Jumat, Februari 23, 2024
BerandaNewsSeni & BudayaKerauhan, Puluhan Warga Pande 'Ngurek' Gunakan Tujuh Keris

Kerauhan, Puluhan Warga Pande ‘Ngurek’ Gunakan Tujuh Keris

Karangasem, balipuspanews.com – Sejumlah orang warga Pande mengalami kerauhan pada prosesi Madewa Ayu rangkaian dari Upacara Penganyaran yang berlangsung di Penataran Ratu Bagus Pande Besakih, Karangasem, Selasa (17/4).

Dalam kondisi itu, mereka yang mengalami kerauhan tampak ngurek dengan tujuh bilah keris yang disiapkan krama penganyar. Mereka yang mengalami kerauhan dan melakukan ngurek pada prosesi madewa ayu itu berasal dari kalangan anak-anak, remaja, hingga yang sudah dewasa. Ada yang ngurek dengan satu bilah keris, ada juga yang menggunakan dua bilah sekaligus.

Pangrajeg karya Jero Mangku Buda Arsana mengatakan, ini upacara madewa ayu, rangkaian upacara penganyaran di Pura Penataran Bagus Pande Besakih. Dalam hal ini, keris digunakan sebagai panyidakarya, mengakhiri upacara.

Ia menjelaskan, keris merupakan identitas dari warga pande. Dalam tradisi kepercayaan masyarakat di Bali dan Nusantara, senjata yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2005 itu dinilai bukan sekadar hasil kebudayaan. Keris dapat dijadikan sebagai sarana wali, bali-balihan (hiburan), dan pusat pengetahuan.

“Dalam Siwagama Sasana, leluhur pande menggunakan dua jempol kakinya sebagai alat untuk menajamkan (manglandep) keris. Oleh karena itulah berhak disebut mpu,” katanya.

Selain itu, warga pande juga diingatkan agar ingat dengan bisama leluhur yang menyuratkan “Kadyaning pang ning kayu ana wah ana tan wah”, di mana hendaknya seorang manusia hendaknya berlaku seperti pohon. Tidak hanya kayunya saja yang bisa dimanfaatkan. Jika ada daunnya dapat digunakan sebagai peneduh, namun jikapun tidak ada, ranting-rantingnya yang sudah matipun bisa dimanfaatkan untuk menghidupi generasi selanjutnya.

Palaksanaan yang digelar dari sekitar pukul 09.00 Wita hingga 15.00 Wita itu diikuti ratusan Warga Pande dari berbagai daerah, termasuk di luar Bali. Upacara dipuput oleh Sira Empu Dharma Agni Yoga Sogata dari Gria Taman Giri Candra Batubulan.

Sebagai pengrajeg karya adalah Jero Mangku Buda Arsana dan I Gede Santika. Sementara sebagai panglimgsir adalah Jero Gede Ratu Pande Besakih. (bp)

RELATED ARTICLES

ADS

spot_img

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular