Pemutaran sineme maestro di sinema Bentara
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Gianyar, balipuspanews.com- Kisah maestro seni rupa Ida Bagus Made Poleng, Kartika Affandi, hingga Nyoman Gunarsa, menghiasi layar Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB). Selama dua hari, 20-21 Juli 2018, program Sinema Bentara secara khusus menayangkan film-film terpilih selaras tajuk “Cerita Maestro: Dari Ida Bagus Made, Gunarsa, Seraphine hingga Masoudov”.

Berkonsep Misbar, pemutaran film ini diselenggarakan di halaman terbuka dengan layar lebar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Kali ini didukung oleh Satu Langkah Creative, FTV ISI Yogyakarta Angkatan 2016, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club.

Pada Jumat (20/7), dihadirkan dokumenter Ida Bagus Made Poleng (1915-1999), seorang pelukis visioner asal Bali.  Sedini usia 21 tahun telah bergabung dengan Pitamaha Artist Guild. Lukisannya kini dikoleksi oleh lembaga bergengsi di seluruh dunia, termasuk PBB, New York Museum of Modern Art (MOMA), Royal Tropical Institute Museum (Amsterdam) dan Royal Museum Etnografi (Leiden). Di Indonesia, lukisannya dikoleksi Presiden Ir. Soekarno, Museum Puri Lukisan, Museum Neka, Agung Rai Museum of Art, Museum Budaya di Bentara Budaya, dan banyak lainnya.

Film berdurasi 24 menit ini diproduksi oleh Yayasan Pararupa serangkaian Pameran Tunggal Ida Bagus Made di Darga Gallery, Sanur tahun 1998 silam. Sebagai produser adalah Putu Suasta dan Putu Wirata, serta pengarah yakni Jais Darga Wijaya.

Pada kesempatan tersebut, penonton diajak pula meresapi elan kreatif perupa perempuan, Kartika Affandi, melalui film dokumenter produksi FTV ISI Yogyakarta angkatan 2016. Film yang disutradarai Gilang Kelana Putra ini diproduksi tahun 2009.

Pada tahun 1957, Kartika Affandi mengadakan pameran lukisan bersama dengan pelukis wanita lainya di Yogyakarta untuk pertama kalinya. Pada tahun 1980, ia pergi ke Wina, Austria untuk belajar di Academy of Fine Arts jurusan Teknik Pelestarian dan Pemulihan benda-benda seni, kemudian meneruskan belajar di ICCROM (Pusat Pelestarian dan Pemulihan Properti Budaya Internasional) di Roma Italia. Selain di Indonesia, ia telah berpameran di berbagai belahan dunia, seperti: Brazil, Roma, Belgia, Jerman, Prancis, Algeria, Asia, dan lain sebagainya.

Di samping Ida Bagus Made Poleng, Bali juga memiliki tokoh seni yang tidak kalah cemerlang, I Nyoman Gunarsa. Lukisan berjudul Barong karya I Nyoman Gunarsa merupakan salah satu karya seni yang dikoleksi di Museum Lata Mahosadhi ISI Denpasar.

Melalui dokumenter karya sutradara Nyoman Lia Susanthi (Dosen Televisi dan Film ISI Denpasar), penonton diajak lebih jauh menyelami perihal riwayat, latar belakang, proses cipta lukisan tersebut, berikut wawancara mendalam dengan Sang Pelukis, I Nyoman Gunarsa.

Film ini ditayangkan pada hari kedua, Sabtu (21//07). Secara khusus, sang sutradara juga hadir mengisi sesi diskusi sinema perihal proses kreatif pembuatan film dimaksud, berikut pandangannya mengenai sosok sang maestro.

Tak hanya dokumenter maestro seni Indonesia yang ditayangkan. Sinema Bentara kali ini juga mengetengahkan film fiksi terpilih dari mancanegara, yakni Prancis dan Italia.

Melalui film cerita berjudul Séraphine, tergambarkan sosok dan kreativitas perupa perempuan Séraphine Louis. Meski berasal dari lelas sosial bawah,  Séraphine memiliki bakat melukis luar biasa. Uhde, seorang kritikus seni terkenal, bertemu dengannya dan melihat lukisannya amat sangat menjanjikan. Pada 1942, Séraphine meninggal dan karya-karya seninya menjadi terkenal serta dihormati. Film yang disutradrai Martin Provost ini memenangkan Penghargaan César 2009 untuk Film Terbaik.

Namun agak berbeda dari 4 judul tadi, film dari Italia berjudul Il Maestro E Margherita (1972), mengisahkan tentang Nikolaj Maksudov, seorang dramawan utama dari Uni Soviet. Film berlatar tahun 1930-an di Moskow ini merupakan produksi kerjasama Italia – Rusia, adaptasi dari buku sohor berjudul sama karya Michail Bulgakov. Sebagai sutradara Aleksandar Petrović. (rls/bas)

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar...