Usaha jajanan Bali milik I Ketut Sanglah di desa Petulu Ubud
Usaha jajanan Bali milik I Ketut Sanglah di desa Petulu Ubud

Hasil tidak pernah menghianati usaha. Jargon itu yang membuat I Ketut Sanglah, warga Petulu, Ubud, Gianyar semangat menekuni usaha jajanan khas Bali yang kini mulai dikenal dikalangan warga lokal hingga turis asing. Seperti spa?

OKA SURYAWAN, Ubud

Nama warung Buk Juni di desa Petulu, Ubud, Gianyar sangat populer di Ubud. Selain mencarinya sangat mudah, warung milik I Ketut Sanglah itu menjual brand jajanan khas Bali.

Dari jalan utama Ubud – Tegallalang, hanya masuk sekitar dua ratus meter ke barat di jalan desa Petulu akan bertemu langsung dengan Warung Buk Juni.

Jajanan yang dijual diwarung sederhana itu meliputi laklak, jaje lukis, jaje waluh, umbi ketela pohon, jaje jagung, bubuh sumsum, jaje injin, pisang lawe dan berbagai jajanan khas Bali lainnya.

“ Saya membangun usaha ini sejak tahun 2014. Ya, usaha kecil – kecilan,” kata Ketut Sanglah kepada balipuspanews.com, Senin (13/4/2020).

Setiap harinya kata Sanglah, warung jajan miliknya mulai buka jam 12.00 Wita. Sedangkan pagi harinya dirinya berjualan bubur beras khas Bali.

“ Jam berapa habis baru kita tutup,” kata pria ramah itu.

Alumnus SMU PGRI Gianyar 3 Ubud itu menyebutkan, para pembelinya kebanyakan warga lokal. Namun, ada juga warga asing karena lokasi warung ada dilingkungan kampung turis Ubud.

Lantas apakah melayani orderan? Sanglah menyebutkan tergantung pesanan. Tapi, tetapnya dirinya berjualan di depan rumahnya setiap hari. Orderan kata Sanglah, biasanya banyak datang dari pihak hotel dan villa yang dipakai jamuan breakfast. Selain itu oderan juga datang dari warga lokal yang melangsungkan upacara yadnya.

Sanglah menuturkan saban hari dirinya bersama Sang Istri selalu berjualan karena tidak ingin mengecewakan pelanggan.

“ Kecuali ada hal yang tak bisa ditinggal baru tidak jualan,” sebutnya.

Lantas berapa omzet perharinya? Sanglah tersenyum tipis. Menurutnya, hasil jualan jajan lokal tersebut cukup untuk menopang kehidupan keluarga kecilnya.

“ Soal hasil, ya cukup untuk makan,” katanya tanpa mau merinci pendapatan bersih yang diperolehnya setiap hari.

Bagi Sanglah, kewirausahaan yang ditekuni dengan sungguh – sungguh pasti akan memberikan hasil yang cukup.

“ Seperti pepatah, hasil tidak pernah menghianati usaha,” sebut Sanglah.

Untuk mengelola usaha jajanan Bali tersebut, Sanglah setiap harinya memang terbiasa bangun lebih awal untuk mengolah bahan. Awalnya, dirinya mengaku kesulitan. Namun setelah 6 tahun berjalan, hal itu sudah menjadi kebiasaan setiap hari. ****