sewa motor matic murah dibali

Singaraja, balipuspanews.com – Masih ingat dengan Kesenian Tari Wali Wayang Wong?

Ya, kesenian Tari Wali Wayang Wong berasal dari Desa Tejakula. Kesenian adiluhung Denbukit ini telah mendapat pengakuan resmi dari UNESCO hingga ditetapkan sejak tahun 2015 lalu sebagai Daftar Representatif Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan masuk dalam tiga genre tari tradisi di Bali (Three Genre of Traditional Dance in Bali) yang terdiri dari sembilan tari tradisional Bali resmi dimasukkan ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Pentas di Pura Pemaksan Tejakula

Mengupas sisi Kesakralan Tari Wali Wayang Wong, rupanya tak lepas dari pragina (penari) itu sendiri hingga saat puluhan topeng sakral dipentaskan mampu membuat penonton tertegun, bahkan takjub.

Nah, sisi kesakralan lainnya tak lain adalah sisi topeng itu sendiri. Menurut cerita masyarakat setempat, puluhan topeng yang ditarikan rata-rata telah berusia empat abad. Bahkan, saking sakralnya topeng itupun hanya dipentaskan dalam rangkaian upacara pujawali di beberapa Pura di desa setempat.

Gde Komang penari Wali Wayang Wong mengatakan bahwa kesakralan Tari Wali Wayang Wong tak lepas dari sisi topeng dan juga pragina itu sendiri. Nilai kesakralan dimaksud lantaran penarinya harus berdasarkan garis keturunan.

Selain menjadi penari, Gde Komang yang merangkap sebagai Ketua Yayasan Teja Kukus bergerak di bidang pelestarian Tari Wali Wayang Wong kembali menjelaskan bahwa para penari yang ada saat ini merupakan keturunan dari penari sebelumnya, dimana leluhur mereka juga seorang pragina Tari Wali Wayang Wong.

“Kesakralannya ya itu, karena Tari Wali Wayang Wong hanya boleh ditarikan menurut garis keturunan, artinya jika leluhurnya terdahulu adalah penari maka generasi penerusnya wajib mempelajari dan menarikan tarian ini. Jika tidak maka akan mengalami gangguan seperti disakiti secara niskala,” sebut Gde Komang.

Sehingga siapapun, lanjut dia, tidak ada yang berani menolak untuk menarikan tarian ini jika sudah menyandang garis keturunan tersebut.

Gde Komang Penari Topeng Wali Wayang Wong

“Maka dari itu, tarian ini tidak mungkin bisa punah. Kan, selalu diwarisi dari generasi ke generasi,” terangnya.

Lebih dalam, ternyata bukan itu saja yang membuat tarian ini memiliki nilai magis yang tinggi.

Ratusan topeng sakral itu pun disimpan rapi di dalam tempat khusus, yakni di Pura Pemaksan. Topeng-topeng Wali Wayang Wong itupun hanya dikeluarkan saat dipentaskan saja.

Lokasi pementasannya juga hanya dilaksanakan di sejumlah Pura Kahyangan tiga di Desa Tejakula, dan sudah tentunya hanya ketika digelar piodalan.

Lalu, bagaimana jika topeng Tari Wali Wayang Wong diminta untuk pentas ke luar Desa Tejakula?

Nah, sebagai bahan catatan saja. Jika Tari Wali Wayang Wong tersebut pentas keluar wilayah Desa Tejakula semisal saat festival ataupun pementasan lainnya, maka yang ditampilkan itu hanyalah topeng duplikatnya saja.

Namun sebelum pentas ke luar wilayah, para pragina itu pun diwajibkan mengikuti persembahyangan di Pura setempat dengan berbagai ritual khusus untuk memohon keselamatan dan meningkatkan nilai magis agar topeng yang nantinya digunakan bertaksu.

Beranjak pada kisah pementasan, Gede Komang menuturkan pada pementasan pujawali yang dilaksanakan pada bulan April lalu, para pragina mementaskan cerita epik Ramayana yang di gelar di Pura Pemaksan, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.

Topeng yang dipentaskan sebut Gde Komang seperti topeng Sugriwa, Rama, Laksamana, Wibisana, Punakawan, Rahwana, Kumbakarna, Jembawan, Hanoman, dan beberapa tokoh kera lainnya yang memabantu Sri Rama dalam menumpas keangkaramurkaan Rahwana hingga kelompok raksasa serta topeng-topeng karakter lainnya.

Sedangkan dalam pementasan tersebut diambil dari kisah epik Ramayana.

“Dipentaskan dari awal, mereka memulai pementasan dari episode pertama dari Balakanda Epos Ramayana berjudul “Sander Sita”,” imbuhnya.

Dimana kisah tersebut menceritakan ketika Sang Patih Marica menyamar dan berubah wujud menjadi kijang kencana untuk menarik perhatian Dewi Sita, hingga nantinya Dewi Sita pun meminta Rama mengejar kijang tersebut.

Kisah pun kemudian berlanjut, ketika Sang Rama mulai menjauhi Dewi Sita lantaran berusaha memanah dan menangkap kijang siluman itu.

Namun, Patih Marica yang cerdik kemudian berteriak dengan suara minta tolong, dan suaranya mirip Rama. Mendengar teriakan itu, kontan saja Dewi Sita khawatir dan langsung meminta kepada adik Sang Rama yakni, Laksamana untuk mencari kakaknya, yang ia kira tengah menghadapi masalah di tengah Hutan.

Ketika Sang Laksamana bergegas menyusul Sang Rama, saat itulah Dewi Sita diculik oleh Rahwana yang kala itu menyamar menjadi seorang pendeta dan meminta sedekah kepada Sita. Akhirnya Sita berhasil dilarikan ke Kerajaan Alengka Pura oleh Rahwana.

Menyandang status sebagai seorang penari bukan tanpa kendala serta kesulitan, para penari Wali Wayang Wong merasakan kesulitan terutama saat berkomunikasi. Lantaran, penari diwajibkan untuk menggunakan bahasa jawi kuno atau bahkan Bahasa Sansekerta saat mesolah.

“Jika tidak bisa dan tidak paham bahasa kawi dan Sansekerta tentu akan sulit berkomunikasi saat mesolah. Selain kemampuan berbahasa kawi dan sansekerta, para pragina juga harus lihai dalam menari dan makekawin jadi itulah kunci saat pementasan, sehingga benar-benar metaksu,” ungkapnya.

Konon, beberapa seniman sangat berperan penting dalam kemunculan Wayang Wong pada abad ke-16 seperti I Gusti Ngurah Jelantik. Nama lainnya, yakni I Dewa Batan. Konon, tokoh seni itu datang ke Tejakula pada abad ke-15.

“Konon, tokoh-tokoh seni itu yang diperkirakan membuat topeng-topeng berbahan kayu Pule,” tutup Gde Komang.

Tinggalkan Komentar...