Wabup Sanjaya bersama Panitia makedas-kedas dan Ketua KOMBATAN Bali.
Wabup Sanjaya bersama Panitia makedas-kedas dan Ketua KOMBATAN Bali.
sewa motor matic murah dibali

TABANAN, balipuspanews.com- Wakil Bupati Tabanan mengapresiasi
aksi makedas-kedas yang dilakukan media online Balipuspanews bertepatan dengan hari jadinya yang ketiga. Begitu mulianya kegiatan ini dilakukan nanti bertempat di Pura Batukaru, bertepatan dengan menjelang upacara besar “Pangurip Bumi”.

Wakil Bupati Tabanan Dr. I komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., kegiatan makedas-kedas ini misinya jelas, serta merta membantu pemerintah dalam rangka memerangi sampah, khususnya sampah plastik.

“Kami sambut baik, aksi ini bagus sekali, siapapun boleh memberi bantuan berupa kegiatan sosial, baik relawan, komunitas, LSM, asal memiliki misi positif tinggal disinergikan dengan pemerintah,” jelasnya, Senin (1/7) ketika ditemui di Kantor Bupati Tabanan.

Aksi makedas-kedas yang akan dilaksanakan bulan November nanti, merupakan kegiatan yang mendukung program Pemerintah kabupaten Tabanan terhadap Peraturan Bupati (Perbup) dan Pemerintah Provinsi dalam hal ini Pergub no. 97, dan melaksanakan visi Pemerintah provinsi Bali Nangun Sat Kertih Loka Bali.

“Judulnya bagus, menjalankan perbup dan pergub, dalam aksi makedas-kedas ada unsur wana kertih, yaitu menjaga alam atau hutan harus dijaga kelestarian. Danu kertih, mata air dilestarikan untuk kesejahteraan umat,” jelas Sanjaya yang juga Ketua DPC PDIP Tabanan.

Lebih jauh Sanjaya mengungkapkan
Bahwa pura Batukaru merupakan Huluning Tabanan, giat ini merupakan sebagai bentuk bhakti kepada tuhan, lingkungan, dan sesama manusia, sesuai konsep Tri Hita Karana.

“Membuat kegiatan harus bermanfaat, berbuat sekecil apapun namun memiliki makna yang besar,” jelas pria asal Desa Dauh Pala, Tabanan ini.

Sampah, lanjut Sanjaya, plastik diera mileniel apa relepan dengan Tri Hita Karana?. Memang dulu sampah yang ada dilingkungan berasal dari dedaunan. Persoalan sekarang sampah kebanyakan anorganik. Dengan datangnya teknologi, datang membawa plastik. Sedangkan plastik butuh waktu ratusan tahun baru bisa dicerna, untuk itu perlu dikurangi penggunaannya.

“Sampah jangan dibuang sembarangan, resakling, bukan dibuang,” bebernya.

Inilah perlu peranan LSM, komunitas, masalah lingkungan bukan tanggungjawab pemerintah saja. Ini merupakan tanggungjawab bersama, pemerintah bersedia memfasilitasi.

Sanjaya menuturkan karya “pangurip Bumi nanti dilaksanakan pada tanggal (2/2/2020).

Upacara Pangurip Bumi artinya mengurip berarti menghidupkan dan bumi berarti bumi atau jagat. Pangurip bumi berarti menghidupkan kembali bumi ini.

“Karya pangurip bumi ini berdasarkan nunas baos, berbeda dengan upacara panca wali krama, ekadasa ludra yang bersifat reguler, yang sudah terjadwal. Kalau ini berbeda, ketika nunas baos menggunakan masa,” ungkapnya.

Untuk diketahui, upacara pangurip bumi pernah dilaksanakan pada tahun 1958, 1966,1993, 2002, dan yang akan datang tahun 2020.

Kegiatan makedas kedas nanti
sebagai hubungan relevansi, pelestarian alam atau lingkungan dengan upacara yadnya pengurip bumi.

Kegiatan ini menyongsong yadnya terbesar di Bumi Lumbung Beras.

“Walaupun kegiatannya kecil, namun ada makna dan manfaatnya,” tegasnya.

Selain itu, Wabup Sanjaya, ingin kegiatan ini tidak serta merta seremony belaka. Pihaknya bersedia melibatkan banyak pihak untuk menyukseskan gelar makedas-kedas di Pura Batukaru nanti.

“Kami bisa instruksikan Desa atau Sekolah, agar ikut bersama membersihkan lingkungan pura, alam maupun bahaya sampah plastik,” tandasnya. (bud/bpn/tim).

Comments are closed.