Kekeringan- Warga rela tempuh jarak jauh demi mendapat air bersih.
Kekeringan- Warga rela tempuh jarak jauh demi mendapat air bersih.
sewa motor matic murah dibali

NEGARA, balipuspanews.com, Krisis air yang dialami warga banjar Pendem, Desa Manistutu, Melaya memang membuat mereka kelimpungan. Untuk mendapat air mereka harus rela menempuh jalan terjal yang cukup jauh.

Krisis air yang dialami ratusan warga banjar Pendem, Manistutu itu mulai terjadi sejak dua minggu lalu. Air bersih yang selama ini mereka dapat dari PDAM sama sekali tidak mengalir lagi.

Memang ada sumber air berupa bulakan atau kubangan di pinggir persawahan subak telepus yang ada di wilayah desa tersebut.

Namun jarak kubangan air dari pemukiman warga cukup jauh dan jalan menuju sumber air itu cukup terjal. Meski jalan terjal dan menanjak namun untuk bisa mendapat air untuk minum dan memasak mereka rela melintasinya sambil memikul maupun menjinjing ember berisi air.

Dengan jarak 10 kilometer pulang pergi warga membawa ember untuk mengambil air di kubangan itu. Sambil mengambil air merekja juga memanfaatkan air kibangan itu untuk mandi maupun mencuci.

“Jalannya terjal dan jauh saat pergi menurun dan saat pulang menanjak. Sampai dirumah sampai kehabisan nafas membawa air,” ujar salah seorang warga Senin (16/9).

Ni Wayan Rami, warga lainnya mengaku krisis air di banjarnya sudah terjadi sejak 14 hari lalu. Warga cukup kesulitan mendapat air bersih untuk memasak dan minum serta keperluan lainya. Sementara sumber air terdekat hanya di bulakan tersebut.

“Mau tidak mau harus kesana mengambil air atau mencuci. Lumayan jauh dan melelahkan,” ujarnya.

Ni Ketut Dersi warga lainnya menambahkan untuk mengambil air yang digunakan untuk memasak dan minum diambil dari bulakan sebelah timur dan untuk mencuci serta mandi diambil disebelah barat. “Airnya memang berkumut tetapi jernih,”tambahnya.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari, warga juga megambil air dibulakan itu untuk memberi minum hewan ternak peliharaanya. Bahkan mereka harus bolak-balik mengambil air di bulakan itu.

“Saya sehari harus empat kali mengambil air dengan dua ember yang dipikul untuk minum sapi dan babi,” ungkap Ketut Dester.

Warga sangat berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah sehingga bisa meringankan beban mereka. (nm/bpn/tim)