Suasana pelatihan jurnalistik di Kantor Balipuspanews.com
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Denpasar, balipuspanews.com – Mantan Kepala LKBN Antara Biro NTB sekaligus mantan Ketua AJI Denpasar, Pande Komang Yanes Setat, memberi pelatihan jurnalistik di Kantor Balipuspanews.com sebagai ajang edukasi meningkatkan ‘skill’ para jurnalisnya.

Yanes Setat pada kesempatan ini berbagi pengalaman tentang perjalanan panjang menjadi jurnalis pada zaman dulu, sampai pernah didatangi oknum aparat dan diancam dengan pistol. Meski demikian, dirinya menyatakan tetap kukuh pada sikap, karena berita yang dibuatnya benar-benar atas dasar fakta dan ada narasumber yang kompeten di dalamnya.

Menyikapi hal ini, pria kelahiran Desa Nongan, Rendang, Karangasem ini menegaskan, hal yang patut dilakukan seorang jurnalis agar tidak dianggap menyebarkan berita ‘hoax’ atau tidak benar.

“Apabila berita itu berpotensi menyinggung wilayah privasi seseorang, perusahaan atau institusi, maka harus melakukan cek dan ricek lebih dulu. Dan memang sebaiknya semua berita yang dibikin jurnalis, lebih dulu atas dasar cek dan ricek,” ujar Yanes Setat di Denpasar, Jumat (12/1).

Dia melanjutkan, tidak kalah penting adalah ‘cover box side’ atau asas keberimbangan. Meski belakangan seringkali ada adu kecepatan dalam menayangkan berita antarmedia, namun tetap tidak boleh mengabaikan asas keberimbangan ini.

“Selain itu, karena jurnalis bersenjatakan kata-kata, maka harus benar-benar menguasai cara menyusun kata yang mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam menyusun kata, hendaknya tidak menggunakan opini pribadi,” ujar pria yang menjadi konsultan media ini.

Yanes Setat melanjutkan, hal lain yang patut dipahami jurnalis ialah bahwa ragam bahasa itu terdiri atas bahasa ilmiah, hukum, sastra dan bahsa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki langgam tersendiri, misalnya tidak perlu mencantumkan titik atau koma pada gelar seseorang. Ini dikarenakan dalam karya jurnalistik, orang ingin membaca secara tepat dan langsung mengerti maksudnya.

“Jika ada titik, itu artinya harus terhenti dulu. Atau ada jeda. Jadi dalam ragam bahasa jurnalistik, titik digunakan pada penghentian terakhir,” kata Yanes Setat, dalam kegiatan pelatihan jurnalistik di hadapan keluarga besar Balipuspanews.com ini.

Kegiatan ini dihadiri Pimpinan Redaksi Balipuspanews.com I Putu Artayasa, dan segenap staf serta jurnalis Balipuspanews.com yang datang dari berbagai daerah di Bali.

Pelatihan jurnalistik sengaja diadakan, untuk mengedukasi dan meningkatkan kemampuan para jurnalis di Balipuspanews.com. Apalagi media Balipuspanews.com saat ini, merupakan satu-satunya media online di Bali yang telah diverifikasi dan terdaftar di Dewan Pers, sehingga memiliki misi ke depan untuk terus meningkatkan kualitas SDM-nya.

Tinggalkan Komentar...