Pelaku pengancaman dengan menggunakan senjata tajam saat diamankan Polres Buleleng
Pelaku pengancaman dengan menggunakan senjata tajam saat diamankan Polres Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Nasib apes dialami GSU, 44 pria asal Banjar Dinas Kajanan, Desa Penglatan, Buleleng.

Sebab akibat perbuatannya saat mengancam Gede Swastika, 28 yang merupakan salah seorang pegawai yang bekerja di salah satu finance di Singaraja, kini pelaku harus terjerat pasal berlapis untuk membayar perbuatannya tersebut

Kasat Reskrim Polres Buleleng AKP Vicky Tri Haryanto menjelaskan terungkapnya kasus pengancaman tersebut bermula adanya laporan dari korban yang beralamat di Desa Menyali Kecamatan Sawan.

Korban yang kesehariannya bekerja di salah satu Finance di kota Singaraja itu berniat untuk menagih cicilan motor terhadap pelaku, akan tetapi saat korban berniat menagih cicilan pelaku seolah tidak terima, marah marah dan mengancam dengan senjata tajam berupa parang.

Sehingga atas laporan tersebut, Tim opsnal unit 1 Pidum Satreskrim Polres Buleleng langsung meluncur ke tempat kejadian untuk mengamankan pelaku.

“Korban salah satu petugas dealer yang bertugas menagih cicilan motor, namun saat korban mendatangi tersangka, namun tersangka tidak terima kemudian marah-marah, kemudian masuk kerumah mengambil senjata tajam berupa parang, sehingga korban berlari sampai meninggalkan sepeda motornya,” ungkapnya, Senin (29/6/2020).

Lanjut Vicky menambahkan tersangka juga berprofesi sebagai depkoletor sekaligus mantan anggota ormas ternama di Bali, selain itu dari informasi yang terkumpul tersangka juga sangat sering meresahkan warga disekitar tempatnya tinggal.

Tanpa berlama lama Tim Opsnal melakukan penggeledahan terhadap rumah tersangka dan didapatkan 2 buah tombak, 1 pucuk senapan angin, 1 senjata pistol gas jenis organ, 3 buah pedang panjang dan 2 buah Sangkur yang semuanya diakui milik tersangka tanpa dilengkapi izin.

“Adapun tersangka merupakan mantan salah satu anggota ormas besar yang ada di bali, bahkan yang bersangkutan juga pernah jadi Debcoletor. Dari pengakuan senjata senjata yang dimiliki tersangka semua untuk koleksi, alasannya untuk menjaga diri, namun dari undang-undang RI 12 tahun 91 kalau tidak memiliki izin sesuai dengan profesinya bisa dijerat secara hukum,” tambahnya.

Sementara itu, tersangka GSU mengaku jika semua senjata yang dimiliki sudah dikoleksi sekitar 4 tahun yang lalu ketika masih aktif sebagai anggota ormas. Bahkan dirinya sempat mengakui bahwa setiap bulan tidak pernah menunggak dalam pembayaran cicilan motor.

“Saya tidak tahu kalau yang datang itu tukang tagih, kejadian yang langsung terjadi begitu saja, saya juga minta maaf,” pungkasnya.

Setelah melakukan perbuatannya tersebut pelaku diduga melanggar pasal 368 ayat 1 Kitab Undang Hukum Pidana tentang pengancaman dengan pidana penjara paling lama 9 tahun dan pasal 2 ayat 1 undang-undang darurat RI nomor 12 tahun 1951 mengenai kepemilikan senjata tajam tanpa izin dengan pidana penjara paling lama 10 tahun.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Putu Artayasa