Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Mulai dari tulisan ini diterbitkan, selanjutnya saya akan berupaya menulis tentang Tattwa yang ke depannya diterbitkan setiap Kamis secara rutin oleh Bali Puspa News. Sebagai awal, judul ini sekiranya tepat sebagai awal untuk kita menemukan makna Tattwa melalui susunan kata tulis ini.

Sebab kebanyakan dari kita belum mengetahui makna Tattwa yang sesungguhnya, dan dapat dipahami secara lebih sederhana. Kendatipun ada yang mengetahui, sekiranya masih dalam makna yang samar, sehingga penting bagi saya untuk menulis makna Tattwa agar kita memiliki bingkai pemikiran yang tepat.

Meskipun pemahaman saya yang terbatas untuk menjelaskan tentang makna Tattwa, tetapi sekiranya dapat memberikan makna awal berkenaan dengan Tattwa yang banyak disebutkan dalam teks-teks Jawa Kuno klasik yang bergenre Siwaisme.

Memberikan makna Tattwa juga penting untuk kita memasuki lebih dalam lagi tentang nilai-nilai spiritual dalam kasanah Tattwa Nusantara. Sebab banyak orang masih memiliki pandangan, bahwa Tattwa merujuk pada ranah filsafat ketuhanan yang sulit dan membingungkan.

Terlebih dalam paradigma umum bagi masyarakat Hindu di Bali, istilah Tattwa merujuk pada pengetahuan esoterik yang hanya dikhususkan bagi golongan dan kelompok tertentu. Bahkan ada anggapan yang menggelitik saya, bahwa belajar Tattwa dapat menimbulkan efek samping kegilaan atau gangguan jiwa.

Padahal tidak serta merta demikian ketika seseorang berkeinginan untuk mengetahui dan menyelami nilai spiritualitas dalam ceruk-ceruk pengetahuan Tattwa yang mendalam.

Ada banyak hal sesungguhnya dalam spirit Tattwa yang relevan dapat dikontekstualkan dalam kehidupan modern, sebab ajaran Tattwa adalah pengetahuan kebijaksanaan purba dalam memahami hakikat mendalam dari keberadaan ini sebagai “Yang Itu”. Itu dalam hal ini berhubungan dengan spirit dari keberadaan yang ada dibalik keragaman ini.

Dengan demikian, Tattwa sesungguhnya merujuk pada hakikat dari keberadaan ini sebagai Itu sesungguhnya. Sebagaimana Tattwa secara literal berasal dari kata Tat dan Twa. Tat dapat diartikan sebagai “itu” dan Twa merujuk pada arti “demikian”. Jadi Tattwa secara sederhana dapat diartikan sebagai “demikianlah yang Itu”.

Jadi kata Itu inilah yang memiliki makna mendalam berkenaan dengan hakikat dari semua keberadaan ini. Hakikat dari realitas yang ada adalah Itu sebagai yang absolut yang memberikan daya kehidupan bagi semuanya. Itu inilah “zat” yang paling halus, dan saya lebih sederhana menyebutnya dengan kesadaran murni universal yang ada dan menyusup pada semuanya ini. Jadi, Tattwa bukan saja merujuk pada makna filosofis dan ketuhanan tetapi merujuk pada prinsip mendasar dari hakikat keberadaan sebagai kesadaran murni yang melampaui semua batasan dan deskripsi dalam bentuk apapun.

Ia bisa juga disebut wilayah transenden dari sisi imanensi atas keberadaan ini, dan bagi kita orang Bali sangat latah menyebutnya dengan ranah Niskala yang merupakan inti terdalam dari dimensi Sekala.

Ketika kita mengartikan dan memaknai Tattwa sebagai inti atau hakikat dari kesadaran itu sendiri, maka sejatinya pengetahuan Tattwa adalah pengetahuan yang berhubungan dengan kesadaran. Bagaimana menumbuhkembangkan kesadaran itu, dan berupaya untuk menjadikan kesadaran sebagai laku diri dalam menjalani kehidupan. Untuk itu, Tattwa adalah penting diketahui oleh semua manusia, terlebih bagi kita yang merindukan pembebasan diri melalui seni laku berkesadaran. Dengan demikian, sejatinya Tattwa mengajarkan kita sesungguhnya untuk menemukan kesadaran itu pada Itu yang ada di dalam diri.

Oleh karenanya dalam Tattwa, kesadaran sebagai Itu berada dalam diri, dan menumbuhkannya maka sesering mungkin kita hendaknya membuka pintu hati dan berdialog dengan kesajatian diri sebagai kesadaran itu.

Kebanyakan dari kita mencari yang Itu sebagai kesadaran lebih kepada hal-hal yang di luar diri kita. Kecendrungan kita memang demikian, sebab kita masih belum dapat memahami makna Tattwa sebagai kesadaran yang hendaknya dimunculkan dari dalam diri. Olehnya, unsur sadar dalam diri merupakan peranti penting diketengahkan oleh pengarang Tattwa dalam setiap teks-teks yang bergenre Tattwa.

Sebab unsur sadar merupakan prinsip dari laku diri yang hendaknya dijalankan untuk kita mengetahui hakikat diri yang sebenarnya. Jadi Tattwa bukanlah sesuatu yang membingungkan, dan ditemukan makna yang sesungguhnya dalam rangkaian kata ini bahwa Tattwa sebagai yang Itu sebagai kesadaran yang ada dalam diri.

Selanjutnya “Twa” diartikan sebagai “demikian”, yakni bermakna penegasan bagi kita untuk segera menumbuhkan kesadaran itu. Sebab dengan kesadaran, maka nikmat dari boga Paramasunya akan kita rengkuh.

Sejatinya hidup adalah berkesadaran, sebab dengan kesadaran kita bisa mengadakan sunya atau jalan sunyi sebagai kebahagiaan yang hakiki. Jalan sunyi, bukan berarti jalan senyap dan hampa, tetapi jalan sunya yang dipenuhi nikmat boga Paramasunya sebagai kebahagaiaan yang tidak kembali duka. Dengan demikian, maka Tattwa adalah jalan berkesadaran untuk kita sampai pada puncak perjalanan kehidupan, yakni bersatu dengan “Itu” sebagai Paramasunya, sehingga tidak kembali pada kedukaan.
Ong Rahayu

Advertisement
Loading...