Kembangkan Desa Wisata, Mahasiswa STPBI Seminarkan Hasil Penelitian PLP 2019

Foto bersama Ketua STPBI bersama undangan dalam acara Seminar Hasil Penelitian Lapangan Parieisata 2019, di ruang auditorium kampus STPBI, Rabu (4/12).
Foto bersama Ketua STPBI bersama undangan dalam acara Seminar Hasil Penelitian Lapangan Parieisata 2019, di ruang auditorium kampus STPBI, Rabu (4/12).

DENPASAR, balipuspanews.com- Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) menggelar seminar hasil penelitian lapangan pariwisata yang bertajuk ” Model Pengembangan Wisata Minat Khusus di Desa Julah, Kec. Tejakula, Buleleng, di Gedung Auditorium Kampus STPBI, Rabu (4/12).

Laporan penelitian yang dihasilkan oleh mahasiswa semester VII, program studi (Prodi) Manajemen Perhotelan diploma IV (D IV) dengan waktu penelitian yang dilakukan sekitar dua bulan lamanya.

Dalam penelitian ini mahasiswa meneliti potensi yang ada di Desa Julah, terkait arsitektur bangunan, kehidupan sehari masyarakat setempat, maupun pelaksanaan adat dan trsdisi yang dijalankan masyarakat dan potensi alam yang ada di lingkungan desa setempat.

Kepala STPBI I Made Sudjana, S.E., M.M., CHT., CHA., menjelaskan, kegiatan presentasi hasil penelitian, menjadi tugas semester akhir di objek wisata, tujuannya  mendapatkan pengalaman  bagaimana mengembangkan desa wisata, dengan melihat potensi pariwisata yang ada, sehingga nanti akan menjadi bahan masukan, dari  ditemuan potensi apa yang ada dan cara pengembangan nanti.

Harapan pertama, dari sisi mahasiswa, setelah mahasiswa tamat dari kampus akan memiliki bekal pengalaman lapangan dalam cara mengembangkan pariwisata khususnya desa wisata.

Kedua, hasil penelitian mahasiswa ini nantinya dapat bermanfaat bagi desa setempat (Desa Julah red), melihat segala kekurangan yang ada, agar menjadi acuan dalam pengembangan desa wisata.

“Pengembangan destinasi sangat kompleks, bagaiman SDMnya, infrastruktur, agar bisa menerima tamu secara profesional kedepan,” jelasnya.

Sudjana menegaskan, apresisasi masyarakat menerima mahasiswa STPBI sangat luar biasa. Pasalnya,
Pihak desa Julah sendiri merasa terbantu untuk mengembangkan pariwisata desa dan mendapat ilmu dari pelatihan yang berikan mahasiswa yang sudah menguasai bidang ilmu dan cara pengembangan desa wisata serta langkah- langkah yang harus dilakukan.

“Mahasiswa sudah dibekali selama tujuh semester dikampus, masyarakat berterimakasih, ada generasi muda melihat potensi di daerahnya untuk dikembangkan,” ungkap Sudjana memungkasi.

Sementara Kepala Program Studi (Kaprodi) Manajemen Pariwisata Komang Trisna Pratiwi Arcana, S. ST. Par., M. Par., M.Rech mengatakan, menentukan tempat penelitian di Desa Julah, tidak dilakukan secara gamlang begitu saja tampa pertimbangan. Namun melalui beberapa proses diawali melakukan Fokus Group Diskusi (FGD) pada bulan terlebih dahulu.

Setelah melakukan FGD, lanjut Trisna, persiapan selanjutnya dilakukan  study pendahuluan dan beberap kali pertemuan untuk mempertimbangkan daerah tujuan penelitian. Tepat bulan  November,  baru dilakukan serah terima mahasiswa terkait kegiatan program pengabdian masyarakat dan pelatihan.

Selain menggelar seminar hasil kegiatan pengumpulan data  dan  pelatihan, pada saat yang bersamaan  juga ditampilkan pameran beberapa hasil kerajinan, hasil industri rumah tangga serta foto-foto dokumen saat mahasiswa melakukan penelitian.

Disebut Trisna, Desa Julah sendiri sudah dicanangkan sebagai desa wisata sejak tahun 2018. Namun masyarakat sendiri belum mengetahui apa itu desa wisata. Dengan hadirnya Mahasiswa melakukan penelitian di Desa Julah, pihaknya berkomitmen mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Desa Julah. Dengan melakukan berbagai pelatihan agar lebih mengetahui cara pengembangan dewa wisata.

“Sampai saat ini belum ada kunjungan wisatawan ke Desa Julah, bahkan kami sendiri mengajak wisatawan untuk menyaksikan kehidupan dan cara menjaga tradisi di desa tersebut agar di informasikan  atau diviralkan bahwa desa Julah layak menjadi destinasi wisata di Bali Utara,” jelasnya.

Lebih jauh Trisna menyebut Desa Julah kaya akan keunikan yang patut dikembangkan dan layak menjadi destinasi pariwisata. Beberapa keunikan seperti arsitektur bangunan, tarian adat, properti upakara, dan tingginya animo masyarakat untuk  menjaga kesakralan adat istiadat setempat. (bud/bpn/tim).