ditutup Paksa

Sebuah tempat usaha penyulingan daun cengkeh yang berada di Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada ditutup paksa oleh tim Satpol PP Kabupaten Buleleng. Hal itu dilakukan sebab pemilik tempat tidak menghiaraukan teguran petugas, sehingga Pol PP lalu bertindak tegas menutup paksa usaha penyulingan daun cengkeh yang beroperasi dan dianggap menimbulkan polusi udara.
Member of