Selasa, Mei 21, 2024
BerandaDenpasarLomba Nyurat Lontar Antar SMP Swasta, Grissa Jayanti I

Lomba Nyurat Lontar Antar SMP Swasta, Grissa Jayanti I

DENPASAR, balipuspanews.com – Dalam rangka Bulan Bahasa ke V Kota Denpasar, dilakukan berbagai kegiatan untuk memuliakan Bahasa dan Sastra Bali agar tetap eksis dan memuliakannya dengan berbagai perlombaan, salah satunya Nyurat Lontar.

Dari puluhan peserta yang ikut, SMP PGRI 1 Denpasar (Grissa) keluar sebagai pemenang (Jayanti) mengalahkan lawan-lawannya. Kegiatan berlangsung Kamis (2/2/23) di gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang.

Dibawah pembina ekstra kurikuler Nyurat Lontar I Gede Saya Getas, S.Pd, Si Agung Diah Ratni Handari mampu menyumbangkan prestasi bagi sekolah tercintanya. Bahkan Gandari mampu meraih juara satu pada ajang tahunan ini yaitu Bulan Bahasa Bali se-Kota Denpasar.

Sekolah yang memiliki segudang prestasi ini secara konsisten terus melejit torehkan prestasi di bidang sastra. Sebelum Si Agung Diah Ratni Handari, siswa atas nama I Made Yoga Subawa Yasa juga meraih juara 1 lomba pidarta Bali yang diselenggarakan Forum Intelektual Muda Hindu Indonesia tingkat se-Bali.

Kepiawaian Diah, menulis aksara Bali diatas daun lontar ini, tidak terlepas dari semangat, disiplin dan kerja kerasnya belajar dengan penuh kesabaran ditengah gempuran teknologi serba canggih.

BACA :  Koster Beri Kuliah Umum di Universitas Warmadewa

Baginya adalah sebuah tantangan mengekspresikan karya seni tulisan aksara Bali dengan alat tradisional berupa pengrupak (alat menulis), daun rontal dan biji kemiri sebagai penghitam.

“Saya senang bisa menulis aksara Bali diatas daun lontar, unik dan langka,” ucapnya nyeletuk dengan rasa malu.

Baginya adalah suatu kehormatan, dapat meneruskan jejak kakak kelasnya, yang sebelumnya selalu menjuarai ajang lomba di bidang sastra baik nyurat aksara, mapidarta, mesatua, Bali Simbar dan cabang lainnya baik tingkat kota maupun provinsi.

“Saya sangat bahagia dan merasa kaget, tak menyangka saya memperoleh juara dengan keterbatasan pengalaman dan waktu latihan yang sangat singkat ini, astungkara,” ucap Diah siswi kelas IX tersebut.

Prestasi ini tidak terlepas pula dari semangat dan kekompakan pembina ekstra kurikuler yang dibina oleh I Gede Sweta Getas S.Pd., dan Ni Putu Utami Guniari, S.Ag, yang secara bersama membina dan memiliki satu pikiran dan satu tujuan yaitu mendidik, membina dan mencerdaskan siswa.

Sweta Getas, pria asal Karangasem, mengatakan, jika lomba-lomba yang berkaitan dengan sastra Bali konsisten digelar oleh berbagai kalangan, maka bahasa ibu ini tidak akan punah.

BACA :  Gus Par Mendaftar ke Demokrat, Suparta : Jadi Pemimpin Karangasem Harus "Bares"

Mengikuti perlombaan merupakan bagian dari kecintaan dan ajang untuk melestarikan seni dan budaya leluhur. Disamping juga memberikan ruang dan pengalaman bagi siswa/siswi untuk mengasah kemampuannya di bidang sastra.

“Bahasa, aksara dan sastra Bali wajib kita pelajari dan gunakan sebagai bahasa ibu dan akar budaya adiluhung, begitu pula bahasa Indonesia dan asing adalah bahasa nasional serta internasional yang harus dikuasai,” ungkap Sweta Getas.

Ditambahkan, ajang perlombaan juga tidak hanya semata meraih juara. Dibalik itu, juga terdapat nilai yang dapat dipetik untuk dijadikan melatih siswa disiplin, kerja keras, dan belajar dengan giat untuk meraih prestasi. Karena tanpa usaha mustahil prestasi bisa diraih.

Yang tidak kalah penting, lanjut Getas sapaan pria yang memiliki hobi seni tabuh ini mengasah mental dan menjadi jiwa petarung merupakan butuh proses yang lama dan perlu kesabaran ekstra dalam mencetak siswa/siswi berprestasi.

Tanpa diikutsertakan dalam ajang perlombaan maka keinginan untuk belajar dan mengasah kemampuan akan sedikit redup.

Disamping itu, dengan berprestasi dan memiliki skill merupakan bekal bagi peserta didik untuk ke jenjang selanjutnya maupun di masyarakat. Selain berguna bagi siswa, nantinya diharapkan mampu diterapkan di lingkungan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

BACA :  1500 Karateka Buleleng Ikut Ujian Kenaikan Tingkat

“Nandurin karang awak, ini yang selalu saya pegang yang memiliki nilai filosofi yang sangat mendalam dari kekawin Ida Pedanda Sidemen yang berarti kalau tidak memiliki sawah untuk ditanami, maka diri kita yang patut diisi dengan ilmu pengetahuan,” pungkas Getas yang juga peraih Juara II Pidarta Bahasa Bali tingkat Kota Denpasar pada ajang Bulan Bahasa Bali.

Penulis: Budiarta

Editor: Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -
TS Poll - Loading poll ...

Most Popular