Komplotan Penjual Surat Kesehatan Palsu Digulung

Kapolres Jembrana AKBP Ketut Gede Adi Wibawa tunjukan surat keterangan kesehatan palsu dan pelaku penjual surat keterangan kesehatan palsu
Kapolres Jembrana AKBP Ketut Gede Adi Wibawa tunjukan surat keterangan kesehatan palsu dan pelaku penjual surat keterangan kesehatan palsu

NEGARA, balipuspanews.com – Pelaku penjual surat keterangan kesehatan palsu di Gilimanuk ternyata bukan hanya dua orang. Mereka yang memafaatkan larangan menyebrang bagi yang tidak membawa persyatatan lengkap sesuai SE nomor 04 Tahun 2020 tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penangangan covid-19, untuk mencari keuntungan pribadi ternyata memiliki komplotan.

Kapolres Jembrana AKBP Ketut Gede Adi Wibawa didampingi Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk Kompol, Gusti Nyoman Sudarsana dan Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Yogie Pramagita, Jumat (15/5) menyampaikan komplotan beranggotakan tiga orang itu digulung pada Kamis (14/5) dinihari.

Mereka adalah Ferdinand Marianus Nahak, 35. Yang beralamat di jalan Uluwatu , lingkumngan Jero Kuta Jimbaran, Kelurahan Jimbaran,Kecamatan Kuta Selatan, Badung yang berperan mengisi identitas para penumpang yang membeli surat keterangan kesehatan palsu dan menandatangani surat dalam blangko Dokter Aulia Marlina.

Kemudian Putu Bagus Setya Pratama, 20, pengurus travel warga Lingkungan Pengumuman, Kelurahan Gilimanuk yang berperan menyuruh memperbanyak blangko surat keterangan sehat palsu tersebut kepada pelaku Surya Wira Hadi Pratama, 29, yang bekerja dfi percetakan warga Lingkungan Arum, Gilimanuk.

Wira Hadi Pratama juga berperan menawarkan blangko kesehatan kosong dan memperbanyak surat keterangan sehat palsu itu.

“Ketiga pelaku ini memiliki tugas masing-masing,” ujarnya.

Aksi komplotan ini terungkap saat menjual surat keterangan kesehatan palsu kepada penumpang mobil travel Manik Mas DK 8888 AAA didepan pasar Gilimanuk.

Penumpang tersebut yakni Muhamad Rois, 29, warga Sampang Bulmatet, Kecamatan KarangPenang, Kabuoaten Sampang, Madura, Siti Fadilah, 28. Warga dusun Krajan, desa Jatisari, Kecamatan Jenggawah, Jember dan Moh. Ghofron, 46, warga dusun Krajan, desa Jatisari, Kecamatan Jenggawah, Jember serta

Mohamad Dafa Pratama, 20, warga dusun Krajan, desa Tanggulkulon, Kecamatan Tanggul. Jember, Heri Santoso,44 warga desa Tanggulkulon, Kecamatan Tanggul, Jember.

“Awalnya pelaku Ferdinad Marianus Nahak yang diamankan sekitar pukul 00.39 saat membagikan surat keterangan kesehatan yang diduga palsu kepada para penumpang mobil travel itu. Setelah diintrograsi dia mengaku bahwa surat keterangan kesehatan yang diduga palsu diperoleh dari pelaku Putu Bagus Setya Pratama yang diamankan kemudian dan dari pengakuan Ptarama surat keterangan kesehatan yang diduga palsu tersebut diperoleh dari pelaku Surya Wira Hadi Pratama,” ungkapnya.

Setelah diamankan Surya Wira Hadi Pratama mengaku awalnya pelaku Putu Bagus Setia Pratama membawa blangko kesehatan ke percetakan miliknya untuk diedit, namun pelaku Wira Hadi Pratama menawarkan blanko surat kesehatan yang telah dia buat sendiri dikomputer miliknya dengan harga Rp. 1000 perlembar dan disepakati untuk diperbanyak yang akan diberikan kepada pelaku Ferdinand dan kemudian dijual seharga Rp. 25 ribu perlembar kepada para penumpang travel.

“Selain menjual kepada para penumpang mobil travel itu, juga dijual kepada pengendara sepeda motor Muhamad Rois seharga Rp. 100.ribu,” jelasnya. Barang bukti yang diamankan yakni 5 a) lembar Surat Keterangan Dokter/ Kesehatan yang sudah di isi data

lengkap beserta tanda tangan yang dibubuhkan oleh Ferdinand Marianus Nahak, yang Rp,200 ribu, 6lembar embar blanko Surat Keterangan Dokter/Kesehatan yang berisi nomor register dan identitas perorangan, namun belum berisi identitas dan tanda tangan di atas stampel atas nama dr Aulia Marlina dan pulpen dua posnel Samsung A10 warna biru dan Oppo F11, serta satu unit computer.

“Mereka dijerat pasal 263 KUHP atau Pasal 268 KUHPtentang membuat surat palsu atau membuat surat keterangan dokteryang palsu dengan ancaman enam tahun penjara,” terangnya.

Penulis/editor : anom