Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Prof. Ainun Na'im Ph.D
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Jakarta, balipuspanews. com – Penduduk Indonesia saat ini berjumlah sekitar 160 juta jiwa, dan terus tumbuh. Pada tahun 2035 akan memperoleh binus demografi dimana pendudukan usia produktif akan lebih banyak daripada usia tidak/kurang produktif, dan pada sekitar tahun tersebut juga Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia.

Industri keuangan dan tentunya industri asuransi menjadi bagian pertumbuhan tersebut. Pengembangan program aktuaria di perguruan tinggi merupakan bentuk respon positif untuk berperan aktif  mengisi pertumbuhan tersebut.

Pada sisi yang lain, Ilmu Aktuaria di Indonesia relatif belum banyak dikenal, diketahui dan dipahami oleh masyarakat umum.

“Jika kita kaitkan atau katakan akturia terkait asuransi, persepsi masyarakat langsung kepada sales atau marketer asuransi. Apalagi jika ditanyakan tentang ilmu hitung risiko yang menjadi bagian utama dari Ilmu Aktuaria, tentunya tidak akan paham. Untuk itu upaya edukasi masyakat terkait aktuaria merupakan tanggungjawab kita bersama,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Prof. Ainun Na’im Ph.D pada acara Simposium Nasional Aktuaria di Era Industri 4.0 di Hotel Atlet Century Jakarta, Kamis (6/12).

Diharapkan semakin banyak masyarakat khususnya generasi muda yang tertarik terhadap dunia aktuaria. Kelak mereka akan menentukan pilihan kuliah dan berkarir dalam bidang aktuaria.

“Pemerintah kita tentunya mendorong perkembangan beragam industri untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, termasuk industri asuransi. Pemerintah juga memiliki program peningkatan kesejahteraan masyarakat antara lain BPJS,” ungkapnya.

Ainun Na’im menambahkan program tersebut telah mendorong dan memicu kesadaran masyarakat akan semakin pentingnya asuransi, dan semakin tinggi meningkatkan jumlah peserta asuransi kesehatan. Selain itu, pemerintah mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk memberikan jaminan bagi karyawannya dalam beragam bentuk, yang antara lain asuransi.

“Kementerian Ristekdikti sebagai pilot project menugaskan 9 perguruan tinggi untuk mengembangkan program ilmu aktuaria, yaitu: IPB, UI, ITB, UGM, ITS, UPH, UPM (Universitas Prasetya Mulya), Unpar dan Unsurya (Universitas Surya). Kami juga mendorong perguruan tinggi lainnya untuk membuka program aktuaria. Hal ini tentunya dengan persyaratan yang ketat dalam menjamin mutu pembelajaran dan lulusannya. Kementerian Ristekdikti menugaskan Direktorat Pembelajaran, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan untuk pelaksanaan program pengembangan aktuaria di perguruan tinggi melalui kerjasama dengan Kanada dalam wadah READI Project,” tutur Ainun Na’im.

Tujuan pengembangan program aktuaria di perguruan tinggi, yaitu:
• Membuka kesempatan generasi muda untuk menempuh pendidikan ilmu aktuaria di perguruan tinggi.

Meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan ilmu aktuaria di Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga aktuaris yang terus meningkat.

Meningkatkan kapasitas perguruan tinggi guna memberikan pendidikan aktuaria bermutu tinggi dan diakui sebagai pusat ilmu aktuaria yang terbaik di tingkat regional.

Lulusan perguruan tinggi bidang aktuaria memperoleh kesempatan kerja yang lebih luas nasional, regional dan global, dengan diperolehnya sertifikasi/akreditasi tingkat nasional maupun internasional.

Program studi aktuaria didorong untuk menerapkan model pembelajaran Co-operative Education atau Belajar Bekerja Terpadu. (Ivan/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...