Selasa, Juli 16, 2024
BerandaNasionalJakartaMaksimalkan Kepedulian Masyarakat untuk Cegah Kekerasan pada Anak

Maksimalkan Kepedulian Masyarakat untuk Cegah Kekerasan pada Anak

JAKARTA, balipuspanews.com – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Jagakarsa, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu yang berujung pada tewasnya 4 anak merupakan tamparan keras bagi semua pihak. Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa keterlibatan dan kepedulian masyarakat sekitar menjadi penting dalam mencegah KDRT, khususnya kepada anak.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kawiyan menegaskan, masyarakat harus terlibat aktif dalam mengatasi masalah KDRT dan kekerasan terhadap anak di lingkungan terdekatnya. Minimal, masyarakat sekitar yang mengetahui dapat melaporkan kepada perangkat hukum terdekat.

“Kasus di Jagakarsa yang berawal dari KDRT yang akhirnya menewaskan 4 anak ini sebuah tragedi yang tidak boleh terulang lagi,” ujar Kawiyan dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema ‘Perlindungan Anak dalam Ruang Digital’, Rabu (19/6/2024).

Keterlibatan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus kekerasan. Menurut Kawiyan, masih banyak kasus KDRT yang tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Kawiyan menekankan lingkungan permukiman perlu membuat semacam konsep kebersamaan agar bisa lebih peka dan peduli terhadap potensi KDRT terhadap anak, misalnya membuat arisan tetangga atau melakukan kerja bakti.

Pencegahan melalui keterlibatan masyarakat sekitar menjadi penting, lantaran dalam dua tahun terakhir, berdasarkan data KPAI, kasus kekerasan terhadap anak menunjukkan tren yang memprihatinkan. Terlebih sebagian besar kekerasan pada anak, pelakunya adalah orang-orang terdekat.

Pada 2022 tercatat sebanyak 4.683 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah tersebut, 2.133 kasus didominasi oleh kekerasan seksual. Sementara itu, 190 kasus masuk dalam kategori pemenuhan hak anak.

“Pada tahun 2023, kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 3.877 kasus, didominasi kasus kekerasan seksual sebanyak 1.866 kasus. Di mana 262 kasus kekerasan terhadap anak yang pelakunya adalah orang tua dalam hal ini ayah dan 153 kasus dilakukan oleh ibu kandung,” katanya.

BACA :  Ribuan Barang Bukti Tindak Pidana Dimusnahkan

Tak hanya secara langsung, Kawiyan juga menyebut bahwa kasus kekerasan terhadap anak juga kerap terjadi di ranah digital. Menurutnya, peran keluarga sebagai orang terdekat perlu dimaksimalkan dalam mencegah potensi bahaya dari dunia digital.

“Anak-anak saat ini begitu mudah masuk ke dunia digital yang menawarkan banyak kerawanan,” ujarnya.

Kawiyan mencontohkan kasus kekerasan seksual di Tangerang Selatan yang dilakukan oleh ibu kandung terhadap putranya. Menurutnya, KPAI tidak hanya menunjukkan pentingnya perlindungan anak dalam ruang digital tapi juga melakukan penanganan yang tepat.

“KPAI menjenguk korban dan memberikan pelayanan pemulihan sesuai SOP dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) untuk mencegah trauma dan perilaku menyimpang dari korban,” jelasnya.

Kawiyan menambahkan, tantangan dalam ruang digital dan kasus kekerasan harus dihadapi dengan serius. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam memberikan perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak.

“Pemerintah harus menyadari bahwa ruang digital memberi manfaat besar namun juga dampak negatif. Oleh karena itu, undang-undang dan peraturan perlindungan anak dalam sistem penyelenggaraan elektronik harus menjamin keamanan dan perlindungan anak,” tegasnya.

Kawiyan juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan terhadap teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI). Pemerintah harus memiliki kontrol penuh terhadap konten digital.

“Jika ada indikasi konten yang tidak pantas, harus segera diblokir untuk mencegah anak menjadi korban,” ujarnya.

Selain itu sosialisasi literasi digital, peningkatan sumber daya manusia di bidang psikologi dan sosial, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam pencegahan kekerasan adalah langkah-langkah penting yang harus segera diambil.

BACA :  Sambut Karya Purnama Kasa, Aktivitas Pendakian Lewat Jalur Pura Pengubengan Ditutup Sementara

Keluarga dan Sekolah Kunci Lindungi Anak

Dalam forum sama, Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Astrid Gonzaga Dionisio mengatakan, tren kasus kekerasan terhadap anak selama ini melibatkan orang-orang terdekatnya sebagai pelaku. Karenanya, menciptakan lingkungan yang aman dan protektif menjadi langkah penting yang perlu dilakukan oleh orang tua, guru, hingga masyarakat sekitar.

“Di sini pentingnya lingkungan yang protektif dan aman, yakni dari orang-orang yang terdekat dengan anak seperti keluarga, orang tua, guru, dan juga teman-temannya,” ujar Astrid.

Astrid juga menekankan pentingnya pemahaman dan tindakan nyata dalam mencegah kekerasan terhadap anak di dunia digital melalui berbagai strategi dan pendekatan yang melibatkan semua pihak.

“Pertama kita bisa mengacu pada undang-undang yang dibuat oleh pemerintah, khususnya yang relevan saat ini adalah UU tentang kekerasan seksual. Undang-undang ini memberikan kerangka hukum yang penting untuk melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi di dunia digital,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ada satu tempat di negara manapun yang tidak terjadi kekerasan terhadap anak. Perbedaannya, setiap negara memiliki sistem pelaporan dan penanganan yang komprehensif.

“Sistem pelaporan dan penanganan yang tuntas itulah yang perlu kita adopsi,” saran Astrid.

Di Indonesia, sistem pelaporan sudah diejawantahkan dalam wujud hotline SAPA 129 dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di lebih dari 300 kabupaten dan kota.

Namun khusus UPTD PPA, berdasarkan monitoring dan evaluasi pihaknya bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (disingkat Kementerian PPN/Bappenas), Astrid menyebut masih ada pekerjaan rumah dari segi kualitas pelayanan dan aksesibilitas.

BACA :  Polda Bali Terjunkan 1.088 Personel Dalam Rangka Operasi Patuh Agung 2024

“Ini menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari daerah hingga pusat,” jelas Astrid.

Di samping itu, dalam upaya mencegah kekerasan terhadap anak, UNICEF juga menginisiasi kampanye #JagaBareng yang mengajak semua pihak untuk saling peduli dan menjaga anak-anak, baik secara langsung maupun melalui perilaku digital.

“Kampanye ini melibatkan unsur anak-anak, orang tua, dan guru. Fokusnya adalah pada basic parenting, yaitu bagaimana kita memeriksa keadaan anak dan mendengarkan apa yang mereka katakan,” terang Astrid.

Sementara itu, untuk menghadapi tantangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), UNICEF mengkampanyekan hastag #ThinkBeforeYouClick.

“Dengan AI, konten dapat dieksploitasi lebih mudah. Oleh karena itu, memastikan platform yang aman agar tidak dieksploitasi orang adalah langkah yang harus diambil,” terang Astrid.

Kampanye-kampanye yang dilakukan UNICEF ini dilakukan karena Indonesia memiliki tingkat privasi internet yang sangat tinggi, dan anak-anak menjadi salah satu pengguna terbesar. Astrid menegaskan bahwa semua pihak harus melakukan pencegahan lebih dini.

“Jangan menunggu ada kasus baru bertindak. Prinsip-prinsip yang bisa diadopsi dari berbagai negara sangat penting, selain pelayanan yang memadai,” ujarnya.

Tak hanya itu, Astrid juga mengimbau para orang tua untuk melakukan pencegahan dengan melakukan perlindungan ketika anak mengakses internet, seperti menggunakan password atau fitur kontrol orang tua pada gadget, demi menghindari tersebarnya data maupun informasi yang bersifat privasi.

“Mengarahkan anak ke platform media yang ramah anak juga merupakan langkah penting,” tegas Astrid.

Penulis : Hardianto
Editor : Oka Suryawan

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular