Akademisi Universitas Hindu Indonesia, I Kadek Satria, S.Ag M.pd.H,
Akademisi Universitas Hindu Indonesia, I Kadek Satria, S.Ag M.pd.H,

DENPASAR, balipuspanews.com – Hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung adalah penghujung wuku sebelum pergantian kalender Bali.

Hari yang datang setiap 210 hari ini juga diperingati sebagai hari Saraswati, hari turunnya Ilmu Pengetahuan.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia, I Kadek Satria, S.Ag M.pd.H, kepada balipuspanews.com, Jumat (3/7/2020) menyebut, ditinjau dari segi Etimologi, Saraswati terdiri dari kata Saras dan Wati, Saras berarti sesuatu yang mengalir, ucapan atau kecap (bahasa Bali), dan Wati berarti yang memiliki atau mempunyai sifat.

Jadi, Saraswati berarti sesuatu yang mempunyai sifat mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Ilmu yang memberikan keutamaan pada setiap mahluk di dunia ini. Ilmu yang dikatakan didalam Nitisastra sebagai salah satu penyebab bersinarnya seorang individu secara keilmuan.

Selain itu, Ilmu yang juga menjadi teman yang paling setia dalam kehidupan manusia karena ilmulah yang selalu menjadi ‘pengada’ eksistesi manusia di dunia ini.

Mengenai simbol-simbol dari Dewi Saraswati, Satria memaknai Pertama, adalah Seorang wanita cantik, ini melambangkan sebagai kenyataan di dunia ini yaitu setiap orang terutama kaum prianya ingin menyunting wanita cantik, demikian pula halnya dengan ilmu pengetahuan, setiap orang ingin mendapatkan dan menguasainya karena ilmu pengetahuan itu luhur, mulia dan menarik.

Bagi orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan tampil menarik, serta mempunyai wajah yang bercahaya.

Berikutnya adalah keberadaan beliau Dewi Saraswati bertangan empat dengan masing-masing memegang benda suci sebagai berikut: Genitri, melambangkan ilmu pengetahuan itu tidak habis-habisnya untuk dipelajari, dan tidak berakhir sepanjang umur. Seperti bentuknya, Genitri itu adalah rangkaian rantai yang yang tidak ada awal dan akhirnya. Demikianlah sifat ilmu pengetahuan itu bagi manusia, bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada awal dan tidak ada akhirnya untuk dipelajari.

Ketiga Putaka / Keropak, adalah lambang Linggastana, dan juga merupakan simbol dari media pengetahuan sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan.

Dalam konteks simbol ini, ilmu pengetahuan hendaknya diusahakan dengan membaca buku-buku atau lontar-lontar serta kitab keagamaan.

Terkandung juga pengertian didalamnya bahwa seseorang hendaknya mencintai buku-buku dalam arti yang seluas-luasnya.

Keempat Wina atau sejenis alat musik tradisional, ini melambangkan bagi umat Hindu sebagai pengabdi dan pengamal ilmu pengetahuan akan memperluas hati dan jiwa pengabdian, karena ilmu pengetahuan itu mempengaruhi rasa estetikanya atau rasa keindahan.

Wina adalah simbol seni budaya, bahwa ilmu pengetahuan khususnya Weda merupakan sumber inspirasi keindahan dan budaya manusia.

Eksistensi seni budaya dalam kehidupan manusia adalah suatu yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada peradaban manusia yang tidak mengenal seni budaya.

Ini pula sering memberikan kesimpulan kepada seseorang bahwa Ilmu itu juga memberikan warna keindahan pada pembelajarannya.

Bunga Teratai, melambangkan ilmu pengetahuan maha suci dan menarik serta senantiasa memancarkan sinar suci, pelita sanubari umat manusia. Bunga teratai di Bali disebut dengan bunga Tunjung, atau dalam bahasa Sansekerta disebut dengan Padma, mempunyai fungsi sebagai stana atau linggih Hyang Widhi, karena itu para Dewa sering dilukiskan duduk diatas bunga teratai.

Tempat duduk atau stana Hyang Widhi di Bali disebut dengan Padmasana, yang artinya tempat duduk yang berbentuk bunga Padma. Dalam gambar atau lukisan Dewi Saraswati, juga terdapat atau terlukis beberapa binatang seperti : Burung Merak, yang melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu memberi wibawa dan keagungan bagi pemiliki dan pengabdinya, simbol dari kemegahan duniawi yang bisa diperoleh apabila ilmu pengetahuan itu dikuasai. Selain itu juga simbol Ego.

Seorang yang memiliki pengetahuan yang sedikit terkadang Ego. Keberadaan Dewi Saraswati yang dibawahi oleh Merak bahwa Kesucian dan keluhuran Ilmu pengetahuan itu mampu mengatasi Ego itu sendiri sehingga menjadi rendah hati seperti ilmu padi.

Selanjutnya adalah Angsa, ini sebagai lambang dari kesucian. Demikian juga disamping ilmu pengetahuan itu suci, juga kepada pemiliknya akan memberi kebijaksanaan seperti sifat-sifat angsa itu.

“Mari kita melaksanakan Hari Saraswati dengan pemahaman yang baik,” kata Kadek Satria.

Selain itu, dalam landasan satra-sastra disebutkan dalam Sarasamuscaya sloka 402, sebagai berikut : Ika tang punggung, yatika klabakenante, makasadha nang kaprajnan, prajna ngaraning tutur tan pahingan, si wruh taring watu tattwa, apan sang pandita, wenang sira mangentasakan wwang len tuwi, sangkeng bhawarnawa, makashadanang perahu, winangun dening kaprajnanira, kunang ikang apunggung, tan hanang kaprajnanan iriya, awaknya tuwi, tan kantas denya.

Yang artinya : Kebodohan itulah yang harus engkau lenyapkan dengan kebijaksanaan, prajna adalah kesadaran yang tiada hingganya, pengetahuan tentang hakekat barang sesuatu, karena sang pandita, sanggup menyeberangkan orang lain dari samudra kelahiran dengan perahu yang diperbuat daripada kepandaiannya akan tetapi si bodoh tidak ada kepandaiannya, dirinya sendiri tidak diseberangkan olehnya. ( Pudja, 1985/1986 : 218 ).

Lantas bagaiman perayaan Saraswati yang bertepatan dengan kondisi saat pandemi Covid-19?

Satria mengatakan, perayaan Saraswati tetap dijalankan. Namun, saat situasi seperti sekarang ini, perayaan harus mengikuti protokol kesehatan. Dimana upacara bisa dilaksanakan hanya beberapa orang saja untuk mencegah kerumunan agar upacara perayaan Saraswati tidak menjadi momok penyebaran Covid-19.

Tentu untuk siswa atau mahasiswa tetap memperingati Saraswati dengan melaksanakan upacara di rumah masing-masing.

Meski pelaksanaannya dari rumah, tentu tidak mengurangi esensi atau makna sebuah upacara perayaan Saraswati itu sendiri.

PENULIS : Nengah Budiarta

EDITOR : Oka Suryawan

Facebook Comments