Laris Diburu Konsumen, Petani Bunga Hias Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com – Petani bunga hias di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng kewalahan memenuhi pangsa pasar. Pasalnya, produksi bunga hias belum mampu memenuhi kebutuhan pasar floris Bali.

Meski selama ini, peluang bisnis bunga hias memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan, namun petani hanya mampu penuhi pasokan pasar sebesar 20 persen di Bali, dan sisa pemenuhan terhadap konsumen didatangkan dari luar pulau Bali.

Apa penyebabnya?

Rupanya, para petani di Pancasari lebih tertarik berbudidaya sayur ketimbang bunga hias.

“Sekarang kita tanam sayur, sekarang panen, dapat hasil. Kalau budidaya bunga hias memang agak butuh proses. Cuman kalau dari prospek, harga bunga cenderung stabil. Fluktuasinya hampir tidak ada, dibandingkan sayur. Ini hanya mindset saja,” singkat A.A Ngurah Bagus Indra seorang pengusaha bunga hias asal Denpasar.

Bunga yang menjadi primadona seperti Krisant, Calla Lilly, Snap Dragon dan Lilly adalah jenis bunga hias yang cukup laku di pasar floris Bali.

Empat jenis bunga ini dapat tumbuh subur di kawasan Desa Pancasari dikenal memiliki kondisi alam sejuk, dan ditunjang oleh cadangan air berlimpah.

Kelompok Tani Bunga Mekar Sari, Desa Pancasari, merupakan salah satu kelompok tani bunga yang telah mengembangkan budidaya bunga hias sejak tahun 2013.

Kelompok ini, membudidayakan beragan bunga hias, seperti bunga Krisant, Calla Lilly, Snap Dragon, Lilly Snow Queen dan Pisang Hias.

I Gede Sudiatmika, kordinator kelompok tani bunga Mekar Sari mengatakan budidaya bunga hias di Pancasari didukung oleh iklim dan ketersediaan air yang cukup melimpah, sehingga hal tersebut praktis membuat biaya perawatan serta budidaya bunga hias di Pancasari tergolong murah.

“Nilai jual bunga hias memang sangat menjanjikan karena biaya perawatannya sangat murah. Pemeliharaan tanpa perlakuan khusus, tinggal pemberian pupuk saja. Otomatis, cost produksinya kan jadi rendah, tapi marginnya lebih menguntungkan,” kata Sudiatmika ditemui Minggu (3/8) pagi.

Selama ini, sambung Sudiatmika pihaknya sengaja memilih bunga-bunga yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan bernilai jual ekonomis. Proses budidaya bunga hias dilakukan dengan memanfaatkan rumah lindung.

Dibalik tingginya permintaan konsumen, sebuah tantangan menanti para petani bunga hias.

Terkadang, para petani mengalami kendala pada bagian pembenihan, lantaran pemenuhan akan benih untuk budidaya bunga hias ini masih disuplay dari pulau Jawa.

“Ya, kami membutuhkan benih yang beragam untuk membudidayakan bunga hias ini. Tapi, ya itu tadi, pemenuhan kebutuhan akan benih bunga masih menjadi kendala bagi kami,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar...