Bayi kembar siam saat menjalani perawatan di Ruang Niccu RSUD Buleleng didampingi dokter speialis anak, dr. Suciawan.
sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com — Bayi berjenis kelamin perempuan buah hati pasangan Kadek Redita (24) dan istrinya Putu Ayu Sumandi (18) terlahir dalam kondisi kembar siam. Bayi mungil memiliki berat 4.2 Kilogram, dan panjang 49 centimeter itu, dilahirkan dalam kondisi stabil.

Meski begitu, bayi mungil itu kini harus dirujuk ke RS Sanglah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut lantaran pihak medis RSUD Buleleng menemukan adanya kelainan jantung pada kedua bayi tersebut, sehingga perlu dilakukan penanganan lebih lanjut.

Dokter Spesialis Anak RSUD Buleleng, Nyoman Suciawan menyebutkan, jika bayi kembar dengan berat 4.2 Kilogram, dan panjang 49 centimeter itu dalam kondisi stabil. Namun pihaknya menemukan adanya kelainan jantung pada kedua bayi tersebut. Selama ini, bayi malang itu dirawat di ruang Niccu.

Selama di ruang Niccu, dr Suciawan mengaku hanya memberikan penangan berupa menghangatkan bayi, memberikan cairan, dan memberikan makanan yang cukup melalui selang.

 

Imbuh dr. Suciawan, saat ini pihak RSUD Buleleng belum memiliki dokter bedah khusus untuk menangani bayi kembar siam. Untuk itu, pihaknya berencana akan merujuk bayi kembar tersebut ke RSUP Sanglah.

 

“Kami belum bisa melakukan pemeriksaan lebih detail, apakah organ dalamnya itu lengkap atau bagaimana. Kami belum lakukan rontgen karena alat disini (RSUD Buleleng) belum memungkinkan untuk itu. nanti sekalian di Sanglah di cek. Biar pasien juga tidak terlalu banyak dimanipulatif, sehingga nanti sampai di Sanglah kondisinya tetap stabil,” jelasnya.

 

Lalu apa pemicu kelahiran bayi kembar siam? dr Suciawan menyebut ada banyak faktor yang menyebabkan bayi lahir dalam kondisi dempet. Salah satunya disebabkan oleh polusi udara atau logam berat, yang menyebabkan pembelahan sel menjadi tidak sempurna.

 

“faktornya banyak. Itu terjadi karena permasalahan waktu pembelahan sel. Mestinya sel itu terpisah sempurna, ini menjadi tidak sempurna. Penyebabnya macam-macam, secara genetik bisa atau karena faktor gangguan polusi udara, atau logam berat juga bisa menyebabkan kejadian bayi dempet ini,” ungkapnya.

 

Semenyara, Redita selaku orangtua bayi kembar siam asal Banjar Dinas Kajanan, Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng menuturkan, dirinya sempat merasa syok ketika sang istri melahirkan anak pertamanya itu pada Rabu (3/7) sore. Proses persalinan secara caesar dilakukan di RS Santi Graha, Desa Sulanyah, Kecamatan Seririt.

 

Redika tak menyangka jika anaknya lahir dalam kondisi dempet (menempel) pada bagian dada hingga perut. Malangnya, kondisi ini pun justru baru diketahui Redita, ketika bayi sudah dilahirkan.

 

Masih kata Redita, selama masa kehamilan, sang istri Putu Ayu Sumadi selalu rutin memeriksakan kandungannya di rumah sakit daerah Seririt. Hanya saja saat dilakukan USG dan pemeriksaan, dokter menyebutkan jika bayi kembarnya dalam kondisi normal alias tidak dempet.

 

Namun ketia usia kandungan memasuki 38 minggu itu, bayi itu terpaksa dilahirkan secara caesar mengingat posisinya nyungsang. Redita pun dibuat kaget bukan kepalang saat melihat kondisi bayinya ternyata dalam keadaan dempet.

Begitu dilahirkan, bayi kembar yang belum diberi nama itu pun langsung dipisahkan dari ibunya. Bayi malang itu langsung di rujuk ke RSUD Buleleng, untuk mendapatkan penanganan intesif. Sedangkan ibunya kini masih menjalani perawatan bekas luka caesar di RS Santi Graha, Seririt.

“Dulu saat di USG dokternya sempat bilang Astungkara tidak dempet. Namun ternyata setelah lahir kok dempet. Ya terus terang saya sangat syok,” singkat pria yang kesehariannya bekerja di sebuah toko bangunan.