Nampak warga sedang melukat di pancoran beji gumuk kancil. Foto Oka Suryawan-bpn
Nampak warga sedang melukat di pancoran beji gumuk kancil. Foto Oka Suryawan-bpn

Salah satu peninggalan brahmana suci Rsi Makendya di areal Gunung Raung adalah sendang Gumuk Kancil yang memiliki mata air ” ajaib” untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Seperti apa?

OKA SURYAWAN, Banyuwangi

Mencari sendang gumuk kancil yang terletak di dusun Wonoasih, desa Bumiharjo, kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur tidaklah sulit. Jalan menuju beji yang sering dikunjungi oleh umat Hindu maupun non Hindu itu sudah diaspal. Pamedek bisa langsung parkir di lapangan dekat sendang.

Memasuki dusun Wonoasih harus masuk lewat desa Margomulyo yang ditandai gapura berwarna merah. Sepanjang jalan akan dihiasi pemandangan pohon albesia dan pohon pinus yang terdapat di kanan kiri jalan. Bahkan, pohon pinus sampai ke areal beji.

Di sendang yang luasnya kurang lebih setengah hektar itu, ada banyak pancoran yang punya tuah masing -masing. Pancoran paling bawah berjumlah delapan pancoran yang bisa digunakan untuk mandi. Selanjutnya ada sepuluh pancoran yang diyakini bisa menghilangkan berbagai penyakit. Setelah itu ada sebelas pancoran.

Bagi warga yang melukat, sudah disediakan kain berwarna kuning yang dipakai saat melukat. Warna kuning dalam keyakinan Hindu adalah lambang Dewa Mahadewa atau Dewa Siwa yang menghuni pascima atau barat dalam Panca Dewata.

I Ketut Wiryana pemangku beji Gumuk. Kancil kepada Balipuspanews.com Kamis (2/1/2020) menuturkan, ada berbagai jenis panglukatan yang punya fungsi tersendiri.

” Ada yang sakit, begitu habis melukat langsung sembuh seketika, ” kata Jero Mangku Wiryana.

Jero Mangku asal Penyaringan Jembrana itu menyebutkan, penataan beji Gumuk Kancil membutuhkan waktu yang cukup lama dan berliku. Mulai dari proses ijin di kementerian kehutanan sampai sosiallisasi kepada warga sekitarnya.

” Karena ada tuntunan dari Beliau ( yang bersthana di beji Gumuk Kancil-red) semua proses bisa dilalui,” sebutnya.

Bapak tiga anak, tiga cucu itu menambahkan, penataan areal beji dilakukan mulai tahun 2007 yang dilakukan secara bertahap.

Lantas adakah bantuan dari pemerintah di Bali? Mantan pegawai BPKP itu tersenyum ketus.

” Belum. Soal bantuan itu soal keikhlasan,” jawabnya singkat.

Ditanya soal banyaknya warga yang datang melukat, Jero Mangku Wiryana mengaku banyak yang datang dari Bali. Biasanya warga Bali banyak datang saat liburan.

” Saya tidak memasang reklame agar orang banyak yang datang. Ini soal keyakinan,” ujarnya.

Petilasan beji Gumuk Kancil di Banyuwangi adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan Rsi Markendya. Di Bali brahmana suci yang diyakini berumur ribuan tahun itu juga memiliki petilasan, seperti Pura Sabang Daat Puakan Taro, Pura Gunung Raung Tari, Pura Gunung Lebah Campuhan Ubud dan lainnya. ( bersambung)