Manusia Bali yang Terhimpit

577
Salah satu kreativitas seni oang Bali (dok)

“Tak ada lagi tarian dewa

di puncak meru ini….

Mari pulang,” katanya tiba-tiba

ketika senja mulai turun

 

Lalu kami pulang dengan rasa kecewa

Sambil berharap menemukan jejak

para dewa di antara di antara

sorak-sorai orang-orang menyaksikan

matahari senja sambil menari telanjang

 

(K. Landras Syaelendra dalam I Gusti Ngurah Bagus 2004)  

 

Di tempat kelahiran saya, di sebuah bilangan Kota Denpasar, persoalan ruang dan kehidupan menjadi cerita yang menyesakkan. Meski kehidupan akan terus berubah, namun sejarah kehidupan manusia dengan tanahnya di desa saya begitu pilu. Kondisi ini jamak terjadi di daerah-daerah pertumbuhan di Kota Denpasar, namun bukan berarti menjadi wajar.

Kondisi ini awal momen awal ketersingkiran masyarakat Denpasat di tanahnya sendiri. Meski mereka masih mempunyai banjar, rentetan tradisi dan ritual, dan jaringan kekerabatan, perlahan namun pasti pijakan hidup mereka telah hilang dari kepemilikannya.

Tanah-tanah yang dulu mempunyai sejarah penting tumbuh kembang manusia itu kini menjadi jauh dari bayangan. Selain sudah menjadi taman beton dan barisan Ruko (rumah toko), hak milik tersebut kini telah lenyap dari genggaman mereka.

Yang tersisa hanya kisah-kisah nostalgis yang menyebutkan bahwa tanah itu pernah menjadi miliknya. Namun kini situasinya sudah jauh berubah. Tuntutan ekonomi dan sikap konsumtif mendesak masyarakat di daerah-daerah urban untuk menjual tanah mereka. Situasi banjar atau desa didesak oleh pendatang dan berbagai usaha hadir di Denpasar. Tanah-tanah sudah berubah kepemilikan.

Kalaupun masih, akan dikontrakkan kepada para migran yang dengan gigih berjuang hidup tanpa kenal lelah. Tentu saja ini tidak terjadi di Denpasar dan Bali pada umumnya, namun di daerah-daerah urban yang menghadapi transformasi sosial yang tak terelakkan.

Situasi perumahan yang membelah sawah-sawah masyarakat terjadi dimana-mana, termasuk di lokasi dimana sekarang saya tinggal. Kawasan hijau diterabas oleh para pengembang yang mengincar tanah-tanah “warisan” yang menunggu waktu untuk dijual pemiliknya. Tidaklah mengherankan jika para “masyarakat asli” yang mempunyai tanah di lokasi tersebut tanpa henti terus meratapi keputusannya untuk menjual tanah. Saban sore, saat pulang dari menjemput anak beraktifitas, saya sering memperhatikan para tetua desa berusia lanjut duduk di leneng (tempat duduk di pinggir jalan) sambil menatap hamparan persawahan yang tersisa dan deretan bangunan yang berdiri megah.

Para tetua banjar dan desa ini hanya bisa mengisahkan masa kejayaan dan harmoni masa lalu yang tidak terjadi lagi kini. Sementara itu, perubahan berada di depan mata dan butuh sikap cepat untuk menghadapinya.

Ruang-ruang sosial-budaya plus ritual yang lambat laun terasa semakin memberatkan di tengah hilangnya akses ekonomi yang memadai. Tidak heran jika saya mendengar seloroh beberapa warga di desa, “Kenken maturan jak mebraya men sing ngelah pipis,” ungkapnya ketus. (Bagaimana mau melakukan ritual dan bermasyarakat jika tidak mempunyai uang?).

Maka tidaklah mengejutkan jika menjelang pelaksanaan ritual-ritual besar di Bali, semua bersiap dengan simpanan uang yang memadai. Lagi-lagi, kaum perempuan menjadi ujung tombok keseluruhan akivitas ini.

 

Terhimpit

Tanah yang saya tempati saat ini adalah wilayah dari Subak (sistem pengairan tradisional) yang masih bertahan di desa ini. Para tetua desa yang masih setia untuk bertani tekun membersihkan aliran air di selokan jalan yang dipenuhi sampah. Pada pagi hari dan malam hari, mereka menaikkan sampah-sampah di pinggiran jalan hot mik yang membelah sawah. Sampah itu berasal dari para penghuni perumahan yang membeli tanah mereka.

Di tengah sawah terdapat Pura Subak yang menandakan wilayah tersebut memiliki para pengempon (warga) yang menyandarkan dirinya pada pertanian. Sekaa (perkumpulan) Subak tersebut hingga kini masih ada dan rutin melakukan piodalan (persembahyangan rutin).

Tak bisa dipungkiri bahwa kepercayaan terhadap Dewi Sri yang berada di sawah sebagai sumber penghidupan tidak akan pernah hilang. Namun pada kenyataannya, sawah sudah mulai menyempit dan eksistensi Subak hanya pada ritual, dan sudah mulai menyusut pada aktivitasnya.

Para petani tersisa di wilayah perumahan yang saya tempati tidak patah semangat. Mereka tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Selain menanam padi, banyak yang menanam tumbuhan lain seperti kangkung, buah papaya, semangka, ubi, dan yang lainnya. Ada juga petani penyakap (penggarap) yang menyewa tanah di lokasi tersebut untuk ditanami padi atau berbagai jenis sayuran.

Aktivitas pertanian di daerah pinggiran Kota Denpasar ini masih berlangsung meski dengan lamban. Inovasi yang dilakukan oleh kawasan Subak desa yang bersebelahan juga menyegarkan, yaitu dengan menggunakan kawasannya sebagai lokasi ekowisata dan ruang publik bagi masyarakat.

Kisah-kisah manusia Bali yang terhimpit transformasi tidak terhitung jumlahnya terutama yang berada di kawasan-kawasan urban sentral industry pariwisata. Salah satunya adalah kisah dari I Ketut Pugeg yang tidak kalah memilukan.

Ia berjalan menepi saat mobil mewah tepat berada dibelakangnya. Si pengendara mobil membuka kaca pintu. Seorang lelaki bule berkacamata hitam menengok dan memandangi Pugeg dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Tidak ada senyum dari si bule, begitu juga dengan Pugeg. Hanya sepintas, mata mereka saling pandang, kemudian mobil melaju meninggalkan Pugeg.

Badan Pugeg yang mulai ringkih kembali berjalan menyusuri Jalan Petitenget, Kelurahan Kerobokan, Kabupaten Badung. Hanya diselimuti kaos putih polos kusam, menyelipkan sebuah arit di punggungnya, Pugeg berhenti di sebuah lahan penuh rumbut.

Dumun nike tanah tiang pak, mangkin sampun beli bule. Mangkin kanggeang tiang ngerereh maman sampi driki” ujarnya sambil menunjuk bangunan villa mewah di sebelah lahan penuh rumput (Dulu itu tanah saya, tapi sekarang sudah dibeli oleh bule. Sekarang saya hanya di tanah ini mencari rumpun untuk makan sapi).

Kini, yang tersisa hanyalah tanahnya ini. Itupun sudah dicari-cari makelar dan dibujuk beberapa saudaranya untuk dijual saja. Memang tanah Pugeg berada di tepi Jalan Petitenget, sementara di sisi kanan dan kirinya sudah terbangun villa-villa mewah. Pugeg terjepit.

Pernah ia berniat menjual tanah itu, tapi setalah itu tidurnya tidak tenang dan selalu bermimpi buruk. Dalam mimpinya, leluhur Pugeg sangat marah kalau ia sampai menjual tanah warisan ini. Oleh karena itulah hingga saat ini ia bertekad sampai akhir hayatnya tidak akan pernah menjual sisa terakhir tanah warisan leluhurnya ini.

Wilayah Kerobokan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, kini memang menjadi primadona kalangan ekspatriat dan kelas menengah Indonesia untuk berinvestasi. Berjejer-jejer villa megah dibangun hingga ke bibir-bibir pantai. Selain villa, sarana hiburan seperti café, diskotik serta ruko-ruko, salon, spa, pusat perbelanjaan, butik-butik dan restoran berbagai jenis makanan tanpa jenuh selalu hadir silih berganti di kawasan Kerobokan. Maka tidaklah heran jika sampai pagi buta, geliat kehidupan di Kerobokan tidak pernah terhenti.

Semua sarana kebutuhan para ekspatriat telah terpenuhi di Kerobokan. Hanya dengan 10 menit bersepeda motor, mereka bisa menikmati dentum musik para DJ (disk jokie) di  diskotik-diskotik di wilayah Kuta.

Siapa yang membayangkan daerah Kerobokan akan seramai seperti sekarang? Seperti juga siapa yang menyangka Kuta akan menjadi “kampung internasional”. Saat tahun 1986, jalan-jalan di Kuta dan Kerobokan seperti dicatat Setia (1986; Sujaya, 2002) seperti kubangan kerbau.

Malam hari gelap gulita tanpa adanya penerangan. Pantai Kuta, Seminyak, dan Loloan Yeh Poh, tiga pantai di kawasan Kuta-Kerobokan sangat kotor. Perahu-perahu nelayan berjejer menunggu melaut. Kuta kemudian lebih dulu berkembang berkat ide dari Dokter Made Mandara yang membenahi rumahnya untuk dijadikan penginapan temannya seorang bule. Langkahnya kemudian diikuti warga lainnya yang menyulap sebagian rumahnya untuk penginapan murah. Deburan ombak pantai Kuta untuk berselancar menjadi daya tarik tersendiri para para turis anak muda.

Maka, mulailah industri pariwisata menerjang Kuta. Seolah tanpa henti, pembangunan infrastruktur pariwisata melalap setiap jengkal tanah di seluruh wilayah Kuta. Saat pariwisata Kuta jenuh, yang menjadi incaran adalah daerah-daerah di sekitarnya yang masih “perawan” dari tangan-tangan investasi. Dan wilayah Kerobokan menjadi sasaran berikutnya pasca 1998, ketika kelompok kelas menengah kaya mencari lahan baru yang aman berinvestasi.

Petani-petani Desa Kerobokan menjadi gagap, seolah tak percaya ketika para tukang kapling tanah membujuk mereka menjual tanah dengan harga yang menggiurkan ketika itu.

Tak kuat menahan bayangan rupiah yang melimpah, tanah leluhur di Kerobokan perlahan-lahan namun pasti ludes terjual. Meski desa pakraman melarang warganya menjual tanah, banyak cara yang dilakukan untuk mensiasatinya. Salah satunya adalah meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) krama desa pakraman, mengawini gadis Bali atau “kerjasama” dengan krama desa pakraman untuk berusaha (Kompas, 22 Februari 2008).

Sungguh banyak gejolak yang dialami manusia Bali di tengah kondisi ruang-ruang yang semakin menghimpit akibat terjangan modernitas dan globalisasi. Ruang-ruang ekspresi semakin sempit tertelan laju kapitalisme yang diangkut oleh rezim pariwisata. Bius ini merasuki pola pikir dan perilaku manusia Bali.

Ekspansinya pun meluas dengan merambah ruang-ruang hidup manusia Bali, dari mulai kawasan pura-pura hingga ke tebing-tebing. Tidak tanggung-tanggung menimbun teluk pun dilakukan memenuhi ambisi kapitalisme tersebut. Rencana reklamasi Teluk Benoa memaparkan ancaman terhadap ruang-ruang hidup manusia Bali tengah terancam.

Seiring rongrongan kuasa investasi terhadap Bali yang tak pernah habisnya, jejak warisan kolonial bernama ekotisme tidak pernah luntur. Konstruksi eksotis tentang manusia Bali dalam bingkai pariwisata budaya inilah yang mengakar kuat dalam kehidupan orang Bali hingga kini. Para kelas menengah sangat berperan penting dalam memproduksi pengetahuan tentang esensi kebudayaan Bali dengan manusianya yang eksotik.

Kelahiran kelompok-kelompok kelas menengah inilah yang memompa kesadaran palsu tentang pariwisata budaya yang menjadi beban masyarakat desa dimana sentral perubahan berlangsung.

Para kelas menengah yang memimpikan “keaslian kebudayaan Bali” ini mengkonstruksi berbagai wacana tentang kebertahanan budaya Bali menghadapi perubahan sosial yang deras. Berbagai kerikil tajam yang dianggap mengganggu pariwisata disingkirkan. Pariwisata menjadi dewa yang (dianggap) bisa menolong kehidupan orang Bali keseluruhan. Nordholt (2010: 100-102) dengan tajam mengungkapkan:

Orang Bali sangat berhasrat mengekspor otentisitas-otentisitas yang baru diciptakan kepemimpinan kelas menengah baru tampaknya sangat mampu mendefinisikan bumbu-bumbu pokok dan nilai-nilai inti kebudayaan Bali. Tetapi konsep-konsep esensialis yang mengekspresikan ambisi hegemonik semacam Ajeg Bali bermasalah.

Konsep ini didasarkan pada model pascakolonial yang mengacu kepada masyarakat yang tertutup dan homogeny. Oleh karena itu, konsep tersebut tidak merangkul paham perubahan dan agensi. Prof. Ngurah Bagus mendorong cendekiawan Bali untuk menghadapi dunia dengan keterbukaan pikiran yang kritis, dan bukan mengandalkan sikap yang statis dan berwawasan ke dalam.

Salah satu keterbukaan pikiran yang diharapkan oleh Prof. Ngurah Bagus adalah membaca dan memahami beraneka konflik yang akan terjadi. Konflik-konflik di tengah perubahan sosial Bali seperti sudah ditengarai oleh Ngurah Bagus (2011) tak akan terelakkan. Salah satu cara untuk tetap eling dan merefleksikan diri pada sejarah adalah belajar dari “bawah”, dari masyarakat biasa yang “dikalahkan” dalam jaringan kekuasaan yang tanpa sadar kita menjadi salah satu kaki tangannya. Laku reflektif menjadi sangat penting untuk mengingatkan diri pada posisi keilmuan (pemihakan) yang berdampak pada produksi pengetahuan yang kita lakukan.

 

I Ngurah Suryawan, Antropolog dan menulis buku Mencari Bali yang Berubah (2018)

 

 

 

Loading...