14/08/2020, 10:46 AM
Beranda Bali Denpasar Legenda Wayan Kari dan Rayakan Imlek di Kota Tua (1), Anak Pedagang...

Legenda Wayan Kari dan Rayakan Imlek di Kota Tua (1), Anak Pedagang Kopi Sukses Berkat sekolah Tionghoa

DENPASAR, balipuspanews.com – Almarhum Wayan Kari dikenal sukses dalam usaha bidang jasa pariwisata, ternyata sosok dibalik suksesnya bisnis pria asal Manggis, Karangasem ini tak terlepas dari pendidikan di sekolah Tionghoa, seperti apa kisahnya? Berikut hasil penelusuran wartawan balipuspanews.com

Kebudayaan Negeri China menjadi salah satu unsur yang mempengaruhi alkulturasi Bali hingga kini. Terlihat dari arsitektur, tidak saja pada perumahan namun juga pada tempat ibadah, Pura.

Penggunaan Pis Bolong (koin bertuliskan huruf China) pada perangkat upakara agama Hindu, juga adanya tarian barong, dan juga barong landung yang bersumber dari cerita legenda tentang Raja Jayapangus, Dewi Danu dan Putri dari negeri China bernama Kang Cing Wie. Adanya Pura Balingkang, Kongco (tempat sembahyang bagi warga Tionghoa) di dalam Pura Sad Kahyangan Batur, yang juga disembahyangi umat Hindu Bali.

Di Pura Besakih, juga ada pelinggih Ratu Subandar, dan Pelinggih Ratu Subandar ini, secara sporadis tersebar di sejumlah Pura di Bali.

Warga Tionghoa, perantauan dari negeri China yang telah menetap turun temurun, tidak bisa terpisahkan dari perkembangan Bali, mereka menetap dan menyatu dengan warga setempat, memiliki kuburan dan tempat ibadah untuk mereka berinteraksi pada sesamanya, seperti di daerah pegunungan Kintamani, Baturiti, Payangan dan Pupuan.

Di daerah perkotaan Singaraja, Karangasem, Klungkung, Gianyar, Negara, Tabanan, Denpasar dan juga di pesisir desa Tanjung Benoa.

Kota Denpasar menjadi pusat perekonomian, termasuk pusat barang barang yang didistribusikan ke daerah daerah yang disebut di atas, dimana komunitas Tionghoa menetap, dan juga menjadi pusat tujuan pengiriman hasil bumi dari daerah daerah, yang terpusat di Pasar Badung, pusat perekonomian yang telah bertumbuh seratusan tahun ini.
Warga Tionghoa Denpasar terpusat ruas jalan Gajah Mada dan jalan Kartini, dekat dengan Pasar Badung.

Namun ini bukan Pecinan dalam arti sesungguhnya, karena di belakang rumah toko mereka, adalah rumah-rumah warga banjar Wangaya Kelod, Titih, Pemeregan, Grenceng dan Langon, Juga Pura Desa Denpasar di Jalan Gajah Mada. Juga ada daerah yang disebut kampung Arab, karena dihuni warga Arab dan India di jalan Sulawesi, terdapat juga di sini sebuah Masjid.

Warga Tionghoa di kawasan ini punya perkumpulan Suka Duka bernama Kertha Semadi, tempat ibadah berupa Kelenteng. Dan dulunya juga punya sekolah Chung Hua Chung Hui di jalan Kartini.

Sekitar 1942, adalah Wayan Kari, seorang anak pedagang kopi di dalam pasar Badung sedang bingung dengan masa depannya. Karena sekolah Taman Siswa ditutup oleh penjajah Jepang yang baru masuk ke Bali.

Sedangkan Chung Hua Chung Hui yang hanya menerima siswa Tionghoa, tetap dibiarkan melakukan kegiatan sekolah.
Wayan Kari, asal Karangasem yang kala itu punya sepupu yang berayahkan suku Tionghoa, tidak mau mengalah untuk bisa mengenyam pendidikan formal.

Dibantu orang tua angkatnya yang memberinya nama Tionghoa, Go Sian Hong, dia mendaftarkan dirinya dengan mengajak sepupunya Go Sian Li Ke sekolah Chung Hua Chung Hui.

Kulitnya putih dan matanya rada sipit menyebakan banyak kawan kawannya tidak tahu bahwa Go Sian Hong itu adalah Wayan Kari yang lahir dari pasangan Merta asal Gegelang Karangasem dan ibu dari desa Mas Ubud.

Go Siang Hong yang kemudian terkenal dengan panggilan Sanfung ini, sarat prestasi akademis, walau proses belajar menggunakan bahasa Mandarin, dan bukan Bahasa Indonesia ataupun Bali.

Dia bisa membacad tulisan kanji dan bahasa Mandarin yang digunakan untuk menyukai pelajaran filsafat dan cerita dari negeri China dari buku buku yang ada di sekolah.

Tidak sampai disitu, karena ia juga menonjol di bidang olahraga, khususnya basket dan aktif menjadi pemimpinan kepanduan (sekarang Pramuka) di sekolahnya.

Namun demikian, Wayan Kari tetaplah laki laki Bali yang setiap waktu menyempatkan diri sembahyang di Pura, membantu lapak kopi bapaknya dan juga bergaul luas di kalangan anak-anak ragam suku budaya di pemukiman di tepian sungai (tukad) Badung.

Setamat Sekolah Menengah Atas, Wayan Kari sempat melanjutkan di sebuah perguruan tinggi di Malang, namun segera ditarik pulang untuk mengelola toko yang didirikan ayahnya.

Di Bali Wayan Kari dengan cepat menjadi pebisnis yang bisa diterima semua pihak. Dengan kemampuan bahwa Mandarin, ia dipercaya untuk menjadi agen sejumlah barang kelontong dan rokok yang diproduksi di pulau Jawa.

Sehingga dengan cepat bisnisnya berkembang, itu juga karena dia bergaul dengan warga Bali menjadi warga banjar dan punya kewajiban di sejumlah pura, termasuk pura desa. Dia juga bergaul dengan warga Tionghoa di jalan Kartini dan Gajah Mada, dan juga warga Tionghoa lainnya di Bali.

Bisnis yang dilakoni Ayah dari 8 anak ini, dalam perjalannya jatuh bangun. Namun setiap jatuh ia selalu berusaha bangun, dengan modal kejujuran dan kepercayaan kawan kawannya dari beragam suku dan etnis.

Karena itu ia akhirnya bisa menjadi agen utama distributor rokok, kendaraan angkutan umum, hingga perbankan. Dan akhirnya berkibar di bisnis perhotelan, bidang yang tidak pernah dipikirkannya untuk digelutinya.

Prinsip hidupnya selalu didasari kebudayaan China, bahasa Mandarin diserapnya dengan baik di sekolah Chung Hua Chung Hui, ia kombinasikan dengan konsep filsafat Bali Tri Hita Karana dan Hindu yang dipelajari dari Kitab Bhagawad Gita dan Sarassamuscaya, serta Weda lainnya.

Bagaimana Wayan Kari menjadi pengusaha, begitu pula ia mendidik putra dan putrinya, sehingga bisa meneruskan bisnisnya di masa kini. Ia akan carikan putra putrinya guru terbaik, dan disekolahkan pada sekolah yang baik pula. Ia sangat disiplin, seperti ia mendapatkan kedisiplinan di sekolahnya.

Cerita tentang Wayan Kari atau Go Siang Hong atau Sanfung, adalah salah satu cermin tolerasi yang berkembang di Denpasar yang beragam suku dan bangsa ini. Toleransi membawa pemahaman bersama tentang perbedaan dan juga membawa komitme bersama untuk menjaga kerukunan, untuk Perdamaian, Kesejahteraan dan Kemakmuran.
Tahun 2020 tepatnya adalah hari Sabtu (25/1/2020)  merupakan Imlek Tahun 2571. Saatnya Denpasar merayakan kembali toleransi dengan bersuka cita. (Bersambung)

Video lengkap klik link balipuspanews TV di channel YouTube berikut :

Menghilang dari Rumah, Korban Ditemukan Meninggal di Aliran Sungai

GIANYAR, balipuspanews.com - Sempat hilang dari rumah, Ni Ketut Dani,49, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran sungai Subak Sudimara, Lingkungan Sema, Kelurahan Bitera,...

Status Tersangka, Ribuan Orang Tanda-tangan Petisi Bebaskan Jerinx SID yang Ditahan di Polda Bali

DENPASAR, balipuspanews.com - Penahanan pengebuk drum Superman Is Dead Gede Ari Astina alias Jetinx SID di Polda Bali menggoncangkan dunia maya. Ribuan orang menandatangi...