Lestarinya Drama Tari Arja Barong di Kota Denpasar

OPINI, balipuspanews.com -Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Kota Denpasar bisa disebutkan kini berwajah metropolis. Warna-warni kemoderenan kini seakan secara perlahan membungkam keadiluhungan tradisi.

Tetapi, melihat masih derasnya mengalir tradisi di Denpasar tentu tidak bisa hanya berpijak dari warna luar moderenisasinya. Justru kota Denpasar mampu menampilkan identitas warisan budaya dan tradisinya tanpa rekayasa. Wajar dan sangat layak kemudian Kota Denpasar disebut sebagai Kota Budaya.

Nyatanya, ditengah hingar bingar Kota Denpasar dengan segala kemajuannya, ternyata masih banyak ditemukan aktivitas berkesenian. Salah satunya dalam bentuk drama tari arja barong landung.

Sesuai dengan penyebutannya, barong landung dalam Bahasa Bali dapat diartikan barong yang diwujudkan dengan postur tubuh yang tinggi besar. Adapun perwujudan untuk tokoh laki-lakinya dengan muka seram berwarna hitam dan biasanya disebut Jero Gede. Sedangkan tokoh wanita dengan muka lucu (mata sipit, jidat dan pipi menonjol, kuping lebar) berwarna putih atau kuning disebut Jero Luh.

Drama tari arja barong landung sendiri merupakan seni sakral dan langka yang terbilang sangat jarang mendapat ruang pementasan karena tidak terlalu populer di kalangan generasi milenial saat ini. Berbeda dengan zaman dahulu dimana barong landung dipentaskan berkeliling desa (ngelawang). Dalam era kekinian, dramatari arja barong landung hanya dipentaskan di lokasi tertentu saja yakni di pura atau merajan tempat barong landung tersebut distanakan.

Puri Kajanan Padangsambian merupakan salah satu masyarakat pelestari drama tari arja barong landung. Keberadaan barong landung ini sendiri sudah ada sejak turun temurun dan sangat disakralkan oleh umat penyungsung. Setiap hari Kajeng Kliwon dihaturkan upacara penyamblehan. Menariknya, disini barong landung tidak hanya sepasang namun terdapat tiga lagi barong landung pengiring yang diyakini sebagai putra putri Ida.

Menurut penuturan salah satu penyungsung Anak Agung Ngurah Badung Sarmuda Dinata belum lama ini, terdapat beberapa versi mengenai lahirnya barong landung.

Disebutkannya, keberadaan barong landung terdapat pada Lontar Kanda Pat Bhuta dan perwujudan barong sangat terkait dengan peran catur sanak baik di buana agung mupun di buana alit. Dalam konteks ini barong landung merupakan salah satu perwujudan dari catur sanak yakni Banaspati sebagai penguasa arah barat.

Versi lainnya lebih mengkaitkan keberadaan barong landung dengan perwujudan Ida Ratu Gede Mecaling dan cerita raja Bali Shri Aji Jaya Pangus dengan permaisurinya yang berasal dari dinasti Sung Tiongkok bernama Kang Cing Wei.

Ditambahkannya lagi, bahwa barong landung sampai dengan saat sekarang ini dipercaya sebagai penolak bala untuk mengusir serangan penyakit (merana) di suatu desa. Masyarakat biasanya memohon air suci (tirta) sebagai permohonan anugrah kesembuhan, keselamatan dan nunas tamba (obat). Pada umumnya sarana upakara (sesajen) yang dipakai atau dibawa adalah banten pejati ditambah canang sari, pesucian dan segehan serta sarana lain yang diperlukan untuk membuat tamba (biasanya bungkak kelapa hijau atau gading/kuning, masing masing tiga pucuk daun alang-alang (ambengan) padang lepas dan daun dapdap/taru sakti).

Pementasan drama tari arja barong landung dilaksanakan setelah prosesi nunas tirta. Diiringi gambelan batel, barong landung dipentaskan dengan berbagai lakon yang biasanya berupa cuplikan dari sebuah cerita. Adapun beberapa cuplikan cerita yang dipentaskan antara lain berupa cerita rakyat Sampek-Ingtai, Nara Kusuma, Ranggalawe, Cupak-Gerantang, Pakang Raras, Jaya Prana, Basur dan lainnya. Terkadang pementasan juga berupa cerita secara utuh seperti saat dilakukan pementasan calonarang.

Dalam pementasan dramatari arja barong landung seorang pregina harus memiliki multitalenta baik di bidang seni tari maupun seni suara serta penjiwaan terhadap peran yang dimainkan. Berbeda dengan tarian pada umumnya yang mana gerak tubuh dan mimik wajah bisa diatur sedemikian rupa, untuk menarikan barong landung perlu keselarasan tubuh sehingga visualisasi gerak bisa seirama dengan suara gambelan dan terkesan lebih hidup. Selain itu diperlukan juga fisik yang kuat karena seorang pregina harus mengusung beban berat barong selama pementasan berlangsung.

Mantan aktivis mahasiswa Hindu Universitas Udayana ini juga menjelaskan bahwa keberadaan drama tari arja barong landung di zaman post modern ini kurang diminati oleh para generasi milenial yang terkesan lebih memilih tiktok, drama korea atau bahkan sinetron berjudul panjang lebar. Hal Ini dapat dilihat dari para pregina yang menarikan kebanyakan adalah para orang tua. Dramatari arja barong landung ini merupakan seni yang unik yang tak terilai harganya. Sangat disayangkan jika pada generasi berikutnya, keberadaan seni ini akan punah dan tinggal cerita.

Badung Sarmuda Dinata menyebutkan, terkait dengan kondisi ini perlu adanya peran serta berbagai pihak dalam upaya mengajegkan kesenian warisan leluhur ini. Pemerintah sekali-kali perlu memberikan perhatian serius melalui langkah nyata dengan mensuport keberadaan komunitas-komunitas seniman. Dengan demikian kegiatan berkesenian masyarakat Bali sebagai sarana hiburan maupun religius dapat kita lestarikan. Berbagai jenis kesenian yang merupakan warisan adiluhung maupun yang akan diciptakan merupakan perwujudan rasa bakti dan pemujaan orang Bali terhadap Sang Pencipta.

Penulis: Ngurah Arthadana