Pertemuan terbatas Wayan Koster dan anak-anak muda yang digelar di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Karangasem
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Karangasem, balipuspanews.com – Tak hanya dari kalangan orang-orang tua saja, calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Koster-Ace) rupanya familiar di kalangan anak-anak muda.

Seperti yang terungkap pada pertemuan terbatas yang digelar di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Karangasem, Selasa 13 Maret 2018. Pada acara yang difasilitasi oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Karangasem sekaligus Ketua Tim Pemenangan Koster-Ace Kabupaten Karangasem, I Gede Dana dihadiri sejumlah anak-anak muda lintas elemen.

Salah satu hal yang menjadi sorotan mereka adalah masalah pendidikan sebagaimana disampaikan oleh Ni Putu Laksmiati. Ia meminta kepada Koster untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Karangasem. Tentu saja, agar mereka bisa bersaing di sektor pekerjaan.

“Tamatan SMA di bidang pekerjaan agak sulit, karena pekerjaan sekarang harus S1. Kalau Pak Koster berencana membuat SMA di Karangasem, alangkah lebih baiknya sekalian buat universitas bagi tamatan SMA yang tak mampu melanjutkan pendidikannya,” ujar dia.

Aspirasi berbeda disampaikan oleh I Gede Agus Mahardika yang mewakili pemuda STT Banjar Bengkel, Kecamatan Manggis. Ia meminta Koster memperhatikan nasib desa adat, utamanya segala keperluan yang berkaitan dengan prosesi ritual adat dan agama. Seperti yang dialami banjarnya, meski telah memiliki baleganjur tetapi peralatan lainnya seperti kendang sudah tak layak pakai.

“Kami ingin mengusulkan kalau bisa perwakilan sekaa dapat bantuan bleganjur. Kami sudah mengajukan bantuan, tapi tidak direspon sama sekali,” ucapnya.

Sementara itu, Komunitas Sanggar Seni Purna Semarti yang diwakili Ni Komang Fitri Amani asal Desa Amed, Kecamatan Selat menyampaikan minimnya perhatian terhadap komunitas seni di Kabupaten Karangasem.

“Sanggar kami berdiri pada tahun 2014. Sanggar kami sering ngayah di pura, tetapi kekurangan pakaian atau seragam untuk pentas seperti pakaian Rejang Dewa. Ke depan saya minta kepada Pak Koster agar memperhatikan hal-hal demikian. Berikan mereka bantuan agar bisa tampil maksimal,” kata Fitri Amani.

Di kesempatan yang sama, Ketut Jata Mertayasa asal Desa Manggis mengeluhkan pasokan air di desanya. Saban bulan, ia dan warga desanya harus merogoh kocek dalam-dalam untuk keperluan air tersebut.

“Di desa kami harga air sangat mahal, sekitar Rp 200- Rp 300 ribu tiap bulan saya bayar. Padahal, sumber air ada di sana, tetapi harganya mahal. Tapi saya baca di koran PDAM merugi. Ini sudah berlangsung sejak dua hingga tahun belakangan. banjar kami berbukit, sudah ditanami pipa, tapi hanya pipa saja belum dialiri air,” keluh dia.

Aspirasi datang juga dari Putu Yudi Suryawan yang berharap Koster dapat memperhstikan segala kebutuhan operasional desa adat, salah satunya alat komunikasi. Hal itu menurutnya penting untuk digunakan pada saat upacara adat atau kegistan di pura komunikasi yang terbangun bisa erjalan dengan baik.

“Kami sudah melakukan penggalian dana, tapi uangnya belum cukup karena alatnya mahal. Satu kecamatan Sidemen terdiri dari beberapa banjar, kami biasa berkomunikasi bersama jika ada acara. Kami setuju dengan program Pak Koster di bidang pendidikan dan kesehatan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Wayan Koster menyampaikan terima kasih atas aspirasi yang disampaikan anak-anak muda Karangasem. Apa yang dikeluhkan, sudah terangkum dalam visi, misi serta program kerjanya kelak yang dirangkum dalam konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Untuk pendidikan misalnya, Koster akan membangun SMA beserta asramanya bagi siswa miskin berprestasi di Karangasem. Konsep pengelolaannya mirip dengan SMA Bali Mandara yang dicetuskan oleh Gubernur Made Mangku Pastika di Kubutambahan, Buleleng.

Begitu juga dengan perguruan tinggi, Koster sudah memikirkan untuk membangun Akademi Komunitas dengan program studi Diploma I dan II dengan jurusan ywng sesuai dengan kebutuhan Karangasem. Akademi serupa sukses dibangun Koster di Gianyar pada tahun 2013 dan Jembrana tahun 2015.

“Terima kasih atas penyampaian aspirasinya. Aspirasi ini sudah sesuai dengan program saya. Begitu terpilih pada 27 Juni mendatang, apa yang menjadi keinginan anak-anak muda Karangasem ini kita realisasikan,” kata Koster. (bp)

Tinggalkan Komentar...