Rabu, Februari 28, 2024
BerandaNasionalJakartaKritik Ade Armando atas Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta Ngawur dan Ahistoris

Kritik Ade Armando atas Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta Ngawur dan Ahistoris

JAKARTA, balipuspanews.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Hilmy Muhammad menilai kritik Ade Armando terhadap Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai anggapan tanpa dasar dan ahistoris.

Penegasan disampaikan Hilmy menanggapi pernyataan Ade Armando yang menyatakan bahwa politik dinasti telah terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur tanpa melalui pilkada.

“Ngomong itu bebas, tapi kalau tak punya dasar, namanya ngawur. Gubernur dan Wakil Gubernur DIY itu ditetapkan melalui UU Keistimewaan, kalau ada yang mempermasalahkan itu, berarti dia ahistoris dan tak memahami konstitusi,” ujar Senator asal D.I. Yogyakarta tersebut dalam keterangan tertulis, Senin (4/12/2023).

“Barangkali dia juga kurang memahami tentang politik dinasti dan sistem monarki, hanya mengikuti tren pembicaraan nasional. Namanya juga pegiat media sosial, tapi sebagai akademisi ya jangan begitulah, apalagi dia caleg,” katanya.

Pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut menyampaikan, dalam UU Keistimewaan tahun 2012, Gubernur dan Wakil Gubernur DIY disyaratkan bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono untuk calon Gubernur dan bertahta sebagai Adipati Paku Alam untuk calon Wakil Gubernur.

BACA :  Dukung Kreativitas Anak, Bupati Sanjaya Buka Pawai Ogoh-Ogoh Mini Festival Ogoh-Ogoh Singasana Tahun 2024

Hal ini, menurut Gus Hilmy menjadi salah satu pengakuan Pemerintah terhadap peran Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman di masa lalu. Dari peran itu, menurutnya, mudah dipahami mengenai status keistimewaan Yogyakarta.

“Sebelum kemerdekaan Republik ini, Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sudah memberikan sumbangsihnya yang sangat besar. Kan kita mengenal Yogyakarta tidak sekadar sebagai kota pelajar, tetapi juga kota pergerakan, kota revolusi, dan pernah menjadi Ibu Kota Negara. Ini kan sebenarnya mudah dipahami, mengapa DIY mendapatkan status istimewa. Memang harus ada pembeda antara yang istimewa dengan yang lainnya,” jelas Gus Hilmy.

Meski demikian, Gus Hilmy meminta masyarakat untuk tidak terlalu reaktif dalam menanggapi kritik Ade Armando tersebut dan tetap menciptakan suasana yang kondusif. Apalagi pegiat media sosial itu sudah meminta maaf.

“Terlalu besar energi kita untuk mengurusi satu orang. Terlebih hari ini suasana politik sedang panas-panasnya. Mari kita ciptakan suasana yang damai sebagaimana slogan kita, Yogyakarta berhati nyaman. Dia sudah meminta maaf, ya kita maafkan. Tapi tetap kita catat namanya,” pesan Gus Hilmy.

BACA :  Marak Upaya Gusur dan Geser Suara, Mahfuz Sidik: Bentuk Kecurangan Pemilu Legislatif

Penulis : Hardianto
Editor : Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

spot_img

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -

Most Popular