Photo Istimewa : Siswa SMKN 1 Singaraja terpaksa belajar secara 'lesehan'
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Ratusan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Singaraja, dikabarkan terpaksa belajar secara lesehan (lantai). Bahkan konon, ratusan siswa belajar secara ‘lesehan’ sejak dua minggu lamanya.

 

Informasi dihimpun, keadaan ini dipicu Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 tahap kedua, dimana sekolah negeri diwajibkan untuk menerima siswa kategori miskin atau jalur lain.

Nah, siswa belajar secara ‘lesehan’ inipun  dikeluhkan oleh para orang tua siswa, karena tak sedikit dari merka mengeluh kesakitan lantaran harus belajar di lantai dalam rentan waktu enam jam.

“Kasihan melihat anak saya, kalau pulang sekolah bilang sakit pinggang karena belajar dibawah (lantai). Makanya, sekarang anak saya bawa papan belajar kayak anak TK, biar tidak terlalu bungkuk saat mencatat atau mengerjakan tugas dari guru. Sudah, kami sudah mengeluh ke sekolah, namun memang ruang kelasnya katanya terbatas hingga anak saya harus belajar lesehan,” kata orang tua siswa, wanti-wanti agar namanya tidak disebut.

Kepala SMKN 1 Singaraja, Nengah Suteja tak menampik jika siswa terpaksa belajar ‘lesehan’.

Hal itu dikarenakan minimnya ketersediaan bangku belajar di sekolah, hingga 144 siswa dari 4 rombongan belajar (rombel) harus belajar di lantai, baik di ruang lab, ruang guru, dan juga aula sekolah.

Kepsek Suteja mengaku kondisi ini menjadi beban berat baginya. Mengingat, banyak siswanya yang belajar dalam kondisi tidak layak.

Sejatinya, keadaan itu terjadi karena dampak Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2018/2019 tahap kedua, dimana sekolah negeri diwajibkan untuk menerima siswa kategori miskin atau jalur lain.

“Terpaksa kami terima, entah itu memang benar miskin atau ada hal lain. Tahap dua ada penambahan kelas. Idealnya memang 12 kelas dikali 36 siswa. Siswa saat ini tidak ada lebih dan jumlahnya sudah sesuai,” kata Kepsek Suteja, ketika dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (8/8).

Penambahan siswa tahap kedua, pihaknya pun sejatinya wajib memiliki ruang kelas. Namun faktanya, penerimaan jauh dari perkiraan. Siswa membludak, hingga pihak sekolah terpaksa memanfaatkan sebagian ruangan lain untuk kegiatan belajar mengajar, termasuk memanfaatkan aula sekolah.

Kepsek Suteja pun mengakui, kerap mendapatkan keluhan dari para orangtua siswa. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana sekolah membuatnya tak berdaya.

“Sebenarnya, pihak sekolah sudah mensiasati hal ini, dengan membagi ruang lab dan ruang guru menjadi dua ruangan, dibatasi triplek. Sekarang, solusinya hanya menambah kursi belajar saja,” imbuhnya.

Penambahan kursi belajar itupun kemudian dirancang dalam RKAS (Rencana Kerja Anggaran Sekolah).

“Masih terkendala di rekanan untuk pengadaan bangku belajar. Ya, tidak bisa cepat. Kemarin saja baru dikirim cuman 40 bangku, bangkunya seperti bangku kuliah karena ruangan kecil. Minta ke orangtua siswa? tidak boleh, pungli nanti,” bebernya.

Kondisi yang dialami SMKN 1 Singaraja merupakan satu dari sekian sekolah yang kemungkinan memiliki kondisi yang sama, akibat penambahan jumlah kelas ditengah keterbatasan daya tampung sekolah. Untuk itu diharapkan, Pemprov Bali melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bali untuk segera turun dan memberikan solusi terbaik.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...