Selasa, Februari 27, 2024
BerandaNasionalJakartaKemenPPPA Ingatkan Masyarakat Modus Kejahatan Love Scamming

KemenPPPA Ingatkan Masyarakat Modus Kejahatan Love Scamming

JAKARTA, balipuspanews.com – Maraknya kasus kekerasan berbasis gender yang terjadi secara online (KBGO), seperti love scamming, membuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) kembali mengingatkan masyarakat, terutama wanita agar terus meningkatkan literasi digital dan para wanita tidak mudah percaya kepada orang yang mengajak kenalan, terutama melalui aplikasi digital atau sosial.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga Rentan Kemen PPPA, Eni Widiyanti mengungkapkan ada data yang menjelaskan kenapa justru wanita yang literasi digitalnya lebih rendah. Beberapa sampel menunjukkan, ketika seseorang menerima informasi dari internet, tapi ternyata ia membuat satu kesimpulan yang salah.

“Kami mengingatkan agar masyarakat, terutama para wanita yang lebih sering menjadi korban agar lebih mempersiapkan diri. Tapi, tetap tidak mengambil kesimpulan salah dan menarik diri seutuhnya dari dunia digital,” ucap Eni saat Media Talk: Cegah Perempuan Terjerat Love Scamming di KemenPPPA, Jakarta Pusat, Jumat (8/9/2023).

Terkait kasus lovescamming yang akhir-akhir ini mencuat menurut Eni, KemenPPPA belum mempunyai data spesifik dan pemetaan untuk kasus lovescamming tersebut. Akan tetapi bisa memanfaatkan Layanan SAPA 129 yang diharapkan dapat menjadi solusi dalam memberikan pendampingan terbaik bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan.

BACA :  KUA akan Jadi Tempat Pencatatan Nikah Semua Agama, Ini Masukan dari PHDI

“Kemen PPPA meluncurkan satu ruang yang kita sebut dengan SAPA 129 yang bisa diakses melalui hotline 021-129 atau Whatsapp 08111-129-129. Sistem ini tidak hanya untuk korban. Jika ada masyarakat yang mengetahui, melihat, atau mendengar kasus kekerasan yang terjadi di sekeliling kita, laporkanlah, beritahu kami, sampaikan kepada kami, ini menjadi kesempatan untuk kita hadir menjawab persoalan kekerasan yang terjadi di masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan bila seseorang menjadi korban pelaku love scammer, sebaiknya korban segera menghentikan komunikasi tetapi jangan menghapus semua jejak digital pelaku. “Korban harus menyusun kronologi kasus yang menimpanya jika hendak melaporkan kasusnya ke pihak yang berwenang. Korban juga harus menghubungi bank jika merasa telah memberikan uang kepada penipu tersebut dan korban harus memberitahu situs web atau aplikasi tempat korban bertemu dengan si penipu,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, Love scam adalah penipuan berkedok asmara. Pelakunya memakai trik kepercayaan yang melibatkan perasaan dengan pura-pura bersikap romantis, mencintai korban, dan berupaya mendapatkan kasih sayang korban. Setelah korban teperdaya, kemudian pelaku melakukan penipuan.

BACA :  Marak Upaya Gusur dan Geser Suara, Mahfuz Sidik: Bentuk Kecurangan Pemilu Legislatif

“Modus love scamming umumnya ada dua, yakni pertama, mencuri uang korban. Kedua, dengan memaksa korban mengirimkan foto tidak senonoh kepada pelaku, dan kemudian foto tersebut dijadikan alat untuk memeras si korban,” tutupnya.

Penulis/editor: Ivan Iskandaria.

RELATED ARTICLES

ADS

spot_img

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular