Liberalisme, Kapitalisme dan Federalisme Pemicu Konflik

Pancasila
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Tabanan, balipuspanews.com – Lahirnya Pancasila berawal ketika Sidang Badan Penyelidik Usaha Usaha Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI) Dr. Radjiman Widyodiningrat , melontarkan pertanyaan ” apa dasar nagara yang akan didirikan ?” Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 tampil menguraikan secara lengkap hasil penggalian dan perenungan terhadap Sejarah dan Budaya Bangsa Indonesia .

Dalam suatu pidato tanpa teks Bung Karno mengetengahkan 5 prinsip dasar yang akan digunakan sebagai dasar tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat yang kemudian disebut PANCASILA .
Setelah Proklamasi Kemerdekaan , Pancasila melalui musyawarah mufakat seluruh komponen Bangsa Indonesia telah diberlakukan sebagai dasar negara, idiologi nasional, dan sumber dari segala sumber hukum nasional.

Pancasila pun dalam perjalanan sejarahnya telah terbukti mampu melawan kolonialisme dan imperialisme , mampu mempersatukan seluruh Bangsa Indonesia , serta menghindarkan dari berbagai upaya memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perjalanan dekade terahkir ini ( jaman reformasi ) ada indikasi Pancasila diabaikan cendrung ditinggalkan sebagian elit bangsa dan elit penyelenggara negara.

Dengan dalih reformasi berbagai pemikiran yang bertentangan dengan Pancasila seperti liberalisme , kapitalisme, federalisme dan sebagainya justru dikedepankan dalam mengelola negara.

Dampak dari tidak konsistennya para penyelenggara negara dalam menerapkan dan mengamalkan Pancasila. Lemahnya dalam melawan ketergantungan , tekanan dan dominasi pengaruh asing melalui mekanisme utang luar negeri dan belum dipahami , diamalkan dan diwujudkannya Pancasila oleh berbagai pihak dimasyarakat.

Akibatnya kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara berada dalam suatu sistem yang bernuansa liberalisme, kapitalisme dan federalisme yang mendorong banyaknya komplik orizontal dan vertikal , sehingga Bangsa Indonesia pun berada dalam ancaman disitegrasi.

Menurut catatan salah satu pengamat nasional Ir. Sunardi. Msi bahwa Pancasila yang dipidatokan Bung Karno memang memgalami beberapa kali penyempurnaan dalam urutan dan rumusan sila silanya , yang pada ahkirnya seperti tertuang dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Tetapi penyempurnaan itu sama sekali tidak merubah substansi dan filosofi isi pidato Bung Karno. Dengan demikian sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, yang justru mutlak diperlukan adalah pemahaman mengenai kelima sila yang terdapat di dalamnya, karena menjadi dasar pengamalan dan perwujudan dalam kehidupan sehari hari.

Pemerintah sekarang dibawah kepeminpinan Presiden Joko Widodo telah mengamati adanya fenomena penghayatan dan pengamalan Pancasila sangat rendah indikasi itu muncul ketika berbagai masalah yang muncul berbau sara yang dilatarbelakangi kepentingan politik . Oleh karena itu semua koponen bangsa harus bahu membahu untuk mengkondisikan Pancasila sebagai dasar persatuan NKRI.

Tinggalkan Komentar...