Masalah Ekonomi Buat Kasus Perceraian di Buleleng Sentuh Angka 637 di Tahun 2021

Juru Bicara Pengadilan Negeri Singaraja, Wawan Edi Prastiyo
Juru Bicara Pengadilan Negeri Singaraja, Wawan Edi Prastiyo

BULELENG, balipuspanews.com – Kasus perceraian di Buleleng pada tahun 2021 sepertinya cukup mendominasi selama pandemi Covid-19. Terbukti menurut data yang didapat dari Pengadilan Negeri (PN) Singaraja tercatat dari 719 gugatan perkara perdata ada 637 perkara perceraian pasutri (pasangan suami-istri).

Sementara itu 82 diantaranya ada perkara obyek sengketa tanah, wanprestasi, perbuatan melawan hukum, perlawanan, harta bersama, dan lainnya.

Juru Bicara sekaligus Humas PN Singaraja, Wawan Edi Prastiyo menyebutkan jika jumlah perkara perceraian pada tahun 2021 masih cenderung mengalami penurunan dibanding tahun 2020, sebab jika dilihat angka tersebut mengalami cukup penurunan sekitar 10 persen dibandingkan tahun 2020 dengan jumlah 707 perkara.

Kendati demikian perkara perceraian di Buleleng sebagian besar dipicu oleh masalah ekonomi. Salah satunya yakni Pandemi Covid-19 ini telah membuat perekonomian lesu sehingga berujung kepada gugatan perceraian.

Baca Juga :  Pakai JKN, Semua Pelayanan di Rumah Sakit Berjalan Lancar Tanpa Biaya

“Saya kira salah satunya masalah ekonomi yang menyebabkan masalah secara terus menerus hingga akhirnya memutuskan berpisah,” jelasnya saat dikonfirmasi, Selasa (2/2/2022).

Disamping perkara perdata Wawan juga mengatakan untuk perkara pidana di tahun 2021 ada sebanyak 213 perkara yang disidangkan di PN Singaraja. Perkara pidana yang menonjol pada tahun 2021 di Buleleng adalah perkara pencurian yang mencapai 56 perkara.

Sisanya, perkara narkotika sebanyak 49 perkara, perjudian sebanyak 14 perkara, pembunuhan sebanyak 9 perkara, kekerasan dalam rumah tangga 4 perkara, dan lainnya.

Sedangkan khusus perkara pidana yang disidangkan di PN Singaraja yang cukup menonjol pada tahun 2021 lalu di antaranya, kasus pembunuhan dalam lingkup keluarga yang dilakukan oleh anak terhadap bapaknya, kasus pembunuhan saudara kandung, hingga pembunuhan janda di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, hingga kasus pemalsuan surat putusan sidang yang dilakukan oknum pengacara.

Baca Juga :  Petani di Desa Bengkala Diajak Menanam Jagung Sorghum

Penulis : Nyoman Darma 

Editor : Oka Suryawan