Seniman lukis kaca Made Wijana dari Desa Nagasepaha, Buleleng.
Seniman lukis kaca Made Wijana dari Desa Nagasepaha, Buleleng.

DENPASAR TIMUR, balipuspanews.com- Aliran lukisan kaca Nagasepaha, pada awalnya ditemukan oleh sang maestro Jro Dalang Diah pada tahun 1927 dan terus diturunkan dari generasi ke generasi. Kini sebanyak 86 karya lukisan kaca ikut meriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41.

Pelukis kaca Made Wijana mengatakan, dirinya merupakan generasi ke-4 dari seni lukisan kaca ini. Dimana pelukis kaca ini lahir dari satu keluarga. Mulai dari kumpi, kakek, ayah, dan dirinya sendiri generasi keempat.

Dikatakan Wijana, pada awalnya penemuan melukis dengan media kaca dilakukan secara otodidak atau tanpa mengenyam pendidikan formal oleg tetuanya dulu.

Karya-karya lukisan kacanya sudah melanglang buana sampai keluar negeri salah satunya ke Perancis dengan tema lukisan “Nyepi”

Pameran demi pameran telah dirinya ikuti bahkan sampai ke luar Bali, dan di daerah Bali juga ia eksis mengikuti pemeran seperti di PKB ini.
” Pamera yang pernah saya diikuti di Jawa, Bentara Budaya, Buleleng Festival, Museum Buleleng, PKB, dan lain lain,” imbuh Wijana pria asal Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepaha, Kec. Byleleng, Kab. Buleleng, Jumat (21/62019).

Dari karya lukisan kaca yang dipamerkan, selain lukisannya sendiri, ada pula hasil lukisan mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari Undiksha, anak-anak sanggar Desa Nagasepaha, dan siswa SMK 1 Sukasada (SMIK).

Seiring perkembangan zaman
yang sudah modernisasi, seniman bermaksud menuangkan ide-ide baru yang dikemas melihat perkembangan dan pangsa pasar agar tidak monoton dan menarik minat masyarakat dengan menuangkan dengan ide pada realita kejadian yang terjadi dewasa ini.

“Perubahan pada lukisan kaca dilakukan oleh Bapak kami, seperti memasukkan unsur komik. Namun tidak merubah cikal bakalnya, yang terdiri dari figur pengkolaborasian dengan mengangkat tema sosial, kemacetan, pertanian. Kalau dulu masih berpatokan pakem pewayangan,” terang putra dari Ketut Santosa.

Melukis di media kaca lainnya juga ia coba lakukan dengan melukis pada toples, gelas, dan kaca genteng.

Sejak awal memang seni melukis di media kaca dilakukan secara otodidak oleh tetuanya. Namun seiring berkembangnya pendidikan formal yang ada, kini dengan ketertarikannya mendalami dunia seni rupa, Wijana melanjutkan mengenyam pendidikan akademis di Undiksha dengan mengambil jurusan Seni Rupa.

Dilihat dari tingkat kesulitannya memang sulit. Karena melukis di media kaca, media tidak pada umumnya dan melukis dengan permukaan yang terbalik saat melukis namun hasilnya didepan seperti lukisan biasa tetao ia lakoni demi melanjutkan seni lukis kaca yang diwariskan sejak 92 tahun silam.

Mengenai kisaran harga lukisan kaca ini dibandrol dari harga 5 -20 juta. Yang paling laku adalah lukisan kaca untuk hari dan tanggal lahir yang berisi gambar pewayangan yang berukuran kecil dengan harga Rp 500 ribu.

“Saya berharap untuk terus bisa menjaga warisan atau aset Nagasepaha. Kalau tidak dilanjutkan akan hilang,” ungkapnya.

Disebut Wijana apresia juga banyak dari kalangan seni lukis.Karena lebih menghargai potensi lukisan kaca yang langka ini. Langkah antisipasi juga Wijana lakukan dengan mencetak regenerasi mulai dari anak SD dilingkungan Desa Nagasepaha. (bud/bpn/tim).