Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Tabanan, balipuspanews. com- Beberapa hari yang lalu awak media ini mendapat kesempatan langka. Yakni mendampingi rombongan dari Puri Ubud melakukan persembahyangan di Pura Luhur Petali dan Luhur Batumadeg. Kedua khayangan tersebut berlokasi di lereng selatan Gunung Batukaru atau tepatnya di Desa Jatiluwih, Penebel.

Rombongan dari Puri Ubud yang dipimpin Cokorda Khrisna Sudarsana ini juga diikuti oleh seorang perempuan muda warga Filipina, Jacquelyn Sy. Menariknya, usai persembahyangan Jacquelyn menceritakan tentang pesan niskala yang diterimanya. Seperti apa? Berikut laporannya.

Perempuan berparas cantik kelahiran Manila 13 Juni 1980 ini menyebutkan Tabanan ibaratnya berada ditengah satu bintang segi lima. Pada kelima sisinya mengandung unsur Panca Maha Butha. Yakni unsur api, tanah, air, udara dan akasa.

“Dengan dikelilingi oleh lima unsur tersebut menjadikan Tabanan memiliki cahaya spiritual yang sangat kuat,” ungkapnya.

Cahaya spiritual tersebut lanjutnya, akan semakin bercahaya apabila kelima unsur tadi sudah seimbang dan akan menjadi taksu yang sangat hebat bagi Tabanan kedepan. Setidaknya, dengan seimbangnya kelima unsur tadi akan menjadikan kehidupan masyarakat Tabanan semakin sejahtera.

Jacquelyn menambahkan, saat ini kelima unsur yang mengelilingi Tabanan tersebut belum seimbang. Contohnya, belum seimbangnya pada unsur api dan air. Ini akan berdampak terhadap sikap apatis masyarakat terhadap pemerintah.

Menariknya lagi, Jacquelyn mengingatkan bahwa ketidakseimbangan antara unsur api dan air tadi juga dikarenakan lemahnya berbagai pihak di Tabanan dalam pengelolaan sampah plastik yang kemudian berimbas pada terbunuhnya banyak unsur pada kesuburan tanah.

Terhadap kondisi tersebut Jacquelyn yang telah mengunjungi 60 negara dan sejak dua tahun terakhir pulang pergi Bali-Filipina ini mengingatkan agar semeton Tabanan mengembalikan dirinya pada jejak-jejak luhur para leluhurnya dalam menghormati alam, terutama tidak merusak alam Bali dengan membuang sampah plastik. Termasuk menghentikan penggunaan plastik dan menghentikan pembuangan sampah plastik di Pura atau tempat suci.

“Jadikan pura atau khayangan sebagai tempat suci yang semestinya. Menjaga kesucian pura harus dengan meminimalisir atau meniadakan sama sekali penggunaan plastik di pura,” sebutnya.

Jacquelyn juga mengatakan, terkait dengan menjaga cahaya taksu Tabanan dengan meniadakan penggunaan plastik ini, bisa dilihat dari berbagai lontar-lontar kuno yang sangat jelas mengisyaratkan bahwa para leluhur orang Bali sangat menghormati alam dan hidup selaras dengan alam tanpa tergantung dengan penggunaan plastik.

Memang, plastik sendiri umum digunakan dalam beberapa dekade terakhir ini. Namun justru semenjak penggunaan plastik umum oleh manusia hingga oleh manusia Bali di berbagai tempat suci, kesucian pura mulai tercemar.

Dengan puitis Jacquelyn menyebutkan bahwa masyarakat Tabanan dan juga Bali harus selalu sadar dan bangga bahwa Wanoa Wangsul atau Nusa Bali yang kini lebih dikenal dengan Bali adalah tanah yang sangat istimewa. Salah satu keistimewaan ya adalah Bali merupakan salah satu dari 13 pintu cakra yang ada di planet bumi ini.

Tentu saja, keistimewaan yang dimiliki Bali tersebut harus selalu dijaga oleh seluruh komponen masyarakat Bali.

Termasuk pula oleh masyarakat Tabanan yang ibaratnya hidup ditengah wilayah yang menyerupai bintang segi lima dan mengandung lima unsur tadi. Dari pesan niskala yang diterimanya, Jacquelyn berharap masyarakat Tabanan benar-benar menjaga alam Tabanan dengan prinsip-prinsip kelokalan dan menempatkan alam atau ibu pertiwi sebagai ibu kehidupannya.

“Jika masyarakat Tabanan tidak mampu menjaga cahaya dari lima unsur tersebut, bisa dipastikan cahaya tersebut akan terus yang artinya kehidupan masyarakat Tabanan akan hancur,” tutupnya. (dewa/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...