Anak Gangguan Jiwa, Rumah Terancam Ambrol
Rumah wardana
sewa motor matic murah dibali

NEGARA,balipuspanews.com- I Ketut Puji Wardana,49, kini tidak bisa meninggalkan rumah berlama-lama untuk mencari nafkah.

Warga miskin yang tinggal banjar Sawe Munduk Waru, Dauh Waru, Jembrana itu harus menjaga anak tertuanya agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan.

Ditemui di rumahnya Selasa (3/12) Warda menuturkan, putra pertamanya dari empat anaknya yakni Putu Eko Prayoga,23, saat masih kecil kondisinya normal-normal saja. Bahsan saat duduk di bangku SD sampai SMP Prayoga tidak mengalami masalah.

Namun ketika duduk di kelas 3 SMP kondisi kejiawaan Prayoga mulai tidak normal. Dia sering berprilaku aneh termasuk membongkar sepeda motor miliknya satu-satunya. Di rumah juga sering mengamuk bahkan adiknya yang paling kecil Angga Praditya sering dilempar ke tegalan dibelakang rumahnya.

“Adiknya yang paling kecil saat masih bayi sering dilempar. Selain itu sering berprilaku aneh-aneh,” ujarnya.

Karena anaknya seperti itu Wardana, yang kakinya pincang sejak kecil itu sempat melakukan upaya niskala dengan upacara penebusan beberapa kali. Selain itu juga Prayoga dibawa berobat ke RSJ Bangli.

“Anak saya pertama dua tahun di RSJ Bali, lalu bolak-balik lagi sampai empat kali,” jelasnya. Dengan upaya tersebut, kini kondisi Prayoga sudah mulai membaik dan mulai bisa beraktivitas. Namun demikian Wardana yang tinggal bersama istrinya Ni Made Ratni,43, bersama 4 nanaknya di rumah sempit bantuan bedah rumah tahun 2007 silam itu tidak bisa meninggalkan Prayoga dirumah bersama adiknya yang paling kecil. Karena dikhawatirkan akibat kondisi kejiwannya yang belum stabil bisa berbuat yang aneh-aneh dan membahayakan.

“Saya harus tetap menjaganya dirumah. Saya tidak berani meninggalkanya lama-lama untuk bekerja,” ungkapnya.

Wardana yang sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan, tidak bisa lagi bekerja maksimal. Jika ada yang mengajak bekerja, Wardana juga mengajak Prayoga untuk ikut bekerja.

Selain bisa terus mengawasi, Prayoga juga bisa membantu mencari nafkah untuk keluarnya yang tergolong keluarga miskin dan masuk KK miskin buku merah.

“Kalau saya dapat pekerjaan dia saja ajak untuk belajar bekerja. Sambil mengawsi juga sambil perlahan memulihkan kondisi mentalnya agar bisa normal kembali,” jelasnya.

Dengan kondisi terbelit kemiskinan, seperti itu Wardana tidak bisa berbuat banyak. Untuk makan sehari-hari dan menanggung dua anaknya yang masih sekolah isrtinya Ni Made Ratni kadang ikut membantu kerja serabutan.

“Kadang juga istri saya membuat jejaitan untuk bahan banten saat hari raya,” ujarnya. Memang Wardana memiliki kebun warisan dari orang tuanya. Namun saat musim kemarau seperti ini kebun miliknya tidak bisa menghasilkan apa-apa keran kekeringan. Rumah bedah yang ditempatinya kini juga sudah mulai rusak. Tembok disis timur rumahnya yang berada di bibir tebing sudah mulai retak-retak.

“Saya khawatir kalau nanti hujan tebing itu longsor dan rumah saya ikut ambrol,” ujarnya. Dapur miliknya juga sempt dan dibangun dengan bahan seadanya. Wardana yang tidak mendapat beras miskin dan juga bantuah PKH sangat berharap ada bantuan untuk meringankan beban keluarganya termasuk untuk memperbaiki rumah sehingga bisa lebih luas dan layak. (nm/bpn/tim)