Kekeringan Melanda Subak Tohpati, Sekitar 17 hektar Lahan Sawah Kekeringan

Kekeringan melanda subak Tohpati, Banjarangkan, Klungkung
Kekeringan melanda subak Tohpati, Banjarangkan, Klungkung

SEMARAPURA, balipuspanews.com –Kekeringan yang melanda Kabupaten Klungkung belakangan ini, khususnya sangat kentara menjadi masalah serius, kekeringan terus berlanjut di Subak Tohpati, Banjarangkan, Klungkung. Akibat kekeringan tersebut sekitar 17 hektar lahan padi, terancam menjadi fuso. Padahal masalah ini sudah berlarut-larut terjadi.

Ditemui Kelihan Subak Desa Tohpati, Banjarangkan, I Nengah Sudana menjelaskan, kekeringan lahan pertanian padi jni terjadi sejak 3 minggu lalu. Petani di Subak Tohpati, tidak dapat distribusi air dari Subak Tembuku di Bangli. Padahal sudah ada perjanjian, jika Subak Tohpati siap membayar Rp 4000/are, agar didistrisbusikan air rigasi oleh subak tembuku.

“Petani merugi sampai Rp 15 juta perhektarnya. Padi ini sudah tidak mungkin hidup lagi, tanahnya sudah kering,” ujar Nengah Sudana.

Menurutnya, Pemeritnah Provinsi Bali tidak becus mengatasi masalah air irigasi di Desa Tohpati. Padahal masalah ini sudah berlarut-larut.

“Ini kan wewenang provinsi, karena distribusi air ini melibatkan subak tohpati, Klungkung di hilir, dan subak tembuku di hulu yang menjadi bagian wilayah Bangli. Karena lintas kabupaten, jadi kewenangan Provinsi,” jelasnya.

Ia bersama petani di Subak Tohpati pun, akan ke kantor gubernur, untuk mengadukan hal ini ke Koster. Para petabi khwatir, kondisi ini menyebankan alih fungsi lahan pertanian dan membuat petani menjadi pengangguran.

“Petani sudah banyak menganggur, karena ini. Kami merasa dianak tirikan,” Keluhnya terhadap  kekeringan yang terjadi belakangan ini.

Sementara jika masalaah ini jika dibiarkan berlarut larut, dia khawatir ada konflik antara petani di subak tohpati dan subak tembuku yang berbeda wilayah Kabupaten yang berbatasan ini. (Roni/bpn/tim)