Lima pendatang asal Banyuwangi diamankan di kantor desa Pengembangan
Lima pendatang asal Banyuwangi diamankan di kantor desa Pengembangan

NEGARA, balipuspanews.com – Ketatnya pemeriksaan di Gilimanuk, membuat pendatang berusaha mencari jalur tikus untuk masuk Bali. Seperti yang dilakukan lima orang warga Banyuwangi.

Namun usaha mereka masuk Bali dengan menumpang perahu dan sandar di kolam labuh Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Negara, Rabu (3/6) gagal,

Kepergoknya lima orang warga Banyuwangi itu berawal dari kecurigaan warga yang melihat ada perahu fiber memuat sepeda motor bersandar di kolam labuh PPN Pengambengan sekitar pukul 10.30 wira.

Karena diketahui mereka yang berada diatas perahu bukan warga desa Pengambengan, wrga kemudian melapor ke Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang sedang melakukan pengawasan.

Oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa, kelima orang pendatang yakni Suwondo,(45, asal Desa Piringan, Kecamatan Belingbing, Rubai, 54, Abdul holik, 32, Rohimin, 28, M. Ali Imron, 27, warga yang sama-sama asal Dusun Pecemengan, Desa Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selain mengamankan warga Banyuwangi tersebut, pihak kepolisian juga mengamankan sebuah sepeda motor Honda Scoopy nopol DK 3555 ZW dan dua orang penjeput.

Dari pengakuannya mereka, memilih masuk Bali mengunakan perahu dengan tujuan untuk mencari kerja lantaran jika melalui Pelabuhan Gilimanuk harus melengkapi persyaratan salah satunya rapid test non reaktif.

Sedangkan biaya pembuatan persyaratan dan rapid test di Banyuwangi dinilai cukup mahal.

Suwondo yang mengemudikan sampan fiber mengaku, dirinya memang yang mengangkut 4 orang dan 1 unit sepeda motor dari Banyuwangi dengan tujuan Pelabuhan Pengambengan.

“Mereka tidak membawa surat-surat lengkap,” ujar Suwondo, nelayan asal Desa Belimbingsari, Banyuwangi yang mengatarkan mereka. Karena tidak memiliki persyaratan maka mereka memilih menggunakan perahu yang dipinjam dari saudaranya.

Dua dari lima orang penumpangnya itu kembali ke Bali untuk bekerja dan mengambil sepeda motornya yang dititipkan di Desa Pengambengan.

Suwondo mengaku hanya mengantar mereka tanpa mendapat imbalan. Setelah mengantarkan ke Pengambengan, dia akan kembali lagi Banyuwangi.

Sementara, tiga orang penumpang sampan fiber diantaranya Rubai, Abdul Holik dan M. Ali Imron mengaku, kedatangannya ke Bali melalui pelabuhan tradisional tersebut untuk bekerja membuat perahu dirumah H. Sawir di Desa Pengambengan.

Sedangkan Rohimin hendak mengambil sepeda motor Honda Vario miliknya yang dititip di SPBU Desa Banyubiru, Kecamatan Negara pada 5 Mei lalu.

“Saya mau ambil motor. Dulu saya tinggal di SPBU karena mati dan saya pulang ke Jawa naik travel melalui Pelabuhan Gilimanuk,” ungkap Rohimin yang mengaku sebelumnya sopir kendaraan material di wilayah Jimbaran.

Sementara itu Kapolsek Kota Negara AKP Sugriwo membenarkan Bhabinkamtibmas telah mengamankan sebanyak 5 warga asal Banyuwangi. Kedatangannya tersebut tanpa melalui prosedur.

“Dari hasil interogasi kelima warga ini memang tidak ada indikasi untuk melakukan kejahatan. Murni pencari kerja. Mereka sengaja masuk melalui Blimbingsari, Banyuwangi menuju Pengambengan karena tidak punya persyaratan lengkap untuk masuk Bali. Maka dari itu karena tidak lengkap dengan surat keterangan hasil rapid tes negatif sehingga dikembalikan ke daerah asalnya,” ungkapnya.

Menurutnya, mereka masuk Bali melalui jalur laut menggunakan perahu tersebut karena biaya pembuatan rapid test di Banyuwangi cukup mahal.

Padahal, di Banyuwangi mulai Selasa (2/6) lalu hingga hari ini sudah memberikan layanan gratis rapid test pada warganya yang akan melakukan perjalanan namun mereka tidak mencarinya.

Selain pesisir Desa Pengambengan, pesisir lain seperti Desa Air Kuning, Yeh Kuning, Cupel, Banyubiru dan Candikusuma rawan digunakan untuk masuk Bali. Sehingga titik rawan tersebut diawasi ketat oleh personil TNI dan Polri, bersama warga dan satgas gotong royong.

Penulis/editor : Anom/Artayasa