Kehidupan Dua Dunia Mangku Wayan Sumerta

Jro Mangku Wayan Sumerta berfose dengan salah satu karya lukisnya
Jro Mangku Wayan Sumerta berfose dengan salah satu karya lukisnya

TABANAN, balipuspanews.com – Menjadi seorang pemangku, terlebih lagi menjadi pemangku disebuah khayangan jagat, tentu membutuhkan waktu ekstra. Menjadi seorang pemangku tentu pula harus siap dengan berbagai konsekwensinya. Seperti misalnya hidup dengan berbagai aturan dan tidak bisa sebebas seperti orang biasa.

Sebagai manusia biasa, seorang pemangku sangat mungkin mengalami titik-titik jenuh dalam berkehidupannya. Sehingga ia membutuhkan ruang untuk mengenyam kebebasan namun tidak melanggar norma-norma kepemangkuan.

Hal tersebut tervisualisasikan dari sisi dua dunia kehidupan Jro Mangku I Wayan Sumerta, selaku mangku Penataran Agung Pura Luhur Pucak Padang Dawa. Seperti apa kehidupan dua dunianya? Ikuti sajiannya berikut ini.

Ditemui dikediamannya di Desa Apuan Kecamatan Baturiti belum lama ini Mangku Sumerta mengungkapkan terkait posisinya sebagai seorang pemangku diakuinya bukan sebuah cita-citanya.

Seperti manusia kebanyakan, ia juga ingin hidup bebas dan memiliki profesi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan terakhirnya.

Keinginannya tersebut dilatarbelakangi oleh kenangan masa kecilnya dengan kondisi ekonomi orang tuanya yang bisa dibilang kekurangan.

Dengan kondisi tersebut, setamat SD di desa kelahirannya ia harus merantau jauh ke Sumatera Selatan agar bisa melanjutkan sekolahnya di jenjang SMP dan bersekolah di SMP Negeri 3 Batu Raja, Martapura.

“Saya anak paling bungsu dari 12 bersaudara. Ayah saya semasa hidupnya menjadi pemangku di pura tempat saya ngayah sekarang,” ungkapnya.

Mangku Sumerta mengaku bersyukur, meski terlahir dikeluarga sederhana dan bersaudara banyak, semua saudaranya terbiasa saling membantu. Termasuk membantu dirinya memenuhi biaya sekolah.

Setamat SMP ia kembali pulang ke Bali dan melanjutkan sekolahnya di SMA TP 45 Marga. Dilanjutkan kemudian dengan kuliah di Jurusan Pariwisata Politeknik Unud. Kuliah ditempat ini atas saran Ir. Intan Kirana (istri pamannya, almarhum I Made Wianta) yang merupakan seorang dosen di Universitas Udayana.

Sayangnya, kuliahnya ini tidak sampai tamat. Sang paman (I Made Wianta, red) kemudian menyarankannya belajar membatik agar bisa nantinya bekerja di Club Med Bali.

Benar saja, sebulan setelah memahami ilmu membatik, Sumerta muda diterima bekerja di Club Med Bali bagian Art and Craft sebagai Gentle Organization bidang seni. Hingga ia kemudian bertemu dengan Mery Ray dan Barbara yang mengajarkannya ilmu melukis di kain sutera.

“Dengan ilmu yang saya dapatkan dari Mery Ray dan Barbara saya kemudian ditugaskan mengajarkan tamu yang berkunjung di Club Med Bali untuk melukis di kain. Total waktu saya bekerja di Club Med Bali selama tiga tahun,” ujarnya.

Selanjutnya Sumerta dipindahk tugaskan di Club Med Malaysia selama dua tahun dan di Club Med Thailand beberapa bulan. Saat di Thailand inilah ia mengalami ujian niskala sehingga ia harus pulang ke Bali. Padahal saat itu ia sedang dipromosikan sebagai general manager.

Beberapa saat setelah kembali di Bali, Sumerta muda mencoba bangkit dengan membuka usaha berupa galeri di kawasan Ubud. Galerinya ini dinamakan Wah Collection and Moderen Art yang menjual lukisan dan pakaian serta memiliki lima karyawan yang bertugas memasok produknya keberbagai obyek wisata di Bali.

“Sayangnya, usaha saya itupun oleh sebuah alasan saya tutup,” terangnya.

Hingga karena tugas niskala sejak tahun 1999 akhirnya Ia harus ngayah sebagai Jro Mangku di Penataran Agung Pura Luhur Pucak Padang Dawa. Tugas mulia ini ia harus terima untuk melanjutkan tradisi karena sebelumnya sang ayah juga bertugas yang sama di pura tersebut.

Diakuinya, dalam rutinitasnya ngayah sebagai jro mangku, suami Ni Wayan Wianti ini sesekali mengalami titik jenuh. Bahkan jiwanya terkadang gelisah dan butuh ruang untuk berekspresi.

Ayah dua putra ini sadar, dalam posisinya sebagai seorang pemangku tentu ada berbagai batasan norma dan etika ketika dirinya ingin mengekspresikan kegelisahan jiwanya untuk kemudian mendulang damai jiwa.

Hingga kemudian dengan berbekal pengalaman membatik dan melukis di kain sutera sewaktu bekerja di Club Med Bali, Mangku Sumerta kini menuangkan imajinasinya kedalam kanvas.

Seringkali ia duduk berjam-jam membiarkan jiwanya bertualang dalam kedamaian melalui goresan-goresan kuasnya. Setidaknya satu lukisan kecil seukuran 42 X 52 centimeter ia kerjakan hingga dua mingguan. Sementara lukisan besar seukuran 80 X 120 centimeter ia selesaikan hingga dua bulan.

Kini ia telah melahirkan setidaknya 60 karya lukisan abstrak, buah dari kerinduannya menggapai damai jiwa. Demikian pula, aktivitas ngayahnya sebagai seorang jro mangku tetap ia lakoni dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Dua dunia kehidupannya ini ia lakoni dengan sebuah prinsip yang sangat sederhana, hidup tetap berjalan. Maka ia mewarnainya dengan kesungguhan melakukan swadharma.

Penulis : Ngurah Arthadana

Editor : Oka Suryawan