Pohon jeruk andalan mata pencaharian warga desa Abuan, Kintamani, Bangli
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Mengarap lahan kering dengan curah hujan kecil bukanlah pekerjaan gampang. Butuh banyak strategi kreatif agar lahan bisa menghasilkan hasil bumi yang produktif. Seperti apa?

Oka Suryawan, Kintamani
Bak penampungan air warna kuning banyak terlihat diareal kebun milik warga desa Abuan, Kintamani, Bangli. Bak tersebut untuk menampung stok air yang dibeli dari pengecer.  Desa yang dibagian selatan berbatasan dengan Desa Taro,Tegallalang, Gianyar itu tidak memiliki sumber air, sehingga hampir semua tanah pertanian adalah lahan kering.

Secara geografis desa Abuan dekat dengan Gunung Batur, salah satu gunung api yang masih aktif di Bali. Jaraknya tidak sampai sepuluh kilometer diutara desa. Mayoritas warga Desa Abuan hidup agraris dengan memanfaatkan hasil pertanian sebagai topangan hidup.

Salah satu tanaman yang menjadi andalan pencaharian warga adalah tanaman jeruk. Seperti yang digeluti Nyoman Punduk yang menggarap hektaran lahan kering. Lahan tersebut merupakan warisan dari orang tuanya, selain beberapa lokasi yang dikontrak dari warga setempat.

Untuk mengarap tanaman jeruk Kintamani, bapak dua anak itu mempekerjakan 15 orang karyawan. Mereka mengerjakan lahan pertanian mulai mengemburkan tanah, menanam jeruk, merawat pohon jeruk hingga mengawasi berbagai ancaman hama.

Kepada Balipuspanews.com, Nyoman Munduk yang ditemui Sabtu ( 7/10/2018) menyebutkan, tanaman jeruk baru bisa panen ketika berumur empat tahun  sejak ditanam.

“ Umumnya tiga setengah sampai empat tahun baru belajar berbuah. Setelah itu kita bisa panen setahun dua sampai tiga kali,” kata Nyoman Munduk.

Putra ketujuh dari almarhum Made Jarna dan Ni Wayan Sirit itu menambahkan, agar pohon jeruk bisa berbuah maksimal perlu perawatan yang telaten. Contohnya menyebarkan pupuk didekat batang pohon hingga setiap sebulan sekali pohon jeruk harus disemprot memakai obat  untuk mengantisipasi hama.

“ Selain membasmi hama juga untuk menyuburkan daun. Ini akan membantu pertumbuhan pohon berjalan normal,” ujarnya.

Belum cukup sampai disitu, pohon jeruk juga harus disiram sebulan dua kali dengan air untuk menyuburkan tanah. Cuma, untuk mendapatkan air, Munduk bersama warga desa lainnya harus membeli dari pengecer.

“Kita biasa membeli satu tangki air seharga Rp 140 ribu. Satu tangki pas untuk tiga bak yang ada diareal kebun,” sebut Munduk.

Selain ketergantungan membeli air, warga setempat umumnya akan membuat penampungan air hujan.

Syukurnya, demikian Munduk, pihak desa Abuan kini tengah mempersiapkan air swadaya dengan cara menaikan air dari sumber air yang lokasinya jauh dibawah permukaan tanah. Air tersebut nantinya akan ditampung dibak penampungan di dekat kebunya sebelum didistribusikan kepada warga.

“ Nanti kalau air swadaya sudah mengalir kita bisa menghemat biaya air untuk menyiram kebun,” harapnya.

Lantas dimana mendapatkan bibit jeruk? Pengusaha yang kedua anaknya telah menjadi Aparatur Sipil Negara ( ASN) itu mengaku membeli bibit dipasar Kintamani. Bibit juga didapatkan dari daerah Bondalem, Singaraja. Satu bibit harganya kisaran Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu. Harga tergantung besar kecilnya bibit.

Lantas kemana jeruk dijual saat panen? Hasil panen menurutnya, dijual kepada pengepul. Umumnya pembeli berasal dari Singaraja dan Bangli.

“ Kita menjualnya memakai system taksiran. Satu areal  berapa misalnya. Kalau cocok baru  dilepas. Jarang kita menjual eceran,”sebutnya tegas.

Seingatnya, sekali panen dirinya sempat menyentuh angka Rp 300 juta sampai 400 juta. Kebetulan harga jeruk saat itu agak mahal.

Disinggung sistem pengajian kepada anak buahnya, Munduk yang juga pengusaha batu padas itu menerapkan sistem dua mingguan. Satu karyawannya diberikan gaji harian kisaran Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu perhari.

“ Mereka bisa dibayar dua Minggu sekali. Kadang juga tergantung kebutuhan,” ujar Nyoman Munduk.

Untuk menyiasati pembayaran gaji karyawannya, Munduk mengaku tidak hanya mengandalkan dari hasil panen jeruk. Apalagi setahun, pohon jeruk hanya panen dua sampai tiga kali.

Untuk memenuhi kebutuhan harian, disela tanaman jeruk  juga ditanam berbagai jenis tanaman seperti cabai, tomat, labu siam, mentimun, kacang tanah hingga berbagai jenis sayuran yang umur panennya sekitar dua sampai tiga bulan.

“ Kita menanam tanaman tersebut tidak bersamaan. Sehingga setiap bulan slalu ada yang panen. Bahkan, untuk sayur kita bisa menjualnya setiap hari,” sebut Munduk.

Menjadi pengusaha jeruk bagi Nyoman Munduk dan warga desa Abuan bukanlah sebuah cita- cita. Bahkan, Munduk sendiri mengaku tidak pernah bercita- cita menjadi pengusaha.

“ Lingkungan petani menyebabkan kita tumbuh menyesuaikan diri dengan lingkungan,” ceritanya.

Salah satu tokoh desa Wayan Pengguk menyebutkan, hampir 99 persen warganya hidup berkebun.

“ Kita tidak ada lahan basah karena tidak ada air dihulu. Sehingga hampir semua lahan yang  ada di desa kita adalah lahan kering,” kata mantan Bendesa Adat Abuan itu.

Dengan hasil kebun, rata- rata warga desa Abuan sudah banyak mengenyam pendidikan disamping bisa menjalankan roda perekenomian untuk kebutuhan hidup sehari- hari. *****

 

 

Tinggalkan Komentar...