Kewajiban Rapid Test Pelaku Perjalanan Dicabut Diganti Ukur Suhu Tubuh, Ini Penjelasannya

Ker foto: Ilustrasi Petugas sedang mengukur suhu tubuh seseorang sebagai langkah awal pemeriksaan kesehatan pencegahan penyebaran pandemi Covid-19, Rabu (9/9/2020)
Ker foto: Ilustrasi Petugas sedang mengukur suhu tubuh seseorang sebagai langkah awal pemeriksaan kesehatan pencegahan penyebaran pandemi Covid-19, Rabu (9/9/2020)

JAKARTA, balipuspanews.com – Kementerian Kesehatan dikabarkan mencabut aturan kewajiban melakukan rapid test atau tes usap (swab test) kepada orang yang akan melakukan perjalanan dan menggantinya dengan cukup mengukur suhu tubuh. Kabar inipun menyedot perhatian publik.

Menanggapi isu tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto di Jakarta, Rabu (9/9/2020) menjelaskan sesuai Kepmenkes yang terbit pada 13 Juli 2020 lalu itu, rapid test tetap digunakan tetapi tidak digunakan untuk diagnostik. Penggunaannya tetap dilakukan dalam situasi tertentu.

Dengan Kepmenkes itu, maka surat keterangan rapid test dan swab test akan diganti dengan pengisian Health Alert Card (HAC) dan pengecekan suhu tubuh sebagai skrining awal di pintu masuk negara.

“Penggunaan rapid test tetap dilakukan pada situasi tertentu seperti dalam pengawasan pelaku perjalanan,” terang Yuri, panggilan akrab mantan Juru Bicara Satgas Penanggulangan COVID-19 ini.

Yuri menegaskan meski meniadakan rapid test dalam perjalanan domestik melalui darat, laut maupun udara, namun pemerintah tidak akan kendur dalam melakukan pengawasan pelaku perjalanan dalam negeri (domestik).

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), orang yang melakukan perjalanan tidak akan dites, penemuan kasus baru akan difokuskan di pintu masuk wilayah.

Secara umum kegiatan penemuan kasus baru COVID-19 di pintu masuk diawali dengan penemuan kasus pada pelaku perjalanan. Aturan itu juga mengartikan bahwa pelaku perjalanan sebagai orang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.

Dengan demikian, pencabutan aturan rapid test untuk pelaku perjalanan itu boleh jadi mempertimbangkan kelemahan dari rapid test itu sendiri.

Pasalnya, seseorang yang mendapatkan hasil rapid test positif (reaktif) harus memastikan kembali dengan pemeriksaan lanjutan swab PCR, sementara seseorang yang mendapatkan hasil rapid test negatif (non-reaktif) idealnya perlu mengulang rapid test dalam 7 – 10 hari kemudian dikarenakan antibodi yang diperiksa melalui rapid test tidak langsung terbentuk saat terinfeksi Virus Corona, namun diperlukan waktu minimal 7 hari setelah infeksi virus hingga antibodi terbentuk.

Adapun swab PCR memiliki kelebihan dengan keakuratannya dalam menguji atau mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 atau Covid-19 pada awal infeksi virus di dalam tubuh seseorang. Namun, kekurangannya adalah, metode ini memerlukan prosedur pemeriksaaan yang lebih rumit dan waktu hasil pemeriksaannya yang lebih lama.

Penulis/Editor : Hardianto/Oka Suryawan