Sabtu, Juli 20, 2024
BerandaBulelengPenanganan Limbah B3 Infeksius RS di Kabupaten Buleleng Ikuti Akselerasi Nasional

Penanganan Limbah B3 Infeksius RS di Kabupaten Buleleng Ikuti Akselerasi Nasional

BULELENG, balipuspanews.com – Pengelolaan limbah khususnya limbah medis dari rumah sakit (RS) yang tergolong Bahan Berbahaya dan beracun (B3) kini menjadi perhatian khusus pada masa pandemi Covid-19 ini. Dalam pengelolaan limbah medis menjadi hal penting diperhatikan sebagai usaha untuk menghindari penyebaran virus Corona akibat kemungkinan salah kelola limbah infeksius.

Bahkan sejauh ini, di beberapa daerah banyak ditemukan yang diduga ada tata kelola limbah medis yang belum maksimal, dan cenderung ditemukan dugaan penyimpangan dari aturan seperti yang digariskan pemerintah. Pemerintah melalui Polri melakukan gerakan bersama yang disebut Akselerasi Nasional Penanganan Limbah Medis.

Seperti contoh, di RSUD Buleleng dan RS Shanti Graha Seririt ternyata jauh sebelumnya telah melakukan upaya antisipasi pengelolaan limbah medis, agar pencemaran limbah medis yang tergolong Limbah B3 tidak merusak lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitar.

Dirut RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, SpPD mengatakan, RSUD Buleleng sudah melakukan upaya antisipasi terhadap sisa limbah medis khususnya limbah B3 yang bersifat infeksius. Sesuai dengan UU Lingkungan Hidup, mengungkapkan pihak RS tidak boleh mengelola limbah sendiri. Terlebih, pengelolaan limbah medis sangat khusus. Untuk pengelolaan limbah bersifat infeksius, RSUD Buleleng menjalin kerjasama dengan dua rekanan yakni rekanan pengangkut atau transporter dan rekanan pengolah sampah medis di Mojokerto, Jawa Timur.

BACA :  Harganas, Sekda Ingatkan Arti Penting Keluarga

“Teknis kami sebagai penghasil limbah lalu diangkut oleh transporter dan dibawa ke Jawa Timur untuk dimusnahkan atau diproses sesuai ketentuan yang ada,” sebutnya.

Dalam kerjasama itu diakuinya khusus dalam hal pengelolaan limbah medis B3 ini, RSUD Buleleng tidak memiliki sertifikat atau izin pengolahan limbah medis secara mandiri. Maka solusinya, dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga yakni PT. Putra Restu Ibu Abadi (PT. Pria) yang ada di Mojokerto, Jatim

Tentunya, kerjasama itu dengan ketentuan ketat. Artinya, limbah tersebut dikelola dengan cara yang benar. Dalam pengelolaan limbah oleh pihak ketiga, RSUD Buleleng pun melakukan pemantauan dan pengawasan sesuai MoU yang telah disepakati. Mulai mekanisme pengambilan hingga ke pengolah.

“Tidak hanya tentang limbah medis, tapi pihak ketiga memberi pelatihan atau edukasi terhadap rumah sakit khusus menangani limbah, apakah limbah dihasilkan rumah sakit bisa direuse, didaur ulang, dimusnahkan dan lainnya,” jelasnya.

Hal serupa ikut disampaikan Kepala Humas RS Shanti Graha Seririt, Sri wahyuni. Sebelum ada kerjasama, pihaknya terlebih dahulu elakukan survey terhadap perusahaan itu, yakni PT. Pria di Mojokerto, Jatim.

BACA :  Kejaksaan Negeri Klungkung Musnahkan Barang Bukti yang Telah Inkrah 

“Kami lihat langsung bagaimana limbah medis dikelola. Saat limbah medis masih di rumah sakit, pihak perusahaan menyediakan peralatan untuk menampung limbah,” ungkapnya.

Selain itu, dilakukan agar limbah medis yang dikelola itu tidak berdampak negatif buat lingkungan maupun aspek hukum yang ditimbulkan. Terrpenting, tata kelola limbah ini setiap 6 bulan dilakukan report ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang berisi bukti pengambilan sampah medis hingga diberikan sertifikat hasil pemusnahannya.

“Semua sudah memenuhi standar dan kami sudah melakukan study banding dan best practicenya juga sangat bagus di Mojokerto. Jadi ini pertimbangannya selain karena jarak dan mempermudah pemantauan,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular