Melihat Obyek Wisata Toya Devasya, Batur, Kintamani, Bangli, Bali Dimasa Kehidupan Tatanan Baru

Salah satu ikon pariwisata Bangli dan Bali yang merasakan dampak pandemi Covid -19 adalah obyek wisata air panas Toya Devasya. Saat kondisi normal, kunjungan wisatawan ke obyek wisata di tepi Danau Batur itu sehari tembus 800 orang. Lantas bagaimana kondisinya sekarang?

OKA SURYAWAN, Kintamani

Dua wastafel terpasang disisi timur pintu masuk Toya Devasya. Dilengkapi sabun dan hand sanitizer, pengunjung yang ingin merasakan sensasi kolam air panas Toya Devasya diwajibkan mencuci tangan di wastafel tersebut sebelum masuk ke dalam.

Usai cuci tangan, pengunjung juga diwajibkan melakukan cek suhu tubuh dengan alat termometer yang disediakan petugas jaga. Syarat tersebut adalah bagian dari penerapan protokol kesehatan (prokes) Covid -19 selain pemakaian masker dan slalu menjaga jarak saat berendam di kolam air panas yang arsitekturnya didominasi warna ungu itu.

General Manajer Toya Devasya, Dr.I Ketut Mardjana kepada balipuspanews.com, Sabtu (24/10/2020) menyebutkan, di Toya Devasya, pihaknya selalu menekankan pentingnya protocol kesehatan ( Prokes).

“ Bagaimana karyawan saya sudah memakai masker, menjaga jarak, disetiap sudut sudah ada wastafel untuk mencuci tangan, hingga setiap setengah jam kita mendengarkan himbauan penerapan prokes dari pengeras suara,” kata Ketut Mardjana.

Mantan direktur utama PT Pos Indonesia ini menyebutkan, selain hal itu, pihaknya juga memiliki panduan penerapan prokes, video prokes untuk memaksimalkan penerapan prokes untuk memutus mata rantai pandemic Covid -19.

“ Saya sering sampaikan kepada karyawan saya, kalau kamu ( karyawan- red) tidak menerapkan prokes, orang akan ragu- ragu untuk datang. Itu yang selalu saya jaga dan tekankan,” sebutnya.

Menurut pria yang punya pengalaman dibirokrat dan BUMN tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah untuk mempromosikan pemulihan pariwisata.

“ Pemerintah saat ini cukup gencar promosi. Lewat program Bali Bangkit, We Love Bali. Masyarakat yang memiliki kemampuan IT bisa berwisata dengan dibiayai pemerintah sambil mengupload obyek wisata yang dikunjungi,” kata bapak lima anak ini.

Lulusan doctor disalah satu universitas ternama di Australia ini menegaskan, dengan adannya agenda pemerintah untuk segera mendistribusikan vaksin Covid – 19, pihaknya optimis pariwisata akan mampu bangkit di tahun 2021 mendatang.

Ditanya soal kedatangan wisatawan asing, Ketut Marjana yang juga ketua PHRI Bangi ini angkat topi dengan kinerja kementrian luar negeri dan kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif yang terus melakukan promosi.

“ Deplu kita cukup aktif, kemenparekraf kita cukup gesit. Saya optimis. Dengan vaksin yang siap didistribusikan, kita tetap disiplin dengan tatanan kehidupan baru, maka pariwisata akan bangkit,” sebutnya yakin.

Ditanya kunjungan wisatawan ke Toya Devasya dimasa pandemi ini, Ketut Mardjana mengakui ada penurunan yang cukup signifikan. Menurutnya, saat kondisi normal, perhari yang datang bisa 800 orang. Sekarang bisa sekitar 200 orang.

“ Sekarang kita hanya mengandalkan wisatawan domestic,” sebutnya seraya menunjukan data hingga pukul 12.00 Wita ( Sabtu, 24 Oktober-red) pengunjung wisdom sudah ada 92 orang.

Dari pengamatan balipuspanews.com, Sabtu (24/10/2020) pengunjung yang datang ke obyek wisata air panas seluas 2, 5 hektar itu datang silih berganti. Dengan menyediakan 9 kolam, pengunjung bisa menikmati sensasi mandi sambil menikmati view gunung Abang dan Danau Batur itu.

Saat awal pandemic, Toya Devasya yang menjadi ikon pariwisata Bangli dan Bali itu sempat tutup untuk mengikuti himbauan pemerintah. Pun demikian, manajemen memanfaatkan hal itu dengan melakukan pemeliharaan atau perawatan fasilitas dan sarana penunjang wisata air tersebut. Saat ini, dari sekitar 220 karyawan, baru sekitar 90 orang yang bekerja.****