Made Suarta, Seniman Patung Asal Apuan, Konsisten dengan Karya Topeng Magisnya Sebagai Penopang Hidup

Bali memang menjadi gudangnya seni. Tapi, tidak semua seniman Bali memiliki talenta magis yang bisa melahirkan karya bertuah menjadi pralingga atau topeng yang disakralkan. Diantara seniman langka itu salah satunya adalah I Made Suarta. Seperti apa?

NENGAH BUDIARTA, Gianyar

Siang itu Wilayah Banjar Apuan, Singapadu, Sukawati, Gianyar, Bali baru habis diguyur hujan deras. Nampak jalanan masih becek saat balipuspanews.com berkunjung ke rumah seniman patung asal Apuan I Made Suarta, Kamis (21/01/2021).

Saat tiba di rumah seniman yang terkenal dengan talenta magisnya itu, Made Suarta terlihat sedang memegang gelas. Dengan ramah, seniman yang akrab dipanggil Mangku Suarta itu mengajak media ini menuju bale daje, tempat yang dipakainya untuk membuat patung.

Memakai celana biru pendek tanpa baju, sembari ngobrol, Suarta terlihat minum obat. Selanjutnya, pria kelahiran 1968 ini sesekali menancapkan pahatnya di kayu yang akan dipakai untuk membuat topeng-topeng Sidakarya.

Dalam pengerjaan topeng tersebut, Mangku Pasek didampingi sang istri yang sesekali membantunya untuk mengambilkan keperluan alat atau kebutuhan proses pemahatan tapel.

Kendati usia semakin uzur, tatapan mata Suarta tampak fokus pada ujung pahat dan kayu yang ingin dibentuk meski sudah dibantu dengan kaca mata.

Untuk menghasilkan sebuah tapel Sidakarya, kata Suarta, membutuhkan waktu minimal lima hari untuk proses pemahatan sampai halus, namun belum termasuk finishing atau proses pewarnaan. Kalau sampai jadi hingga finish, sebuah tapel Sidakarya bisa memakan waktu hingga sepuluh hari.

Ia mengaku, kacintaannya terhadap karya tapel, hanya suka mengerjakan karya tapel untuk sungsungan (sakral) seperti Sidakarya, Barong Landung, Ratu Gede Mecaling.

“ Tiang khusus mengerjakan tapel sungsungan, selain memang suka, kebanggaan tersendiri menjadi dorongan ia mendalami spesialis tapel sungsungan tersebut,” akunya.

Selai itu, untuk tapel yang lain juga dapat ia kerjakan seperti tapel bondres, tapel paksi dan naga untuk layang-layang, kereb rangda tak jarang juga orang memesan kepada dirinya.

Alasan dirinya berani mengerjakan tapel sungsungan, Mangku Suarta mengaku sudah menjalani proses pabersihan, sebuah ritual agar bisa mengerjakan benda sakral.

Atas spesialisnya itu, tak jarang seniman-seniman ternama di Pulau Dewata ini khusus datang memesan tapel Sidakarya goresan Mangku Suarta. Bahkan orang nomor dua di Bali yaitu Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau akrab disapa Cok Ace juga membeli karyanya sebuah tapel Sidakarya.

“ Ada satu topeng Sidakarya tiang di beli oleh Cok Ace. Saya merasa bangga dan senang karya saya diambil beliau, meski tidak secara langsung datang kesini. Namun tapel yang tiang jual kepada salah seorang penjual tapel mengatakan bahwa tapelnya laku terjual dibeli Cok Ace,” bebernya menurut pengakuan temannya.

Selain kebanggaan karena yang mengambil adalah tokoh Puri Ubud yang juga menjabat sebagai wakilnya Gubernur Bali, Suarta mengaku bukan sekadar material yang ia pandang menjadi tujuan utama. Menurutnya, karya yang dihasilkan dirawat apalagi disungsung adalah menjadi kepuasan tersendiri.

Untuk sebuah tapel Sidakarya sebenarnya ia sulit menentukan harga karyanya. Untuk masalah harga, ia serahkan kepada anaknya yang juga membatu ayahnya khusus dibagian pewarnaan.

“ Masalah harga tiang sulit menentukan, seniman sing bisa ngajinin. Kalau barang disukai silahkan menentukan harga sendiri,” ucapnya polos.

Diantara tapel topeng, tapel Sidakarya yang harganya paling tinggi, selain karena proses memakan waktu lama, pembuatannya juga sulit sehingga diberikan harga yang berbeda dengan tapel yang lain.

Untuk harga, biasanya anaknya memberikan harga mulai dai 1 juta hingga 3 juta untuk sebuah tapel, tergantung pesanan yang diinginkan pembeli.

Dalam kondisi pandemi ini, ia mengaku merasakan dampak dari wabah global yang berdampak sepinya pesanan yang datang. Baisanya saat normal, pesanan silih berganti berdatangan baik langsung ke rumah maupun dari toko dan art shop yang menanti karya-karya seorang Mangku Suarta.

“ Kalau tidak ada covid ini, musim layangan bisa 25 buah tapel paksi laku terjual. Anak-anak bergantian datang memesan paksi untuk dilombakan. Ada karya saya sudah sampai dapet juara,” ungkapnya dengan mimik gembira dan bangga.

Untuk penghasilan dari pahatan, Suarta mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dan tiga buah hatinya, karenanya ia mengaku hidup matinya akan tetap ia lakoni untuk di tapel.

Editor : Oka Suryawan