Ketut Rati dan Ketut Wirata transmigran asal Bali yang sukses di Lampung. Foto Oka Suryawan Balipuspanews.com
sewa motor matic murah dibali

Provinsi Lampung yang terletak di pulau Sumatra adalah salah satu wilayah yang paling banyak menampung transmigran asal Bali selain Sulawesi Tenggara. Bagaimana kondisi mereka sekarang?

OKA SURYAWAN, Bandar Lampung

Beberapa orang berpakaian adat Bali nampak menyambut rombongan Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali di sekretariat PHDI Lampung Tengah, jalan Pentas Tari Bali – Rama Dewa kecamatan Seputih Raman, Selasa ( 19/11/2019). Mereka yang berpakaian adat Bali tersebut adalah transmigran asal Bali yang telah menetap di provinsi yang memiliki semboyan “ Sai Bumi Ruwa Jurai itu ”.

Asisten III Pemprov Bali Wayan Suarjana bersama Karo Humas dan Protokol  AA Sutha Diana memimpin langsung rombongan yang terdiri dari berbagai media cetak, online, TV dan pegawai di lingkungan kantor gubernur Bali.

Salah satu warga yang menyambut rombongan bernama I Ketut Kantun, asal Wongaye Gede, Panebel, Tabanan yang bertransmigrasi tahun 1971. Kepada Balipuspanews.com, pria berusia 64 tahun itu mengakui mengikuti jejak orang tuanya yang lebih awal transmigrasi ke Lampung tahun 1957.

Disinggung kesulitan yang pernah dirasakan saat memutuskan transmigrasi, Ketut Kantun mengaku tidak ada kesulitan.

“ Mungkin karena saya datang tahun 1971. Jalan sudah ada. Jadi transportasi sudah bisa jalan walau tidak maksimal,” sebutnya.

Untuk menyambung hidup keluarganya, bapak tiga anak dan enam cucu itu menggarap lahan pertanian dan perkebunan seluas tiga hektar. Dari hasil pertanian dan perkebunan, Kantun yang pensiunan guru SMA itu bisa menyekolahkan anak- anak dan cucunya.

Hal yang tidak jauh beda juga disampaikan transmigran lainnya asal Susut Bangli Ketut Rati. Menurutnya, dirinya datang ke Lampung tahun 1985. Berkat kerja kerasnya, Rati tergolong sukses menjadi transmigran karena bisa bertahan dan menyekolahkan putra putrinya.

“ Astungkara rejeki lancar,” sebutnya.

Ditanya ada beberapa transmigran yang memilih balik pulang ke Bali, Rati menyebutkan, itu mungkin masalah alasan personal. Baginya, mereka yang komit dan mau bekerja keras pasti sukses dan tidak mau pulang lagi.

Apa yang disampaikan Wirata juga diamini oleh transmigran asal Mengwi Badung, Ketut Wirata. Pria yang juga menjadi kepala sekolah di SD Negeri Restu Rahayu Lampung Timur itu mengaku sangat nyaman dan bersyukur bisa menyambung hidup di tanah Lampung. Selain mengelola pertanian dan kebun, Wirata mengaku mengelola tambak ikan patin seluas 1 hektar.

“ Ada 15 tambak yang saya kelola. Luasnya mencapai 1 hektar,” sebutnya lagi.

Disinggung toleransi dalam kehidupan masyarakat Lampung, Ketut Rati dan Ketut Wirata mengaku sangat bagus. Keduanya mencontohkan ketika berlangsung hari raya galungan, banyak warga non Hindu yang datang bersilahturahmi.

“ Kita sampai menyediakan waktu tiga hari karena saking banyaknya warga non Hindu yang datang. Ini sudah lama sudah terjalin. Kalau misalnya Idul Fitri, kita giliran yang berkunjung,” sebut Wirata.

Usai rombongan diterima di sekretariat PHDI Lampung Tengah, dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Jagat Kirana yang lokasinya masih satu areal dengan sekretariat PHDI Lampung Tengah.***