Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Sungguh malang nasib dialami dadong Ketut Sukranis (65). Lansia mengalami kebutaan sejak lahir tersebut, kini harus hidup sebatang kara tanpa anak, suami ataupun keluarga merawat di usia senjanya.

Tempat berteduh, perempuan tua tersebut menempati sebuah dapur berukuran kurang lebih 2 x 3 meter persegi, terletak Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Bangunan usang ditempati dadong Sukranis jauh dari kategori layak huni, atap genteng dapur sudah bocor di mana-mana. Bahkan, setiap kali hujan turun, air akan membasahi lantai beralaskan tanah itupun jadi becek.

Konon, bangunan tua tersebut merupakan warisan dari orangtua dadong Sukranis, sudah berdiri sejak tahun 1974 lalu.

Setiap hari, dadong Sukranis tidur tanpa alas apapun pada sebuah bale bambu diletakkan di sudut dapur, berdesakan di antara perabotan di ruangan teramat sempit, terasa pengap, dan gelap gulita lantaran minim penerangan lampu.

Kepada awak media, dadong Sukranis mengungkapkan, selama puluhan tahun hidup sebatangkara dirinya belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah keterbatasan fisik dimiliki, dadong Sukranis bekerja menjarit porosan (bahan sesajen), dijual kepada pembeli yang datang sendiri ke rumahnya.

Keuntungan dari hasil menjual porosan, ia sisihkan untuk membeli beras, lauk pauk, serta membayar listrik setiap bulannya harus dibayar sekitar Rp 20 ribu.

Namun, jika hujan turun dadong Sukranis terpaksa menunda pekerjaan, memilih tidak berjualan bahkan memasak pun berhenti, karena air hujan tampias ke dalam dapur.

Dadong Sukranis pun berharap ada bantuan dari Pemerintah sehingga dapat meringankan beban hidupnya.

“Boleh saya minta bantuan kepada pemerintah? Bantuan perbaikan rumah, atau apa saja boleh. Tinggal sendiri, tidak ada siapa-siapa disini. Kalau orangtua sudah meninggal. Semua saudara perempuan juga sudah menikah,” ungkap dadong Sukranis didampingi Kadus Kelod Kauh Nyoman Marsajaya, Jumat (2/3).

Sementara, Kadus Marsajaya tak menampik jika dadong Sukranis tergolong warga kurang mampu, bahkan belum pernah tersentuh bantuan apapun dari pemerintah.

Menurut Marsajaya, usulan bantuan dari pemerintah kepada dadong Sukranis selama ini terkendala administrasi kependudukan.

“Dari pihak pemerintah desa, selalu mencantumkan nama Dadong Sukranis jika ada program bantuan apapun dari pemerintah daerah, provinsi, atau pusat. Namun, karena tidak memiliki kartu keluarga (KK), juga Kartu Tanda Penduduk (KTP), usulan kepada pemerintah kandas,” ujarnya.

Marsajaya pun mengaku sudah berupaya melakukan kordinasi, dan meminta bantuan kepada petugas Disdukcapil Buleleng untuk menjemput dadong Sukranis dalam pembuatan administrasi kependudukan.

“Sempat kami meminta bantuan kepada petugas Disdukcapil saat acara perekaman e-KTP di Panji, namun belum ada tindak lanjut sampai sekarang. Maksud kami, biar dadong Sukranis bisa dijemput kesini, dibuatkan KK, juga KTP, ” jelasnya.

Mentok mendapat bantuan dari pemerintah, pihaknya berupaya menggandeng berbagai komunitas bergerak di bidang kemanusiaan.

“Beberapa komunitas sosial kerap datang,  mengunjungi dan memberikan donasi, juga  sembako kepada dadong Sukranis,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar...